Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Sayang Mandabayan minta Indonesia bisa merefleksi diri terkait perisitiwa rasisme di 2019

Papua
Ilustrasi protes rasisme berujung rusuh di Manokwari pada 19 Agustus 2019. (Jubi/Hans Arnold Kapisa)

Papua No.1 News Portal | Jubi

Manokwari, Jubi – Mantan tahanan politik (Tapol) anti-rasisme Papua Barat, Sayang Mandabayan, mengatakan, peristiwa rasisme yang terjadi pada Agustus 2019, seharusnya menjadi bahan refleksi Pemerintah Indonesia, untuk benar-benar mengindonesiakan orang Papua.

Sebagai negara penganut asas demokrasi terbesar di dunia, pemerintah Indonesia harus menerima sikap rakyat Papua di Papua dan Papua Barat yang saat ini menolak rencana perpanjangan Otonomi Khusus [otsus jilid II] melalui Petisi Rakyat Papua (PRP) yang sedang dijalankan.

“Satu tahun berlalu, saya berharap rasis sudah tak ada di Indonesia. Memang sulit menyatukan dua ras berbeda dalam satu bangsa. Dan saya pun sangat pesimis, bahwa tidak ada rasis di tanah Papua selama pemerintah Indonesia belum menjawab keinginan rakyat Papua [tolak otsus jilid II].” ujar Mandabayan kepada Jubi, Selasa (18/8/2020).

Sayang Mandabayan minta Indonesia bisa merefleksi diri terkait perisitiwa rasisme di 2019 1 i Papua

Dia mengatakan, amanat pasal 77 dalam UU Otsus Papua, adalah kunci mengapa PRP dijalankan, karena narasi di dalam [pasal 77 UU Otsus], mewajibkan rakyat Papua untuk menentukan sikap, ketika 21 tahun berakhirnya Otsus jilid I.

Jika pemerintah pusat menyatakan bahwa Otsus akan tetap berlanjut, kemudian dana Otsus akan ditambah. Ini adalah satu proses hukum yang tidak benar dan sangat rasis jika kemudian amanat UU Otsus pasal 77 tidak dilakukan oleh Pemerintah.

“Hari ini ada aksi-aksi nyata penolakan Otsus di Tanah Papua dan secara demokrasi negara harus melihat itu. Dan proses evaluasi Otsus jilid I harus dilakukan sebagaimana amanat pasal 77 UU Otsus,” bebernya.

Sebagai bahan refleksi satu tahun peristiwa rasis bagi Papua,  Mandabayan menyebutkan bahwa sampai saat ini masih ada aktivis pembela HAM dan penentang rasis berada dibalik jeruji penjara Indonesia. Mereka adalah korban rasis karena merasa harga diri mereka sebagai manusia dilecehkan, sehingga hukum yang berlaku terhadap mereka jangan semena-mena.

Loading...
;

“Sebagai perempuan yang pernah menjadi korban rasisme, saya meminta Pemerintah Indonesia segera bebaskan semua korban rasis yang masih ditahan dengan pasal Makar di seluruh penjara Indonesia,” pintanya.

Tahun ini, lanjutnya, merupakan momen dimana pemerintah Indonesia harus merefleksi diri, bahwa Pemerintah gagal mengindonesiakan Orang Papua.

“Mau pakai cara apapun, solusi terbaik untuk pemerintah Indonesia selesaikan konflik Papua, hanya dengan kembalikan hak penentuan nasib sendiri. Jangan lagi ada proses ‘Pepera 1969’, karena dengan mendorong Otsus jilid II adalah kita mengulang luka lama yaitu ‘Pepera 1969,” tukasnya.

Di tempat terpisah, Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, tak menampik bahwa di sisi lain Otsus dipandang tak menunjukkan keberhasilan. Akan tetapi di bidang pendidikan, penggunaan dana Otsus Papua di Provinsi Papua Barat telah menunjukkan keberhasilan.

“Keberhasilan Otsus di bidang pendidikan, bahwa sudah banyak anak-anak asli Papua asal kabupaten/kota di Papua dan Papua Barat yang dibiayai selama menempuh perkuliahan baik di perguruan tinggi dalam negeri maupun di luar negeri,” katanya.

Mandacan pun berharap, wacana perpanjangan otsus Papua [otsus jilid II] perlu didukung oleh semua pihak, sehingga program afirmasi pendidikan [biaya Otsus] bagi mahasiswa putra-putri asli Papua yang disebutkan tetap berjalan.

“Tidak saja bidang pendidikan, tetapi juga bidang kesehatan dan infrastruktur, kita masih butuh biaya untuk mengjangkau semua orang Papua yang ada di daerah-daerah terpencil yang sedang kita bangun,” ujar Mandacan. (*)

 

Editor: Edho Sinaga

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top