HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

“Sa Ada Di Sini” gugatan perempuan atas hegemoni laki-laki

Masyarakat adat Klaben. Mereka menolak kehadiran perusahaan sawit dan investor yang merusak tanah, hutan, dan kekayaan alamnya - Jubi/IST
“Sa Ada Di Sini” gugatan perempuan atas hegemoni laki-laki 1 i Papua
Diskusi bedah buku “Sa Ada di Sini” di Aula P3W Padang Bulan, Kota Jayapura, Rabu (4/12/2019). Dok/Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Masalah kekerasan bukan hal yang baru untuk didiskusikan. Hal itu sudah sering didengarkan, dan sudah banyak perempuan yang bergerak dalam persoalan itu.  Namun persoalan yang sama masih terus dibicarakan hingga saat ini. “Kok begitu langgeng dan sulit diurai.” Pertanyaan tersebut dilontarkan Pendeta DR. Yosina Wospakrik dalam acara bedah buku “Sa Ada di Sini” yang diselenggarakan oleh KPKC Sinode GKI di Tanah Papua, di Aula P3W Padang Bulan, Kota Jayapura, Papua, Rabu (4/12/2019).

Buku yang mengangkat temuan kelompok perempuan yang tergabung dalam Papuan Women’s Group (PWG) dalam kurun waktu 2013-2017, dan melibatkan 170 orang perempuan Papua, dan berkisah tentang perjuangan perempuan Papua menghadapi tindakan kekerasan di sekeliling kehidupannya. Pelakunya mulai oleh negara hingga domestik.

“Sa Ada Di Sini” gugatan perempuan atas hegemoni laki-laki 2 i Papua

Buku tersebut mengangkat temuan kelompok perempuan yang tergabung dalam Papuan Women’s Group (PWG) dalam kurun waktu 2013-2017, dan melibatkan 170 orang perempuan Papua, yang berkisah tentang perjuangan dirinya menghadapi tindakan kekerasan di sekeliling kehidupannya. Pelakunya mulai oleh negara hingga domestik.

“Buku  “Sa Ada Di Sini” sangat filosofi. Menyampaikan gugatan perempuan bahwa selama ini saya terabaikan,” kata Wospakrik. Hal itu menandakan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih perlu tempat untuk didiskusikan untuk dicarikan solusi, guna memutuskan mata rantai kekerasan yang dilakukan dalam rumah tangga, oleh negara juga gereja.

Seperti buku sebelumnya “STOP SUDAH” yang berisi testimoni, Buku setebal 136 halaman itu memberikan rekomendasi bagi pemerintah pusat, provinsi, Komnas Perempuan, masyarakat sipil dan gerakan perempuan, MRP, lembaga donor dan NGO, agar dapat menolong proses penghapusan kekerasan terhadap perempuan Papua.

Namun Dosen Antropologi Universitas Cenderawasih DR. Handro Lekito mengingatkan bahwa upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan tidak bisa mengabaikan proses sejarah kebudayaan di Papua yang begitu panjang. Ia membagi proses kebudayaan itu dalam dua periode yaitu sebelum gereja (misionaris) datang dan zaman pemerintahan.

Loading...
;

Situasi perempuan Papua di periode pertama, benar-benar terkungkung budaya patriarki dengan hegemoni dan dominasi laki-laki, menempatkan perempuan Papua pada kondisi terpuruk. Sedangkan pada periode kedua, kehadiran misionaris dan pemerintah, secara perlahan maupun radikal sudah mengubah cara pandang perlakuan terhadap perempuan. Sejumlah simbol budaya sudah tidak ada lagi, seperti rumah laki-laki, perempuan dan laki-laki dapat hidup bersama dalam satu rumah,perang dan poligami dilarang.

“Ini merupakan proses panjang dalam mengubah perspektif sebuah komunitas. Meskipun kita memahami nilai-nilai budaya yang dipegang serta diyakini sekian lama tidak mudah dihilangkan. Seperti yang diungkapkan pada buku berjudul Sa Ada Di Sini,” katanya.

“Sa Ada Di Sini” gugatan perempuan atas hegemoni laki-laki 3 i Papua
Masyarakat adat Klaben. Mereka menolak kehadiran perusahaan sawit dan investor yang merusak tanah, hutan, dan kekayaan alamnya – Jubi/IST

Di tempat yang sama, Gerda Numberi  dari pusat studi gender dan anak Universitas Cenderawasih menegaskan penulisan buku “Sa ada di Sini” merupakan langkah maju yang dilakukan perempuan. “Selama ini saya banyak membaca banyak tulisan,  jurnal,  tapi apa yang ada di buku  berdasarkan pengalaman. Judul yang pendek,  tapi menunjukkan ketegasan, bahwa ia ada di tengah masyarakat,” kata Gerda Numberi.

Menurunya isi buku yang menggunakan metodologi partisipasi aktif dirasakan sangat tepat, karena mendengarkan apa yang dipikirkan dan rasakan perempuan.

