Follow our news chanel

Seth Jafet Rumkorem, putra pejuang Merah Putih pentolan OPM

papua opm rumkorem
Seth Jafeth Rumkorem (1933-2010), The Proclamator of the Republic of West Papua on 1 July,1971”. Foto: NGRWP diambil dari https://www.rnz.co.nz/international/pacific-news
papua opm rumkorem
Seth Jafeth Rumkorem (1933-2010), The Proclamator of the Republic of West Papua on 1 July,1971” – Foto: NGRWP diambil dari https://www.rnz.co.nz/international/pacific-news

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi- Lukas Rumkorem adalah pejuang Merah Putih yang pertama kali mendirikan Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak pada Oktober 1949. Dia mendirikan partai tersebut bersama Korinus Krey.

Belakangan kedua pejuang Trikora ini memperoleh gelar kehormatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan diberi pangkat Major Tituler Angkatan Darat Lukas Rumkorem dan Major Tituler Angkatan Udara Korinus Krey.

Tak heran jika kemudian putra Lukas Rumkoren yang lahir di Biak pada 1933 mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan Bintara di Cimahi, Bandung. Pendidikan diperoleh dari bintara berpangkat Sersan Dua (Serda).

Selanjutnya Seth Jafet Rumkorem mengikuti penugasan di lapangan dalam operasi Dwikora di Kalimantan. Ia kembali lagi ke Cimahi dan masuk dalam  Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat (P3AD).

Salah seorang rekan Seth Rumkorem di P3 AD adalah mendiang Kolonel (Purn) Rumaseuw, ayah kandung Wakil Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) dr. Rosaline Irene Rumaseuw. Seandainya Zeth Jafet Rumkorem masih bertahan di korps TNI AD mungkin akan menjadi purnawirawan dengan pangkat terakhir Kolonel.

Dr. George Junus Aditjondro menulis dalam “Sejarah Organisasi Papua Merdeka” menyebutkan sebagai putera dari seorang pejuang Merah Putih, Seth Jafet Rumkorem tadinya menyambut kedatangan pemerintah dan tentara Indonesia dengan tangan terbuka.

 

Loading...
;

Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai penata buku di kantor KLM di Biak dan masuk TNI/AD yang memungkinkan ia mengikuti latihan kemiliteran di Cimahi, Jawa Barat, sebelum ditempatkan di Irian Jaya dengan pangkat Letnan Satu bidang intelligence di bawah pasukan Diponegoro

Namun karena kekesalannya, Lettu TNI AD Seth Jafet Rumkorem telah menyaksikan berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia menjelang Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Hal itu mendorong Seth Jafet Rumkorem yang saat itu masih berusia 33 tahun masuk ke hutan bersama para aktivis OPM dari Jayapura dan sekitarnya.

 

Saat itu tercatat ada seorang perwira polisi, Ipda Barnabas (Bas) Fairyo, alumni Akademi Kepolisian yang juga terlibat dalam perjuangan Papua Merdeka, setelah menyaksikan berbagai peristiwa kekerasan di Papua, khususnya di Jayapura.

Seth Jafet Rumkorem sudah membina hubungan baik dengan Herman Womsiwor, salah seorang pejuang Papua Merdeka di Negeri Belanda. Mr Herman Womsiwor pada usia 15 tahun ikut bergabung dengan Tentara Sekutu Amerika dalam Perang Pasifik.

Sydney Herald Morning (SHM) terbitan Australia pada 15 Agustus 1960 menulis, Herman Womsiwor diselundupkan bersama tentara kulit hitam Amerika dari Biak ke Los Angeles. ”The GI’s call him ‘Headhunter’,” tulis artikel SHM.

Kemudian dari Los Angeles, Herman Womsiwor ke Jepang dan bekerja di sana selama tujuh tahun sebagai penerjemah dari Angkatan Udara Amerika Serikat. Namun Womsiwor kembali ke Papua dan selanjutnya bermukim di Belanda memperjuangkan Papua Merdeka.

Seth Jafet Rumkorem pula yang membangun Markas Victoria atau biasa disingkat dengan Marvic di perbatasan Waris Papua dengan Papua New Guinea. Bahkan atas dorongan Herman Womsiwor dan kawan-kawan di Negeri Belanda agar Rumkorem membacakan teks proklamasi pada 1 Juli 1971.

Ia membacakan teks Proklamasi Republik Papua Barat sebagai presiden dengan pangkat Brigadir Jenderal (Brigjend) Seth Jafet Rumkorem.

Selama bergerilya di Papua Barat, Rumkorem mendapat dukungan dari Jenderal Yoweni dan kawan-kawan. Berkat rekan seperjuangan orang Tionghoa di Den Haag Belanda, Tan Sen Thai, ia mendapat suaka politik di Yunani.

Pada 1982 Seth Jafet Rumkorem ke Vanuatu menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada Ricard Joweni. Selanjutnya Rumkorem ke Yunani dan berimigrasi ke Belanda dan terus melobi perjuangan Papua Merdeka hingga akhirnya meninggal pada 2010 pada usia 66 tahun di Wageningen, Belanda.(*)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top