Follow our news chanel

Sagu dilepas, beras digenggam

Ilustrasi. Mama Papua di Kabupaten Jayapura sedang mengolah sagu – Jubi/Dok
Sagu dilepas, beras digenggam 1 i Papua
Ilustrasi. Mama Papua di Kabupaten Jayapura sedang meremas sagu – Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Kehadiran transmigran berdampak pada pergeseran ekologis dan sosio-linguistik masyarakat. Penutur bahasa Marori di Kampung Wasur, misalnya. Masyarakat di kampung yang berbatasan dengan PNG itu, kini beralih ke bahasa dominan transmigran, dibandingkan dengan bahasa lokal setempat. Bahasa Marori hanya dituturkan oleh orang-orang tua. Kehadiran perusahaan besar dan dijadikannya Merauke sebagai lumbung pangan nasional melalui MIFEE, dengan menanam padi dan berbagai tanaman lainnya, menjadikan lahan-lahan sagu semakin tersingkirkan. Padahal sagu tidak boleh dijual-belikan”

Orang Marori di Kampung Wasur, Kabupaten Merauke, Papua, disebut tak lagi mengonsumsi sagu sebagai pangan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat lokal mulai beralih makan nasi dan bukan sagu.

Perubahan pola konsumsi pada masyarakat karena lahan-lahan sagu berkurang. Akulturasi dan arus migrasi merupakan dampak lain dari perubahan tersebut.

Agustinus Mahuze, asisten peneliti yang melakukan penelitian tahun 2016-2017 bersama Balai Taman Nasional Wasur Merauke dan Australian National University/Universitas Udayana, di Kampung Wasur.

Wasur merupakan satu dari lima kampung di Distrik Merauke. Diakses sejauh delapan kilometer dari Merauke kota. Luasnya hanya 941,78 kilometer persegi (BPS 2018) atau 57,62 persen dari luas distrik tersebut. Namun wilayah seluas itu dihuni penduduk dari berbagai etnis.

Penduduk Distrik Merauke per 2017 menurut BPS (2018) sebanyak 99. 986 orang. Penduduk terbanyak berada di Kelurahan Rimba Jaya (19.536 orang), dan Kampung Wasur hanya 466 orang, dengan kepadatan 16,17 jiwa per/km2 dari 1634,56 kilometer persegi luas Distrik Merauke.

Loading...
;

“Masyarakat di Wasur tak lagi mengonsumsi sagu sebagai makanan lokal,” kata Mahuze kepada Jubi di Jayapura, Minggu, 28 Juli 2019.

Dalam penelitian selama dua tahun, pihaknya menemukan bahwa pola makan masyarakat Wasur berubah ke pola konsumsi beras (nasi), karena dusun-dusun sagu berkurang. Dalam penelitian Djoefrie (2014), yang dikutip tim Mahuze dalam “Dokumentasi Etnobotani-Linguistik Tumbuhan Sagu: Laporan Awal Dari Etnis Marori di Taman Nasional Wasur Merauke”, yang diterbitkan Jurnal Linguistik Indonesia, Agustus 2017, menyebutkan lahan sagu terluas di Papua ada di Merauke, yakni 1.232.151 hektare atau sekira 25,9 persen dari luas hutan sagu Papua sebesar 4.749.325 hektare.

Luas dusun sagu perlahan berkurang seiring perkembangan arus migrasi, kehadiran perusahaan, dan pola makanan masyarakat setempat. Oleh karena itu, Mahuze berpandangan bahwa dusun sagu harus dikembalikan.

Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke harus merespons kondisi ini dengan mengeluarkan regulasi perlindungan terhadap lahan sagu.

“Kami pernah presentasikan hasil penelitian kami, tapi hingga kini belum direspons pemerintah,” kata Agustinus Mahuze.

Menurut dia, lahan-lahan sagu perlu dikembalikan dengan cara menanam kembali. Masyarakat harus menanam sagu agar sumber makanan lokal ini tidak punah.

Namun demikian, pemerintah daerah harus mendukungnya dengan mengeluarkan kebijakan melalui peraturan daerah (perda) dan peraturan bupati (perbup).

Bagi orang Marori di Wasur, sagu merupakan sumber makanan. Selain itu, daun sagu dijadikan atap rumah dan keranjang (anyaman), sedangkan batangnya dijadikan sebagai pengganti kayu untuk membuat rumah. Pohon sagu yang ditotok menghasilkan tepung sagu, yang kemudian dijadikan makanan lokal. Sagu yang dibakar disebut sief oleh orang-orang Marori.

Dalam penelitian yang diterbitkan Jurnal Linguistik Indonesia, Agustus 2017, Tim Agustinus Mahuze menyebutkan berkurangnya tanaman sagu di Merauke juga disebabkan oleh faktor migrasi besar-besaran dari luar Papua selama tiga dekade terakhir.

Kehadiran transmigran berdampak pada pergeseran ekologis dan sosio-linguistik masyarakat. Penutur bahasa Marori di Kampung Nalkin, misalnya. Masyarakat di kampung yang berbatasan dengan Papua Nugini itu, kini beralih ke bahasa dominan transmigran, dibandingkan dengan bahasa lokal setempat. Bahasa Marori hanya dituturkan oleh orang-orang tua.

Kehadiran perusahaan besar dan dijadikannya Merauke sebagai lumbung pangan nasional melalui Merauke Integrated Food and Energi Estate (MIFEE), dengan menanam padi dan berbagai tanaman lainnya, menjadikan lahan-lahan sagu semakin tersingkirkan. Padahal sagu tidak boleh dijual-belikan.

Kepala Kampung Wasur, Thobias Mahuze, seperti ditulis Jurnal Linguistik Indonesia (2017), mengatakan seseorang mendapatkan sagu tidak melalui proses jual-beli, tetapi harus diberikan sebagai simbol persaudaraan. Panen dan pengolahan sagu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan saat upacara adat dan untuk kebutuhan keluarga.

Kehadiran perusahaan (investor), arus migrasi dan perubahan pola konsumsi sagu yang berubah harus diselamatkan. Dusun-dusun sagu harus dikembalikan dengan cara menanam kembali agar tidak punah.

Dalam berbagai even misalnya, sejumlah pihak mengkampanyekan pelestarian sagu di seluruh tanah Papua, terutama daerah-daerah pesisir. Di Jayapura, Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, seperti dilaporkan Jubi, 6 Juli 2019, mengatakan sagu akan menjadi makanan primadona untuk PON ke-20 Tahun 2020 di Tanah Papua. Oleh karena itu, pemerintah, dan masyarakat perlu bersepakat dan bekerja sama melindungi hutan sagu dan tidak menebangnya. (*)

Editor: Angela Flassy

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top