“Jika dibanding dengan metode kualitatif,  memang agak jauh. Tetapi lima temuan kunci patut menjadi perhatian semua pihak. Khususnya pada temuan keempat, yakni korban perempuan membutuhkan program khusus atau pendampingan agar dapat hidup bebas dari kekerasan menjadi poin penting dalam penyelesaian kasus kekerasan terhadap perempuan,” jelasnya.

Walau ia berpendapat bahwa dalam menghadapi kekerasan simbolik, perempuan tetap akan menghadapi masalah. Ia menyarankan agar dengan mengubah pola hidup, transformasi budaya, maka angka kekerasan terhadap perempuan dapat berkurang.

“Dengan cara memberikan stimulus  atau rangsangan model model perubahan yang baru, lalu dengan bantuan LSM, dan berbagai pihak, biasanya dapat membantu perubahan alih fungsi tersebut,” katanya.

Patut jadi rujukan pemerintah dan stakeholder

Fadhal Al-Hamid dari JERAT Papua mengungkapkan buku “Sa Ada Di Sini”  berhasil merumuskan 5 temuan permasalahan perempuan Papua dan sangat layak menjadikan ini rujukan pemerintah maupun stakeholder yang bergerak dalam isu perempuan. “Sayang sampai sekarang tidak digunakan juga,” katanya. Padahal buku “Sa Ada Di Sini” telah diluncurkan sejak 2017.

Khusus mengenai persoalan perempuan Papua dan tanah, Fadhal Al Hamdi yang juga aktif di Dewan Adat Papua mengatakan sampai saat ini hak kepemilikan, tetap milik laki laki. Aturan adat mengatur, tanah tidak diberikan perempuan. Tapi kini banyak yang menjual kepada orang lain. “Inikan jadi paradok di Tanah Papua. Sebab itu saya berpikir, harus ada gagasan baru, untuk mempertahankan eksistensi manusia Papua di tanahnya, terutama perempuan,” katanya.

Gagasan baru yang dimaksud adalah dengan melakukan transformasi dan eksistensi budaya, tetapi tetap dengan mempertahankan nilai nilai luhur. Misalnya budaya menyisihkan hasil ikan kepada ibu hamil yang ada di Demta Kabupaten Jayapura. Jika dahulu setiap orang kampung yang pulang melaut, menyisihkan ikan buat ibu hamil. Kini bisa ditransformasi dengan membeli susu. “Budaya harus direkonstruksi ulang. Jangan sampai ada perempuan memberontak terhadap komunitas adatnya. DAP sudah harus membicarakan ini lebih jauh lagi. Bukan perkara yang mudah. Tapi harus diperjuangkan,” katanya.

“Sa Ada Di Sini” gugatan perempuan atas hegemoni laki-laki 4 i Papua
Buku “Sa Ada Di Sini” – Jubi/doc

Pentingnya memunculkan narasi positif dan laki-laki

Pendeta DR. Yosina Wospakrik menegaskan soal keberanian perempuan untuk menggugat hegemoni laki laki dalam buku “Sa Ada Di Sini.” Namun ia mengingatkan soal pentingnya memunculkan narasi-narasi dari laki laki.  “Suara itu juga harus ditampilkan. Supaya ada dua buku yang harus kita tahu.  Supaya lahir keutuhan ciptaan.”

Salah satu cara yang ditawarkan untuk mengurangi angka kekerasan terhadap perempuan, Wospakrik mengatakan melalui khotbah. “Pendeta harus berani melakukan reinterpretasi teks Alkitab yang sesuai tantangan manusia Papua ke depan,” katanya.

Tanggung jawab itu bukan hanya untuk pendeta perempuan, tetapi juga pendeta laki-laki. “Jika ada laki laki yang bisa berkhotbah dengan gaya feminis, menjadikan narasi laki-laki yang sangat penting. Ini harus menjadi refleksi bersama, terutama dalam gereja.”

Handro Lekito menambahkan sudah saatnya gerakan perempuan mendekonstruksi mitos yang membuatnya tersubordinasi, termarginal dan tak berdaya. Sudah saatnya perempuan memproduksi cerita-cerita kemenangan, kepahlawanan, kehebatan dan kesuksesan atas dirinya.

Cerita-cerita itu kemudian direkonstruksi dan dikonstruksi melawan subordinasi, keterpinggiran dan hegemoni laki-laki.

“Harapan saya, ke depan ada kajian-kajian mengenai perempuan-perempuan hebat di Tanah Papua yang menginspirasi perempuan Papua,” Katanya.

Buku “Sa Ada Di Sini” diterbitkan oleh Asia Justice and Right bekerja sama dengan SKP Keuskupan Agung Merauke, KPKC Sinode GKI di Tanah Papua, ELSHAM Papua, Yayasan Humi Inane Wamena dan Belantara Sorong.(*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top