HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Sejarah Injil Papua jadi barometer kerukunan umat beragama

Muhamad Lakotani, Wakil Gubernur Papua Barat. (Jubi/Hans Arnold Kapisa)
Sejarah Injil Papua jadi barometer kerukunan umat beragama 1 i Papua
Muhamad Lakotani, Wakil Gubernur Papua Barat. (Jubi/Hans Arnold Kapisa)

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Manokwari, Jubi – Berpijak dari doa sulung Ottow dan Geisler “Dengan nama Tuhan kami menginjak tanah ini” pada tanggal 5 Februari 1855 (164) tahun silam, menjadi hari sejarah peradaban umat Kristen di Tanah Papua tapi juga meninggalkan pesan yang tidak terpisah sepanjang sejarah umat beragama di tanah Papua dan Indonesia.

Wakil Gubernur Papua Barat, Muhamad Lakotani mengatakan umat muslim tidak terlepas dalam sejarah masuknya Injil di tanah Papua. Karena kapal yang ditumpangi dua misionaris saat itu adalah kapal milik Sultan Tidore yang beragama Islam.

Sejarah Injil Papua jadi barometer kerukunan umat beragama 2 i Papua

Dari cerita sejarah perjalanan dua misionaris dan melalui perantara Sultan Tidore tentu memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi peradaban kerukunan beragama di atas tanah Papua dan Indonesia.

“Mewakili umat muslim, kami mengucapkan selamat ulang tahun pekabaran injil ke 164, dan kami  harap momen perayaan HUT pekabaran injil ini jadi momentum untuk bangkitkan kembali semangat kerukunan hidup antar umat beragama,” ujar Lakotani di pulau Mansiman, Selasa (5/2/2019).

Dikatakan Lakotani, nilai-nilai Injil atau yang dikenal dengan kabar baik ini harus terus tertanam dalam kehidupan setiap generasi di atas tanah Papua sesuai pemberitaan Firman dalam ibadah perayaan HUT pekabaran Injil tahun ini.

“Sebagaimana firman yang disampaikan oleh pendeta pada ibadah di Pulau Mansinam hari ini, maka saya ajak kita semua bisa diwujudnyatakan dalam kehidupan  sehari-hari,” katanya.

Loading...
;

Lakotani berharap, semangat Injil benar-benar akan mendorong semua stakeholder di tanah Papua khususnya di Papua Barat, supaya bekerja lebih giat serta meninggalkan hal-hal yang tidak sesuai dengan makna Injil itu sendiri.

Lakotani juga mengimbau kepada para kontestan pemilu legislatif 2019, diimbau untuk menjaga kekerabatan dan toleransi yang sudah terjaga harmonis saat ini.

“Ungkapan atau bahan yang dipakai saat kampanye agar dapat dikemas sedemikian rupa, sehingga mempererat hubungan toleransi sesame umat beragama yang sudah tercipta selama ini, bukan sebaliknya. Ini harapan dari Pemerintah dan seluruh masyarakat  di tanah Papua,” ujar Lakotani.

Derek Ampnir, Wakil ketua Jemaat GKI Efata Manggoapi di Manokwari menambahkan sebagai bentuk penghargaan dan demi menjaga nilai-nilai historis religi dan kerukunan umat beragama, maka seharusnya panitia penyelenggara juga harus menundang perwakilan dari Kesultanan Tidore disetiap perayaan 5 Februari.

Hal ini, kata Ampnir, perlu dilakukan secara terus menerus sehingga cerita sejarahnya tidak putus di generasi muda saat ini. Pasalnya, dengan pengaruh modernisasi sekarang, upaya para tokoh agama dan pelaku sejarah yang masih ada harus bersinergi untuk mencipatakan generasi injil yang takut Tuhan dan hargai sejarah peradaban.

“Saya harus kritisi bagian ini. Karena ini penting untuk masa depan generasi Papua. Jangan hanya mendengar tentang sejarah Injil tapi bisa menyaksikan langsung di pulau Mansinam bahwa, lewat peranan para saudagar atas izin Sultan Tidore maka dua Misionaris Jerman bisa diantar sampai di pulau Mansinam.

Tidak boleh putus  sejarah ini. Bahwa sejak awal peradaban, kerukunan itu sudah ada, oleh sebab itu sampai sekarang ini tanah Papua adalah simbol toleransi umat beragama di Indonesia,” ujar Ampnir. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top