TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Rusia dicurigai bentuk pemerintah boneka di Ukraina, ini sikap Inggris

Inggris Papua
Ilustrasi, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Inggris mengancam akan memberi sanksi ekonomi yang berat terhadap Rusia jika membentuk rezim pemerintahan boneka di Ukraina. Rusia dituduh berusaha berusaha menempatkan seorang pemimpin pro-Rusia di sana.

“Akan ada konsekuensi yang sangat serius jika Rusia mengambil langkah ini untuk mencoba memasang rezim boneka di Ukraina,” kata Wakil Perdana Menteri Inggris Dominic Raab, kepada Sky News, dikutip dari Tempo.co senin, (24/1/2022).

Baca juga : Kanada sebut agresi Rusia terhadap Ukraina tak dapat diterima
Biden peringatkan Putin soal sengketa dengan Ukraina
Rusia dan Cina hari ini diagendakan pembicaraan sikap agresif AS dan NATO 

Tuduhan pemerintah boneka tersebut dilontarkan Inggris pada Sabtu malam. Petugas intelijen Rusia juga disebut telah melakukan kontak dengan sejumlah mantan politisi Ukraina sebagai bagian dari rencana invasi.

Kementerian Luar Negeri Rusia membantah tuduhan itu dengan menyebutnya sebagai disinformasi. Sebaliknya Rusia menuduh Inggris dan NATO meningkatkan ketegangan atas Ukraina.

Klaim Inggris itu berasal dari utusan Rusia dan Amerika Serikat gagal membuat terobosan dalan pembicaraan menyelesaikan krisis di Ukraina pada Jumat lalu. Meski demikian kedua pihak setuju untuk melanjutkan pembicaraan.

Penasihat Ukraina untuk kantor kepresidenan Mykhailo Podolyak, mengatakan tuduhan itu harus ditanggapi dengan serius. Tuduhan pemerintahan boneka pertama kali dilontarkan saat Rusia mengerahkan pasukannya di dekat perbatasan Ukraina. Namun Moskow bersikeras tidak berencana untuk menyerang.

Kementerian luar negeri Inggris mengatakan memiliki informasi bahwa pemerintah Rusia sedang mempertimbangkan mantan anggota parlemen Ukraina Yevhen Murayev sebagai calon potensial untuk memimpin Ukraina. Murayev dikenal sebagai pemimpin yang pro-Rusia.

Murayev juga membantah bahwa ia akan dijadikan pemimpin Ukraina oleh Rusia. “Saya sudah membaca di semua publikasi berita teori konspirasi, ini sama sekali tidak terbukti, sama sekali tidak berdasar,” kata Murayev kepada Reuters melalui panggilan video. Ia menambahkan bahwa sedang mempertimbangkan tindakan hukum untuk menanggapi berita tersebut.

Dia juga membantah memiliki kontak dengan petugas intelijen Rusia. Ia menyebut bersekutu dengan Kremlin adalah tindakan bodoh sebab dia berada di bawah sanksi Rusia pada 2018. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us