HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Saksi TS: Saya tak dengar jelas yang diorasikan

Tiga mahasiswa di Manokwari dalam pengawasan ketat aparat seusai menjalani sidang di PN Manokwari. (Jubi/Hans Arnold Kapisa).
Tiga mahasiswa di Manokwari dalam pengawasan ketat aparat seusai menjalani sidang di PN Manokwari. (Jubi/Hans Arnold Kapisa).

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Manokwari, Jubi – Sidang kasus aksi demonstrasi menolak tindakan rasisme yang melibatkan tiga mahasiswa kembali digelar di Pengadilan Negeri Manokwari. Sidang kali ini digelar dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

Namun sepanjang sidang, saksi sama sekali tidak tidak menyebut tentang keterlibatan tiga terdakwa yakni Erik Aliknoe, Pende Mirin dan Yunus Aliknoe dalam unjuk rasa tolak rasisme, 3 September 2019.

Yan Christian Warinussy, kuasa hukum terdakwa tiga mahasiswa menilai, JPUย  menghadirkan para saksi yang sama sekali tidak menguatkan ke empat dakwaan yang tertuang dalam perkara pidana Nomor 14/Pid.B/2020/PN.Mnk.

Dari empat orang saksi yang dihadirkan, kata Warinussy, tiga saksi telah memberikan keterangan pada agenda sidang sebelumnya. Dan untuk sidang lanjutan hari ini (Kamis), hanya dihadiri oleh satu orang saksi dari institusi Kepolisian.

“Empat saksi Polisi yang dihadirkan oleh JPU yaitu, BL, AP, BP (saksi sidang pertama) dan TS (saksi sidang ke dua), tak satupun yang melihat ke tiga klien kami melakukan perbuatan atau tindakan yang menjurus ke tindak pidana makar, penghasutan, maupun kererasan dan ancaman terhadap abdi negara yang sedang menjalankan tugas saat pengamanan aksi damai tolak rasisme pada 3 September 2019 di Jalan Gunung Salju Amban,” ujar Warinussy.

Sementara, JPU Kejaksaan Negeri Manokwari, Benoni A.Kombado, mengatakan, dalam sidang keterangan saksi,ย  hanya dihadiri oleh satu orang saksi atas nama TS. Sementara tiga saksi lainnya tidak hadir dengan alasan mutasi dan mengikuti pendidikan.

Loading...
;

Dihadapan majelis hakim, saksi TS mengatakan bahwa tidak mendengar secara jelas orasi-orasi yang disampaikan oleh ratusan mahasiswa dalam unjuk rasa pada tanggal 3 September 2019. Namun sepengetahuan saksi, bahwa unjuk rasa tersebut bertujuan memisahkan diri dari NKRI.

“Pada saat aksi, saya berada di dalam kantor Polsek Amban. Saya tidak dengar dengan jelas apa yang diorasikan. Tapi berdasarkan pengalaman saya bertugas 8 (delapan) tahun di Polsek Amban, bahwa aksi-aksi unjuk rasa seperti itu bertujuan untuk pisahkan diri dari NKRI,” ujar TS.

Saksi TS, juga tidak melihat dan mengetahui posisi serta peran dari tiga terdakwa Mahasiswa dalam aksi unjuk rasa saat itu. Saksi TS, hanya diperintahkan oleh atasannya, untuk bantu mengevaluasi salah satu anggota BKO Brimob yang terluka karena diduga terkena lemparan batu.

“Saya hanya di perintahkan oleh salah satu Perwira, untuk bantu evakuasi satu orang anggota BKO Brimob yang terkena lemparan batu hingga mengalami luka di bagian bibir atas untuk dievakuasi ke RS Angkatan Laut Manokwari,” ujar TS menjelaskan dalam sidang terbuka.

Ketua majelis Hakim, Sonny A.B.Loemorry, selanjutnya menunda sidang hingga hari Senin 16 Maret 2020 dengan lanjutan agenda yang sama yaitu mendengarkan keterangan saksi. (*)

Editor: Edho Sinaga

 

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pengumuman Lagu
"Tanah Papua"

Sehubungan dengan akan dilakukannya pendaftaran lagu “Tanah Papua” yang diciptakan oleh Bapak Yance Rumbino pada Direktorat kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, untuk itu disampaikan kepada seluruh pihak masyarakat yang mengklaim sebagai pencipta lagu “Tanah Papua”, diberi kesempatan untuk mengajukan klaim atau sanggahan lagu tersebut.

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa