Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Samoa: Berkabung melalui media sosial melewati batas

Penulis (kanan) dengan saudara-saudarinya di tepi makam ibu mereka, jasadnya dibalut kain tapa, sesuai dengan tradisi Samoa. - The Guardian/ Tautalailelagi
Samoa: Berkabung melalui media sosial melewati batas 1 i Papua
Penulis (kanan) dengan saudara-saudarinya di tepi makam ibu mereka, jasadnya dibalut kain tapa, sesuai dengan tradisi Samoa. – The Guardian/ Tautalailelagi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Lagipoiva Cherelle Jackson

Duka nestapa di Samoa selalu bersifat publik. Tetapi sekarang, setelah orang-orang mulai mengunggah dan membagikan foto serta swafoto dengan jenazah ke sosial media seperti Facebook, saya harus menghentikannya dengan tegas.

Samoa: Berkabung melalui media sosial melewati batas 2 i Papua

Tidak ada yang namanya peti mati tertutup dalam budaya saya. Di Samoa, orang yang meninggal dunia masih menjadi bagian dari mereka yang hidup sampai ia dikuburkan.

Dibesarkan di Pulau Savai’i, salah satu kenangan saya yang paling awal adalah disodorkan ke dalam peti mati untuk mencium salah satu dari paman buyut saya. Ini mungkin terdengar mengerikan, tetapi bagi orang Samoa, ini sudah kebiasaan, dan pada setiap pemakaman yang diadakan, kalian pasti akan menyaksikan seorang anak digendong di depan muka seorang kerabat yang sudah meninggal, seorang ibu berusaha menarik badan orang yang mereka cintai keluar dari dalam peti mati, atau seorang putra atau putri dewasa dikeluarkan dari peti mati orang tua mereka.

Kita berduka secara terbuka dan badan orang yang meninggal biasanya terbuka, dan orang-orang dapat menyentuh, mencium, dan bahkan memeluk tubuh yang terbaring dalam peti mati yang terbuka. Kita berbicara kepada mereka seolah-olah mereka mendengar suara kita, keluarga menyanyikan lagu-lagu pujian, berdoa, mengadakan pertemuan keluarga dan makan bersama-sama di sekitar peti mati di fale (rumah) berhari-hari sebelum penguburan.

Tetapi selang pemakaman ibu saya, saya mendapati diri saya meminta maaf kepadanya ketika saya menutupi wajahnya dengan kain renda putih yang halus lalu menutup peti matinya. Setiap bagian dari tubuh saya sangat pilu karena harus melakukan hal ini, karena saat hidup, dia tidak pernah bersembunyi dari apa pun.

Loading...
;

Ia berwibawa, kuat, dan orator yang luar biasa serta kepala suku tinggi. Ibu saya, Vaasiliifiti Moelagi Jackson, adalah pegiat yang giat untuk lingkungan hidup, seorang ikon mode, dan pelopor hak-hak perempuan pribumi di Samoa dan Pasifik. Perempuan itu menemukan cara untuk menonjol, bahkan pada pemakamannya sendiri, namun di sini saya menutupi wajahnya.

Tetapi justru karena fakta bahwa dialah perempuan yang kuat, bermartabat, dan bangga, saya yang menutupi wajahnya pada saat pemakamannya sendiri. Saya tidak ingin dia difoto dalam keadaan meninggal dunia dan saya tidak ingin foto-foto seperti itu diunggah dan dibagikan di Facebook, perbuatan yang kini umum di kalangan orang-orang Samoa.

Tradisi kedukaan yang terbuka kita telah berubah drastis dalam era media sosial karena cara berinteraksi dengan orang yang meninggal dunia telah meluas, sampai mereka merekam ‘TikTok ’ dengan jenazah, dan berbagi foto jenazah orang mati di tempat tidur rumah sakit, di ruang mayat, dan di peti mati mereka melalui Facebook. Foto itu bisa saja dibagikan oleh seorang cucu, seorang anak laki-laki, seorang anak perempuan, tetapi juga oleh seorang rekan kerja atau mantan teman kelas.

