Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Sebanyak 2,8 ton sampah diangkut saat HPSN

Pembersihan sampah di Metu Debi saat HPSN 2019 - Jubi/IST
Sebanyak 2,8 ton sampah diangkut saat HPSN 1 i Papua
Pembersihan sampah di Metu Debi saat HPSN 2019 – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

SEJUMLAH pihak membersihkan Kota Jayapura, Papua saat memeriahkan Hari Peduli Sampah Nasional atau HPSN 2019. Pembersihan sampah disponsori Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Papua dan Balai Besar Konsevasi Sumber Daya Alam Papua, serta Pemerintah Provinsi Papua.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jayapura, Ketty Kailola, mengatakan ada tiga kelompok yang dibagi untuk membersihkan tiga lokasi berbeda, yakni di Hamadi, pulau Metu Debi, dan muara Kali Haya’an. Alhasil, mereka mengangkut 2,8 ton sampah pada Senin, 4 Maret 2019.

Sebanyak 2,8 ton sampah diangkut saat HPSN 2 i Papua

Sampah sebanyak itu terdiri dari 472 kilo botol plastik dan kaca 472 kilo dan sampah campuran 1,374 ton, sedangkan sampah plastik sebanyak 162 kilo.

“Sampah itu selanjutnya dibuang ke bank sampah,” kata Ketty.

Yanti dari Komunitas Peduli Sampah Jayapura meminta generasi masa depan Papua untuk menyadari pentingnya kebersihan lingkungan.

“Kita harus sadar akan dampak yang akan dihadapi nanti,” kata Yanti.

Loading...
;

Dia pun mengajak warga di kota yang pada 7 Maret 2019 ini merayakan hari jadi ke-109, agar tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak menggunakan bahan plastik.

Dia bahkan mendukung kebijakan Pemerintah Kota Jayapura yang memberlakukan noken jika berbelanja di mal-mal dan supermarket.

Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, mengatakan kewajiban kita adalah menjaga lingkungan dan kebersihan di kota ini. Dalam sambutan tertulis Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, wali kota mengatakan sedianya HPSN dilaksanakan 21 Februari 2019.

Namun, pihaknya baru membersihkan sampah di daerah konservasi Taman Wisata Alam Teluk Yoitefa pada 4 Maret 2019, dengan semangat HPSN dalam tema “Gerakan Indonesia Bersih” dan subtema “Kelola Sampah untuk Hidup Bersih, Sehat dan Bernilai”.

Gerakan Indonesia Bersih merupakan gerakan revolusi mental dengan Intruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016, yang difokuskan pada beberapa poin, di antaranya:

Pertama, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat lingkungan keluarga, satuan pendidikan, satuan kerja, dan komunitas;

Kedua, peningkatan sinergi penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang perilaku hidup bersih dan sehat;

Ketiga, pengembangan sistem pengelolaan sampah yang holistik dan terintegrasi, termasuk kali bersih, sarana dan prasarana pelayanan publik;

Keempat, penyempurnaan peraturan perundang-undangan (deregulasi);

Kelima, pemberian kemudahan bagi perusahaan atau swasta/embaga yang melakukan pengelolaan sampah;

Keenam, mengutamakan peran masyarakat di dalam menunjang perilaku bersih dan sehat; dan peningkatan penegakan hukum di bidang kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Menurut Tomi Mano, dulunya kawasan Enggros dan sekitarnya tidak ada sampah plastik, tetapi kini justru dipenuhi sampah plastik.

“Di Kota Jayapura ini rata-rata penghuninya adalah orang perpendidikan, tetapi kesadaran untuk membuang sampah kurang. Orang buang tisu dari mobil hanya membuang begitu sembarang, dan saya kadang melihat kota ini penuh sampah, saya sedih,” katanya di Pantai Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.

Menurut dia kota ini ditanami pohon sejak pemerintahan sebelumnya. Namun, pohon-pohon itu kini jarang ditemukan pohon di pinggiran jalan.

Dia mengakui sudah merekut 500 orang untuk membersihkan kota ini dari sampah.

Ketua Files Nature Teater, Gamel Abdel Nasser, menilai meski pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menyadarkan warga terkait bahaya sampah, ternyata tidak sepenuhnya  dipahami. Ini terbukti dari aksi HPSN di pantai Hamadi, Muara Kali Hanyaan dan Metu Debi, yang ditemukan banyak sampah.

“Tak perlu jauh-jauh, di lokasi acara, di bawah panggung, kami berhasil mengumpulkan belasan trash bag berisi sampah. Artinya banyak sampah yang dIbuang di bawah panggung,” katanya.

Lalu di Metu Debi, yang notabene tempat masuknya Injil, banyak ditemukan sampah juga.

“Harusnya kita sepakat tempat-tempat seperti ini dijaga. Bukan terbiar. Yang jelas sampah-sampah ini datang dari masyarakat kota– smart city dengan masyarakat yang intelektualnya cerdas tapi belum ramah terhadap lingkungan,” ujar pria yang bekerja sebagai jurnalis di salah satu media di Kota Jayapura ini. (*)

Editor: Timo Marten

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top