Follow our news chanel

Previous
Next

Sagu berpotensi selamatkan dunia dari ancaman kelaparan

Papua
Warga mengolah sagu menjadi bahan pangan di Kampung Kindiki, Distrik Ulilin, Merauke - Jubi/Frans L Kobun.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jakarta, JubiYayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia mengidentifikasi terdapat 352 ton potensi pati basah atau sekitar 170 ton pati kering pada 52,3 hektare hutan sagu di Pulau Salawati, Raja Ampat, Papua Barat. Mereka pun mendorong pengembangan sagu sebagai sumber pangan nasional dan pendapatan warga setempat.

“Jika menengok sejarah, sumber pangan lokal begitu beragam di Indonesia, dan salah satunya ialah sagu. Sagu memiliki kesesuaian ekologis sehingga potensial untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat dan (mendukung) kedaulatan pangan,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati)  Riki Frindos pada seminar daring, Minggu (11/10/2020).

Pengidentifikasian potensi sagu tersebut melibatkan Yayasan Kitorang dan Bentara Papua. Mereka juga mendukung  pengembangan sagu di Kampung Waimici, Distrik Salawati Tengah, Raja Ampat.

“Kami mendampingi kelompok perempuan yang mengolah dan memasarkan sagu. Mereka juga mengolah tepung sagu menjadi kue bangket sagu dan sago chococips,” jelas Riki melalui siaran pers yang diterima Jubi, Minggu malam.

Tepung sagu olahan warga Waimici, di antaranya dipasarkan di sejumlah pusat perbelanjaan modern di Kota Sorong, Papua Barat. Produksi pemasaran mereka mencapai 423 kilogram dalam lima bulan. Pemasarannya terus diintensifkan melalui media sosial.

“Undang Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, mengamanatkan pemerintah mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Undang Undang tersebut ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015, yang menjelaskan (upaya) penganekaragaman pangan dan perbaikan kualitas gizi masyarakat,” jelas Riki.

Organisasi Pangan Dunia (FAO) memperkirakan pandemi Covid-19 mempercepat ancaman bencana kelaparan global, yang semula diprediksi terjadi pada 2030. Karena itu, pemerintah harus cepat mengupayakan pengembangan sagu sebagai sumber pangan rakyat.

Loading...
;

“Ketahanan pangan tidak harus dengan swasembada beras. Sagu juga dapat menjadi solusi bagi kedaulatan pangan nasional, apalagi produktivitasnya lebih tinggi daripada beras,” tegas Riki.

Berdasarkan data Flach, 2007, areal sagu di Indonesia mencapai 1,25 juta hektare atau sekitar separuh dari luas hamparan sagu dunia. Sementara itu, riset Bintoro pada 2000 menyebut produktivitas sagu nasional mencapai 20-40 ton setiap hektare setahun. Produktivitas tersebut jauh lebih tinggi ketimbang beras yang setahunnya hanya 5,2 ton setiap hektare. Budi daya sagu juga dinilai lebih ramah terhadap lingkungan.

Makanan pokok tidak hanya soal bahan baku, tetapi juga sumber pengetahuan dan kebajikan dari para leluhur (kearifan lokal). Selain itu, pengembangan sagu dapat meningkatkan perekonomian daerah dan mengurangi gas rumah kaca (polusi),” jelas Riki.

Seminar daring bertemakan Sagu sebagai Solusi Krisis Global merupakan rangkaian iven yang digelar serentak di seluruh dunia oleh The Climate Reality Project dan TED.

“Kegiatan tersebut bertujuan menyebarkan pesan optimistis sehingga menginspirasi masyarakat bangkit dan bertindak demi menghadapi krisis iklim. Climate Reality Indonesia sebagai perkumpulan yang mengarusutamakan isu krisis iklim dan solusinya mendukung acara ini (seminar daring),” kata Manajer Climate Reality Indonesia Amanda Katili Niode. (*)

 

Editor: Aries Munandar

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top