Follow our news chanel

Halaman Kerjasama
Kampanye 3M
(Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan)

Jubi Papua

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Author :

papua covid-19 dosen uncen
Dosen Akuntansi Universitas Cenderawsih Anthonius Citra memberikan kuliah online kepada mahasiswa dari rumahnya -Jubi/ Theo Kelen.

Saran dosen Uncen terkait masalah kuliah online mahasiswa

Papua No.1 News Portal

Jayapura, Jubi – Di era pandemi Covid-19 mahasiswa harus beradaptasi dengan metode kuliah online (daring). Namun tidak semua mahasiswa bisa mengikuti kuliah cara baru ini dengan lancar.

Sebagian mahasiswa terkendala jaringan internet. Ada yang kekurangan biaya pembelian paket data, ada juga karena sinyal jaringan internet di lokasi mereka tidak stabil.

BERITA TERKAIT: Mahasiswa Papua Banting Tulang Cari Uang Beli Paket Internet

Jubi meminta tanggapan terkait hal ini kepada beberapa dosen Universitas Cenderawasih (Uncen), Papua. Mereka menyampaikan sejumlah solusi.

Dosen Akuntansi Uncen, Anthonius Ho Citra Wijaya, SE, MSc, Ak.CA mengatakan, bagi mahasiswa yang memiliki permasalahan seperti tidak memiliki paket internet atau bahkan tidak memiliki gawai (gadget), sebenarnya bisa memanfaatkan fasilitas kampus.

Citra mengatakan pada awal perkuliahan sudah meminta mahasiswa yang memiliki masalah paket data atau gadget untuk melaporkan. Bahkan dia meminta ketua kelas mendata mahasiswa yang memiliki problem tersebut.

Loading...
;

Jika mahasiswa memiliki gadget, tapi tidak memiliki pulsa data, kata Citra, akan diberikan kesempatan. Strateginya berkoordinasi dengan pimpinan program studi untuk diberikan akses internet gratis.

“Kita sarankan, entah pakai internet di laboratorium akuntasi atau dekanat, yang penting mahasiswanya melapor, pasti akan kita berikan akses,” ujarnya ketika ditemui di Abepura, Jayapura, Papua, Rabu (21/10/2020).

Namun, kata Citra, konsekuensinya mahasiswa tersebut harus datang ke kampus lebih pagi, sebelum kuliah online dimulai pukul 08.00 WIT. Mahasiswa tersebut tidak masuk ruangan, tapi belajar di luar yang bisa dijangkau WiFi.

Kampus Akuntansi, kata Citra, memiliki tim yang siap memandu dan melatih mahasiswa yang belum bisa menggunakan komputer atau masih bingung menggunakan akun kuliah online.

Menurut Citra, selama enam kali pertemuan online, masalah yang paling sering dikeluhkan mahasiswa adalah sinyal yang sering terganggu. Ia memberikan solusi, sebelum kuliah mahasiswa mencari lokasi yang sinyalnya kuat.

Kuliah online, kata Citra, berbeda dengan kuliah offline. Perbedaan terletak pada durasi kuliah. Ia yakin beberapa dosen lainnya juga mengalami, durasi kuliah onlinenya tidak sebanyak kuliah offline. Jika kuliah offline atau tatap muka 3 SKS selama 3 jam pertemuan, kuliah online biasanya rata-rata cuma 1,5 jam.

“Karena kalau kuliah online kebanyakan mahasiswa tidak fokus, mudah teralihkan hal lain, karena itu materi dipadatkan, diakses mahasiswa secara mandiri dan berharap mereka mengembangkan sendiri,” ujarnya.

Semester ini Citra mengampu empat mata kuliah dengan waktu pertemuan empat kali dalam seminggu. Sekitar 95 persen perkuliahan disampaikan dari rumah dengan memanfaatkan jaringan Indihome dengan kecepatan 10 Mbs. Ia biasa memakai aplikasi Zoom, Microsoft Times, atau Google Classroom.

Kendala yang dihadapinya, jika listrik padam ia terpaksa beralih dari laptop ke gawai. Di gawai tidak bisa menayangkan slide presentasi dan keterbatasan durasi baterai.

Meski kuliah daring, Citra berharap mahasiswa lebih aktif dan tidak menghilang. Sebab jadwal kuliah daring sudah diatur melalui SK Rektor sehingga harus dijalankan.

“Ini bukan SK rektor saja, tapi satu Indonesia dan kurikulumnya terus jalan di semester ganjil ini, jangan sampai di akhir semester baru melapor,” ujarnya.

Ketua Prodi Matematika FMIPA Uncen, Titik Suprawati, SSi, MSi mengatakan di program studi (prodi) Matematika Uncen ada toleransi kepada mahasiswa yang tidak bisa mengikuti kuliah online karena tidak ada paket internet.

