Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Satu tahun pengusiran warga Rohignya

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jakarta, Jubi- Trauma dalam ingatan kelam masih membekas dan sulit dilupakan Anuwara. Perempuan 33 tahun itu masih ingat betul ketika pria bersenjata tiba di desanya di sebelah utara Myanmar, saat itu ia berpikir bagaimana bisa melindungi enam anaknya.

Tak hanya itu, sewaktu penduduk desa membawa mayat suaminya, Anuwara berpikir bagaimana dia dan keluarganya bisa menyelamatkan diri. Suaminya adalah guru yang ditembak mati ketika pulang dari sekolah. Anuwara juga masih ingat betapa dia melarikan diri bersama enam anaknya, mulai dari berjalan kaki lalu naik perahu terombang-ambing ombak.

Satu tahun pengusiran warga Rohignya 1 i Papua

"Pria bersenjata menembak bocah sembilan tahun di depan mata kami," kata Anuwara, di laman the Guardian, Jumat (24/8/2018).

Menurut dia, aksi kekerasan bersenjata membuat ia dan warga di desanya buru-buru ingin menyeberangi sungai. “Karena orang-orang bersenjata itu mengejar di belakang. Sebagian dari mereka yang kabur itu tenggelam dan mati," ujar Anuwara.

Baru sebulan kemudian Anuwara dan enam anaknya bisa selamat sampai di Bangladesh. Mereka berlindung di bawah naungan sebuah tenda plastik yang didirikan dengan bambu. Dia mendapat bantuan makanan dan air secara rutin. Kini yang ia rasakan bagaimana setelah ini?

Kisah yang dialami Anuwara berawal pada 25 Agustus tepat satu tahun lalu, saat militan Rohingya menyerang sejumlah pos polisi Myanmar dengan bom rakitan dan pisau dan menewaskan 12 orang.

Loading...
;

Sebagai balasan, militer Myanmar melancarkan operasi pembersihan melawan mereka yang disebut teroris di desa-desa Rohingya. Serbuan ini menyebabkan ratusan ribu warga muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Setahun kemudian lebih dari 900 ribu orang Rohignya, kebanyakan anak-anak, tinggal di lima kamp penampungan di Distrik Cox Bazar, sebelah selatan Bangladesh. Kutupalong adalah salah satu kamp pengungsi terbesar di muka bumi, dihuni sekitar 700 ribu orang. Mereka hidup dari bantuan kemanusiaan.

"Tadinya tidak ada apa-apa di sini setahun lalu. Sekarang kami punya kota keempat terbesar di Bangladesh," ujar kepala Kelompok Sektor Internal, Sumbul Rizvi, yang mengkoordinir puluhan organisasi bantuan kemanusiaan di pengungsian.

Tapi sejauh ini belum ada jawaban memadai bagi pertanyaan Anuwara. Setahun setelah pengungsian besar-besaran dari Myanmar, belum ada yang tahu bakal seperti apa nasib orang Rohingya.

Kepala komisi bantuan dan pemulangan pengungsi, badan pemerintah Bangladesh yang mengurusi masalah pengungsi Rohingya, Muhammad Abdul Kalam Azad, menyatakan Bangladesh dan Myanmar sebetulnya sudah sepakat para pengungsi itu harus kembali, begitu pula dengan para pemimpin Rohingya. “Namun berbagai masalah membuat segalanya belum jelas," kata Azad. (*)

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top