HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Sarana minim, produksi tepung sagu masih terbatas

Salah seorang ibu sedang memasukan tepung sagu ke dalam kemasan untuk siap dijual- Jubi/Frans L Kobun

 

Sarana minim, produksi tepung sagu masih terbatas 1 i Papua
Ketua Kelompok Tani Dwitrap Kampung Tambat, Yakobus Yamtob menunjuk potongan batang sagu yang siap diolah – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

KAMPUNG Tambat, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua menjadi satu-satunya kampung yang rutin memproduksi sagu setiap hari. Sekaligus menjadi perhatian masyarakat dari kota yang datang membeli di kampung itu.

Sarana minim, produksi tepung sagu masih terbatas 2 i Papua

Untuk menjangkau kampung tersebut, tidaklah sulit. Perjalanan bisa dengan menggunakan sepeda motor maupun mobil. Lamanya perjalanan kurang lebih dua jam.

Proses pengolahan sagu yang dulunya manual dengan cara dipangkur hingga menghasilkan tepung sagu, kini sudah menggunakan peralatan mesin, setelah masyarakat setempat yang berjumlah 25 orang mendapatkan bantuan pemerintah.

Kelompok tersebut diberi nama Dwitrap atau rumah sagu yang dikoordinir Yakobus Yatmob. Meskipun setiap hari memproduksi tepung sagu basah maupun kering, namun jumlahnya masih sangat terbatas.

Itu dikarenakan minimnya fasilitas mengangkut batang sagu dari lokasi yang terpaut kurang lebih dua kilometer. Setelah pohon sagu ditebang, harus diikat tali dan ditarik menggunakan tenaga manusia ke darat. Selanjutnya dipotong, baru diangkut dengan traktor ke lokasi produksi.

Loading...
;

Ketua Kelompok Tani Dwitrap Kampung Tambat, Yakobus Yamtob, kepada Jubi, Kamis (31/10/2019), mengatakan sejak tahun 2013, dirinya mulai menggeluti pekerjaan tersebut dengan menokok dan atau memukul sagu hingga menjadi tepung.

Lalu proses pengerjaan membutuhkan waktu lama antara satu sampai dua minggu, baru dapat menghasilkan tepung sagu basah. Itupun untuk satu batang sagu.

Setelah berjalan beberapa tahun, ia mencoba merakit sendiri peralatan agar dari cara memangkur, bisa dengan memarut. Peralatan dimaksud akhirnya bisa jadi dan dioperasikan tahun 2008.

Dari situlah, masyarakat melihat dan tertarik. Sehingga mereka bergabung dan dibentuklah satu kelompok. Namun masih menjual sendiri-sendiri setelah sudah dalam bentuk tepung basah.

“Memang saat menebang dan membelah batang sagu sekaligus dikuliti hingga parut, kami bekerja secara bersama. Tetapi ketika mulai meramas secara manual, dilakukan sendiri-sendiri,” ungkapnya.

Seiring dalam perjalanan, pemerintah Provinsi Papua mendapatkan informasi kalau masyarakat di Kampung Tambat-Merauke memproduksi sagu, tetapi masih manual. Dari situ, tim datang dan melihat secara langsung proses pengolahan, didampingi petugas Bank Papua.

Setelah melihat prospek pengolahan sagu menjanjikan, pada awal 2019, datanglah bantuan mesin produksi sagu untuk alat parut serta peramas. Sedangkan mesin pengering belum ada. Sehingga masih dengan cara manual yakni mengandalkan panas matahari.

Setelah dikeringkan, baru diambil dan diproduksi lagi menjadi tepung sagu. Sekaligus dibuatkan dalam kemasan untuk siap dijual kepada siapa saja yang hendak membeli.

Sarana minim, produksi tepung sagu masih terbatas 3 i Papua
Salah seorang ibu sedang memasukan tepung sagu ke dalam kemasan untuk siap dijual- Jubi/Frans L Kobun

Khusus harga, tepung sagu kering dijual Rp20 ribu per kilogram. Harganya agak mahal, karena proses pengangkutan bahan baku batang sagu dari lokasi penebangan masih manual. Belum lagi menyewa handtractor yang mengangkut dari lokasi menuju ke tempat produksi sekitar 2 kilometer.

“Kalau peralatan mendukung, kami bisa menurunkan harga 10 ribu rupiah per kilogram. Saya pernah ke Riau melakukan studi banding di sana. Memang harga di sana sangat murah, karena semua peralatan mendukung dan produksinya sangat besar,” katanya.

Oleh karena minimnya sarana pengangkut, maka dalam sehari kelompok itu hanya bisa memproduksi tiga pohon sagu yang hasilnya mencapai 1 ton 440 kilogram sagu basah. Satu  pohon saja dapat menghasilkan 480 kilo gram sagu basah.

Penyusutan hingga 1000 kilogram, setelah pengeringan dengan mengandalkan panas matahari.

“Kita belum memiliki peralatan untuk mengeringkan. Sehingga begitu diproduksi, dijemur lagi sampai kering. Baru dimasukan kembali ke dalam mesin untuk diproduksi menjadi tepung sagu,” ungkapnya.

Jika peralatan mendukung, dalam sehari kelompok dapat memproduksi sampai 10 batang pohon sagu. Karena peralatan mesin untuk produksi sangat baik. Dalam hitungan satu jam, satu pohon sagu dapat diparut dengan mesin.

Pengelolaan sagu juga dalam bentuk kelompok. Lalu hasilnya dijual bersama-sama. Namun sejauh ini pihaknya masih mengalami kesulitan pemasaran. Olehnya perlu intevensi pemerintah guna proses pemasaran.

Selama ini pihaknya bekerjasama dengan pemilik dusun agar bisa mendapatkan pohon sagu. Lalu harga pembelian satu pohon sagu ukuran besar Rp500 ribu. Sedangkan ukuran kecil biasanya Rp300 ribu.

Kepala Distrik Tanah Miring, Riski Firmansyah, mengakui pengangkutan batang sagu dari lokasi penebangan, masih dilakukan secara manual. Juga menyewa traktor agar dibawa hingga ke lokasi pabrik.

Awalnya masyarakat setempat mengolah sagu untuk dikonsumsi sendiri. Kalaupun ada permintaan, itu hanya waktu tertentu ketika ada upacara adat. Begitu dari dinas teknis melakukan pendampingan secara terus menerus, akhirnya masyarakat termotivasi memproduksi dalam jumlah banyak.

Dengan banyaknya pembeli, tepung sagu dapat diolah untuk aneka makanan termasuk membuat kue dalam berbagai jenis. Belum lagi sudah ada peralatan produksi. Sehingga masyarakat terus termotivasi dari waktu ke waktu.

Namun demikian, produksinya masih sangat terbatas. Karena proses angkut batang sagu, masih dengan cara manual. Sehingga waktupun tersita banyak di lokasi.

Saat ini tepung sagu telah diproduksi, sekaligus dimasukan dalam kemasan. Harganya Rp20 ribu per kilogram. Untuk itu, siapa saja yang membutuhkan, silakan datang membeli.

“Saya juga meminta kepada setiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD) agar membantu pemasaran di kota. Minimal ada yang dijual di bandara, sebagai oleh-oleh.” (*)

Editor: Yuliana Lantipo

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa