TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Saliyab Elseng di Kampung Skoaim diresmikan

Masyarakat adat di Papua
Sekretaris Daerah Kabupaten Jayapura, Hanna Hikoyabi dan Kepala Suku Kampung Skoaim, Markus Onyambe berfoto bersama sejumlah penari usai peresmian Saliyab Elseng. - Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Saliyab Elseng atau rumah adat bagi Suku Am di Kampung Skoaim, Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura, Papua, diresmikan Sekretaris Daerah Kabupaten Jayapura, Hanna Hikoyabi, Jumat (26/2/2021). Rumah adat itu membawahi lima suku besar Dewan Adat Elseng.

Peresmian Saliyab Elseng Suku Am itu dilakukan Hikoyabi dengan menggunting pita selubung papan nama rumah adat tersebut. Rumah adat berukuran 12 x 8 meter persegi itu dibangun sejak 2 Februari 2020 hingga 26 Februari 2021. Pembangunan rumah adat itu menelan biaya Rp18 juta, yang merupakan hasil swadaya masyarakat adat setempat.

Saliyab itu membawahi lima suku besar Dewan Adat Elseng. Kelima suku besar itu adalah Kosu, Koya, Pilemon, Imee, dan Seemse.

Hikoyabi yang mewakili Bupati Jayapura menyatakan Pemerintah Kabupaten Jayapura sangat mengapresiasi upaya masyarakat adat membangun saliyab itu. “Saliyab itu dibangun dengan menggunakan hasil dari hutan masyarakat adat sendiri, berupa kayu, atap dan lantainya. [Saliyab itu] terlihat kokoh, berwibawa, tetapi juga unik,” ujar Hikoyabi.

Baca juga: Pemkab Jayapura daftarkan HAKI masyarakat adat Sentani

Hikoyabi menyebut Saliyab merupakan bangunan yang sakral bagi masyarakat adat setempat. Sebagai tempat yang disakralkan, Hikoyabi meminta masyarakat menghormati keberadaan saliyab, dan mempergunakan saliyab itu sesuai peruntukan dan aturan yang telah berlaku secara turun temurun di dalam saliyab itu.

Menurutnya, aturan dan norma setiap rumah adat di Papua memiliki nilai dan ciri khasnya masing-masing, ciri khas itu merupakan wujud nyata jati diri masyarakat adat tersebut. “ Kehadiran saliyab itu juga menunjukkan sumber kekayaan yang dimiliki masyarakat adat di tempat itu. Tentu sangat berbeda dengan bangunan yang ada di kota, dengan ukuran sebesar itu, tentu untuk mendirikannya membutuhkan dana yang tidak sedikit,” ujarnya.

Hikoyabi menjelaskan Pemerintah Kabupaten Jayapura sedang gencar mendaftarkan berbagai karya seni dan tradisi di sana sebagai Hak Atas Kekayaan Intelektual bersama masyarakat adat setempat. Menurutnya, Saliyab Elseng itu juga akan didaftarkan sebagai Hak Atas Kekayaan Intelektual lima suku besar Dewan Adat Elseng.

“Sebagai masyarakat adat dengan jati dirinya, kehadiran saliyab itu akan menjadi tempat berpijak, tempat mencari solusi, [tempat] memecahkan semua persoalan yang dihadapi masyarakat,” ucapnya.

Kepala Suku Kampung Skoaim, Markus Onyambe mengatakan masyarakat adat Elseng akan memanfaatkan saliyab itu sebagai tempat berhimpun lima suku besar yang mendiami Kampung Skoaim. “Semua persoalan, kebutuhan, aspirasi dari masyarakat, akan dibicarakan dalam saliyab itu. Kita tidak lagi membahas persoalan masyarakat di luar dari kampung ini, termasuk pembayaran mas kawin dan lain sebagainya. Saliyab itu jati diri kami, masyarakat adat Elseng,” kata Onyambe. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us