Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Semangat berusaha anak muda Papua

Café Andre miliki Hesty Imelda Kere di Dermaga Kalkhote, Kampung Harapan, Sentani – Jubi/Agus Pabika
Semangat berusaha anak muda Papua 1 i Papua
Café Andre miliki Hesty Imelda Kere di Dermaga Kalkhote, Kampung Harapan, Sentani – Jubi/Agus Pabika

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Hesty Imelda Kere membagikan tulisan motivasi kepada anak muda Papua. Di antaranya dia menulis begini.

“Kita berada di atas tanah kita, kenapa kita tidak menjadi tuan di atas tanah kita sendiri? Ini kan yang menjadi impian pemimpin-pemimpin Papua, ketika seorang anak Papua bisa bekerja di atas tanahnya sendiri dan dia bisa menghasilkan dan menjadi pemilik dari usahanya sendiri.”

Semangat berusaha anak muda Papua 2 i Papua

Kere adalah pemilik Cafe Andre yang terletak di samping Dermaga Kalkhote, Kampung Harapan, Sentani.

Ia mengatakan untuk mereka yang ingin memulai usaha, paling tidak punya passion. Ini untuk melihat arah atau potensi yang bisa dikembangkan sehingga bisa menjadi berkah bagi orang banyak.

“Lakukan dulu, kalau menghadapi kendala, gagal, bangkit lagi dan lakukan lagi, karena saya sudah buka kafe ini lima kali gagal, tapi saya tetap tidak akan pernah berhenti dan saya akan tetap jalan,” ujarnya.

Cafe Andre di robing area sudah berjalan empat bulan. Meski kafe tersebut terlihat sederhana, namun memiliki keunggulan menyajikan menu-menu khas Papua. Salah satu ikan gabus Danau Sentani yang merupakan ikan endemik Danau Sentani.

Loading...
;

“Selain menu ikan gabus Danau Sentani, ada juga mujair dari Danau Sentani yang masih segar, juga ada ubi-ubi dan sayur-sayur yang memang asli dari Papua,” kata Kere yang juga seorang wartawati Papua di Jayapura.

Umbi-umbian dan sayur-sayuran khas Papua tersebut, katanya, diolah dan disajikan sedemikian rupa sehingga menghasilkan cita rasa tersendiri di Cafe Andre.

Sedangkan umbi-umbian diolah menjadi menu baru, seperti ubi dicampur keju. Selain itu juga ada keladi tumbuk. Untuk mengolahnya ia mempekerjakan empat orang mama-mama asli Papua yang masih berhubungan keluarga dengannya.

“Cafe Andre menu tradisional tapi memiliki cita rasa nasional,” katanya.

Harga menu ditarif per paket yang bisa disantap tiga hingga empat orang. Misalnya paket papeda, ikan gabus, ubi, dan sayur Rp 200 ribu.

Ikan gabus besar yang disebut orang Sentani dengan “Kahebei”, artinya ikan gabus kelas besar, merupakan menu yang selalu ia pertahankan. Ia berburu Kahebei di Pasar Sentani maupun ke nelayan di Danau Sentani. Kahebei ini sebenarnya menu khas yang biasa dihidangkan kepada Ondoafi (kepala suku) di Sentani.

Kere mengaku kafenya mulai banyak pengunjung. Ada kegiatan reuni sekolah dan bahkan juga pernah dikujungi Dewan Gereja Dunia.

“Mereka cukup terkejut karena bisa ada tempat yang bagus seperti ini yang menghadap langsung ke Danau Sentani,” ujarnya.

Menjelang PON 2020, Kere optimistis kafenya akan semakin banyak pengunjung karena lokasinya dekat dengan Stadion Utama “Papua Bangkit”.

“Yang jelas saya mau yang terbaik, kehadiran Café Andre bisa menjual Danau Sentani, potensi kuliner khas Papua di Danau Sentani, dan juga membuka lapangan pekerjaan buat masyarakat sekitar, terutama keluarga dekat saya,” katanya.

Kere memiliki rencana pengembangan, termasuk membuka penginapan untuk awal dua sampai tiga tamu. Namun karena memulai usaha dengan modal sendiri yang terbatas ia mengembangkannya dengan perlahan.

Bahkan ia juga berkeinginan membuka live music dan karaoke untuk pengunjung.

“Kafe ini mampu menampung 200 pengunjung, karena posisi hanya tambatan perahu saja, tapi kalau dihitung sampai di lapangan parkiran bisa menampung 500 orang karena lahan kita cukup luas,” katanya.

Kere juga mempublikasikan menu barunya di media sosial dan membuka pemesanan untuk keluarga dan acara kantor. Itu salah satu cara agar masyarakat mengetahui ada kafe yang bisa dijadikan alternatif. Setiap hari kafenya buka dari pukul 11 siang hingga pukul 21 malam.

Meski memodali usaha kafenya dengan Rp 20 juta, dalam empat bulan, Kere sudah bisa beromset Rp 10 juta sebulan. Ia menyadari, keterbatasan modal masih menjadi kendala untuk melayani lebih banyak pengunjung.

Yang menarik, Café Andre juga menyediakan aneka aksesori khas Papua, mulai dari noken hingga mahkota dari berbagai wilayah seperti pegunungan dan pesisir. Aksesori ini bisa disewa pengunjung sekali pakai Rp 30 ribu untuk berfoto di depan Danau Sentani di Khalkote.

“Meski sudah membuka kafe aktivitas saya sebagai wartawan masih tetap jalan karena ada orang yang menjalankan kafe sehari-hari,” katanya.

Semangat Mama Helena

Semangat perempuan Papua dalam berusaha juga terlihat pada Mama Helena Oagai. Perempuan asal Wamena ini sehari-hari menjadi pengepul sekaligus penjual ikan mujair di Pasar Regional Youtefa Kota Jayapura.

Ia menjalankan usahanya sejak 2005 seorang diri dan membeli ikan dengan modal Rp 500 ribu.

“Selama ini hasil dari penjualan ikan saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari keluarga dan biaya sekolah anak-anak,” katanya kepada Jubi, Selasa, 5 Maret 2019.

Meski ia mengaku pendapatannya tidak sebesar usaha lain, merasa cukup puas.

“Saya tinggal di Koya dan itu dekat dengan kolam milik warga, jadi biasa beli dari situ lalu jual kembali dalam jumlah kiloan di Pasar Youtefa,” katanya.

Selama menjalankan usahanya, kendala yang sering ia hadapi adalah kekurangan modal untuk mengembangkan usahanya agar lebih maju. (*)

Editor: Syofiardi

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top