Follow our news chanel

Sampah PKL di RTH Pantai Nabire belum dikelola baik

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Nabire, Jubi – Meski berkontribusi pada pendapatan asli daerah (PAD), pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Pantai Nabire, menimbulkan masalah sampah.

Seorang penggiat lingkungan di kota Nabire, Bentot Yatipai, yang juga Ketua Komunitas Amoye, minta Pemerintah Kabupaten Nabire meninjau kembali retribusi yang ditarik dari pedangan kaki lima (PKL) di area tersebut.

“Kalau boleh PKL yang membayar retribusi dipertimbangkan, terutama mereka yang berjualan makanan dan minuman. Sebab sangat berdampak terhadap lingkungan mengingat mereka menghasilkan sampah,” ujar Yatipai, saat ditemui Jubi di Nabire, Senin (21/1/2019).

Secara umum Ruang Terbuka Hijau (RTH) memiliki fungsi utama (intrinsik) yakni fungsi ekologis dan fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu fungsi arsitektural, fungsi sosial, dan fungsi ekonomi.

Namun bagaimana jika berdampak terhadap lingkungan, terutama masalah sampah seperti yang terjadi di RTH Pantai Nabire, mengingat penanganan sampah di area tersebut belum maksimal.

Apalagi diketahui bahwa RTH tersebut menghasilkan PAD yang cukup besar untuk daerah. Sayangnya, pengelolaan sampah belum berjalan maksimal dibandingkan pendapatan yang diperoleh.

Loading...
;

Menurut Yatipai, jika dibandingkan dengan nilai retribusi yang berkontribusi untuk PAD, tidak sebanding dengan dampak lingkungan yang terjadi saat ini.

Yang mana, sampah belum dikelola dengan baik karena mereka penjulan makanan ini.

“Lingkungan tercemar oleh sampah, di areal yang digunakan untuk berdagang hingga ke bibir pantai. Orang setelah membeli air misalnya, karena tidak ada bak sampah akhirnya membuang sampah di sembarang tempat,” tutur dia.

Dua hal, menurut Bentot, yang tercipta adalah lingkungan yang tidak bersih dan sehat, serta tempat berjualan yang juga secara kesehatan belum tentu sehat terutama penjual makanan.

“Seperti tidak tersedianya air bersih yang cukup untuk mencuci piring dan tangan, juga tidak adanya pembuangan limbah kotoran pencucian piring dan gelas atau alat yang dipakai untuk menyediakan makanan,” terangnya.

Dia meminta kepada Pemkab Nabire agar meninjau kembali lapak-lapak yang disewakan kepada PKL, khususnya penjual makanan dan minuman.

“Intinya, harus ditinjau kembali mereka yang menjual makanan dan minuman, sebab sampah tidak diperhatikan, pengunjung juga buang sampah bekas minuman seperti botol di sembarang tempat,” katanya.

Yatipai memberi solusi agar RTH ditangani oleh unit khusus dan terlepas dari penganangan sampah rumah tangga. Juga semua ruang publik seperti tempat-tempat wisata, harus dikelola dengan oleh unit-unit pengolahan yang harus disiapkan khusus.

Dinas Lingkungan Hidup misalkan, bisa membentuk dibentuk tim khusus dengan beberapa orang dan ditempatkan untuk bertugas guna menangani sampah di RTH dan tempat-tempat wisata lainnya.

 

“Lalu khusus untuk RTH harus melibatkan PKL, sehingga mereka bisa bekerja dan membersihkan. Regulasi ini yang harus berjalan, harus diperhatikan secara periodik, sistematik, dan baik sehingga terwujud lingkungan yang sehat demi terciptanya kenyamanan bagi pengunjung,” harapnya.

Terpisah, Candra, koordinator PKL, mengatakan ada tiga hal yang diinginkan pedagang yakni aman, kebersihan, dan bisa berjualan.

Terkait keamanan, kata Candra, masih sangat kurang sebab sering dijumpai orang mabuk dan mengganggu, jika ditegur bisa menimbulkan perkelahian dan harus menelpon petugas Satpol PP baru bisa datang.

“Sementara untuk kebersihan dan keamanan, semua pedagang membayar retribusi sebesar Rp 180 ribu untuk keamanan kepada petugas,” jelasnya.

Menurut dia, untuk kebersihan terutama sampah, para pedagang sekalipun telah membayar retribusi, tetapi sebenarnya mereka juga ingin untuk areal tetap bersih.

“Walau kami bayar, tapi penanganan belum maksimal, kami mau bantu. Misalkan ada tong-tong sampah yang disiapkan. Jika belum ada, harus kami diberi tempat khusus untuk TPS, nanti kami yang antar ke sana sampahnya,” kata dia. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top