Di laman Facebook saya biasanya ada foto orang yang meninggal dunia seminggu sekali, karena Samoa itu sangat kecil dan saling terhubung. Hal terakhir yang diinginkan keluarga saya adalah ibu kita menjadi salah satu gambar seperti itu, dibagikan secara luas dan permanen di internet.

Keputusan untuk menghentikan semua upaya untuk memotret foto ibu kita pada hari-hari terakhir sebelum pemakaman tidaklah mudah. Keputusan ini disambut dengan pertentangan oleh banyak orang; bagaimanapun juga, dia bukan hanya Ibu kita, tetapi juga seorang sahabat, seorang mentor, seorang kepala suku, dan kerabat dari banyak orang. Tapi, martabatnya jauh lebih penting daripada melihat foto mayatnya di unggah ke internet dan dilihat oleh semua orang. Tidak ada pendidikan atau budaya yang membenarkan perilaku ini, di era mana pun, dan saya pribadi, bersedia kehilangan teman dan kerabat untuk melindungi Ibu saya.

Pendekatan terkoordinasi diberlakukan untuk memastikan tidak ada orang lain yang mengambil foto. Arahan yang ketat disampaikan kepada setiap anggota keluarga kita, dan semua orang memainkan peran mereka dalam memastikan bahwa tidak ada yang memegang telepon atau kamera di dekat petinya ketika jasadnya terbuka.

Ketika dia berbaring di ranjang kematiannya, kita menulis pemberitahuan dan menempelkannya di seluruh kamar rumah sakit untuk melarang kerabat mengambil fotonya. Setiap pengunjung diminta untuk tidak memotretnya di saat-saat terakhirnya.

Di ruang mayat, pada suatu saat, kita harus benar-benar mengambil telepon dari seseorang yang akan memotret ibu kami. Saya mengerti bagaimana pemikiran orang itu, itu adalah cara mereka untuk berduka di era media sosial. Tetapi ada batasnya dalam menginterpretasikan budaya, dan saya memutuskan ketika dia sekarat, bahwa batas saya adalah pada pengunggahan dan pembagian foto jasadnya secara terbuka di media sosial.

Beberapa teman telah memberikan pengumuman untuk melarang kerabat dan teman memotret mereka ketika mereka meninggal dunia, tetapi kita adalah kelompok minoritas. Kita semua berduka dengan cara yang berbeda, dan proses berduka yang tradisional, dengan norma-norma budaya, sudah tertanam dan sulit untuk ditolak.

Sebagai alternatif untuk tetap memenuhi kebutuhan untuk berkabung melalui Facebook, alih alih, suatu laman publik telah dibuka untuk teman-teman, keluarga, dan mereka yang mengenal ibu kita yang tercinta, untuk berbagi cerita dan foto sebagai cara untuk berduka dan tetap menghormati dia.

Beberapa tradisi budaya hanya dimaksudkan untuk dilakukan dengan cara yang dimaksudkan – secara langsung, dengan air mata dan pembicaraan pribadi yang bermakna. Orang yang meninggal dunia tidak setuju untuk difoto, dan karena itu kita tidak boleh merendahkan mereka di saat-saat terakhir mereka. Rasa hormat dan martabat juga mengakar dalam Fa’a Samoa (cara Samoa).

Meskipun menutupi wajah ibu saya dan menutup peti mati disambut dengan gempar, saya puas dengan mengetahui bahwa tidak ada satu pun gambar ibu saya akan diunggah ke daring setelah dia meninggal. Pada akhirnya, kita telah mempertahankan martabat ibu kita dan dia dikenang sebagaimana layaknya: sebagai kepala suku tinggi yang kuat, energik, dan humoris. (The Guardian)

Lagipoiva Cherelle Jackson adalah seorang jurnalis independen dari Samoa.

Editor: Kristianto Galuwo

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top