“Sebagai pengganti mahasiswa tersebut diberikan tugas mandiri,” ujarnya.

Di prodi-nya, kata Titik, masalah yang sering dikeluhkan mahasiswa adalah kurang menyerap materi sehingga berdampak kepada nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) mereka. Akhirnya diambil kebijakan menurunkan standar nilai IPK.

“Ada mata kuliah yang standar penilaian untuk dapat nilai A itu 80, diturunkan jadi 75,” katanya.

Untuk mengantisipasi kegagalan nilai, maka prodinya membuat kebijakan memperbanyak tugas.

Sesuai instruksi dari rektorat, kata Titik, kegiatan masih tetap dilakukan dari rumah. Namun masih ada sebagain dosen yang datang ke kampus, terutama pejabat struktural. Juga ada yang masih ujian dan bimbingan ke kampus, tapi dengan menaati protokol kesehatan.

Menurut Titik selama ini tak ada kendala, karena telah dibekali cukup sosialisasi. Kuliah online fleksibel dan bisa dilakukan dari rumah maupun kampus. Jika kuliah pukul 8 pagi ia memberikan materi dari rumah, karena kampus masih sepi.

Ia biasa memakai aplikasi Zoom, Google Meet, atau Google Classroom. Tapi Zoom hanya untuk diskusi dan menyamai persepsi dengan mahasiswa. Aplikasi Google Meet menjadi pilihan untuk membagikan materi karena lebih ringan dan murah.

Di rumah Titik menggunakan Wifi. Bulan ini sudah ada bantuan pulsa dari Kemendikbud untuk dosen sebesar 50 GB. Bantuan yang diterima selama tiga bulan ke depan hingga Desember.

Ia berharap mahasiswa yang memiliki masalah internet untuk mengikuti kuliah daring bisa melapor ke kampus agar mendapatkan bantuan dari prodi atau jurusan.

“Kalau di Prodi Matematika hanya satu atau dua orang, itupun karena telat beli paket,” katanya.

Sementara itu, dosen Teknik Pertambangan Uncen, Karl Karolus Wagab Meak menyarankan mahasiswa yang terkendala paket internet mencari solusi seperti membuat kelompok belajar atau menebeng pada teman agar bisa mengikuti perkuliahan.

“Saya senang ada satu mahasiswa yang tidak punya paket data dan gadget, dia gabung dengan temannya mengikuti kuliah online bersama,” ujarnya.

Sebagai dosen, Karl mengaku dilematis karena Jurusan Teknik Pertambangan Uncen pernah menjadi klaster penyebaran korona. Sejak itu aktvitas mengajar di kampus dilarang dan kalau ada dosen yang mengajar temu langsung akan ditegur atau diberi sanksi.

Namun sekarang perkuliahan tatap muka bisa dilakukan secara terbatas, jika mahasiswanya sedikit. Untuk kelas S1 yang jumlahnya 100 orang tidak bisa dilakukan tatap muka. Namun D3 Geologi dengan mahasiswa hanya 10 orang bisa kuliah tatap muka.

“Tapi dengan menerapkan protokol kesehatan, cuci tangan, dan pakai masker selama kuliah,” katanya.

Jika ada mahasiswa yang tidak bisa mengikuti kuliah online, misalnya karena berada di kampung yang tidak ada jaringan internet, atas pertimbangan kemanusiaan dan toleransi, diganti dengan pemberian tugas.

Namun menurut Karl, selama dua kali pertemuan online semester ini, ia  belum menerima keluhan dari mahasiswa. Ada mahasiswa Fakultas Teknik yang komplain, tapi disampaikannya melalui Facebook.

Sejauh ini untuk perkuliahan online di fakultasnya dilakukan bervariasi, bisa dari rumah atau datang ke kampus. Kalau di kampus ada satu ruangan yang khusus untuk kelas online.

Fakultas Teknik Uncen memberikan dua aplikasi Zoom untuk tiap prodi yang bisa digunakan dosen dengan durasi sesuai jadwal kuliah. Dalam seminggu Karl mengajar dua kali untuk kelas S1.

Sedangkan untuk D3 yang jumlah mahasiswa 8 sampai 10 orang direncanakan akan kuliah tatap muka karena pertimbangan latar belakang ekonomi mahasiswa.

Karl mengharapkan di saat pandemi ini mahasiswa tidak boleh hidup di dalam suatu iklim di mana mengeluh terus akan keterbatasan.

“Tetapi terpanggil untuk mencari solusi atas masalahnya dan memaksimalkan potensi yang dimiliki,” ujarnya. (CR7)

Editor: Syofiardi

Scroll to Top