Follow our news chanel

Previous
Next

Seorang bayi di Bogor meninggal sempat ditahan rumah sakit

Ilustrasi bayi Papua
Madlen Deutschenbaur/Pixabay

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Seorang bayi anak Edi Suryanto, warga Kampung Tarikolot RT 002/06, Kelurahan Nanggewer Mekar, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor yang meninggal, sempat ditahan rumah sakit RSUD Cibinong tempat sang bayi sebelumnya dirawat.

Edi mengaku ia harus membayar Rp 35.576.600 terlebih dahulu dan baru bisa membawa jenazah bayinya itu untuk dimakamkan. “Padahal pembiayaan sudah dijamin oleh Pemerintah melalui surat yang dikeluarkan oleh Dinkes,” kata Edi di kediamannya, Sabtu malam, 18 Juli 2020.

Baca juga : Lagi, seorang bayi berstatus PDP Covid-19 meninggal

Info KLB kematian anak di Distrik Kembu Tolikara, hoaks

Pemkab Tolikara sedang pastikan informasi KLB kematian anak di Kembu

Ia bisa membawa serta jenazsah bayi yang baru saja dilahirkan setelah ada jaminan pembiayaan persalinan istrinya itu dikeluarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor dengan nomor 2060/KESGAGIZI/KESMAS, pada 9 Juni 2020. Surat itu ditandatangani Kepala Seksi Kesga dan Gizi Masyarakat, Toni Rohimat.

Loading...
;

Menurut Edi, kisah yang dialami ketika istrinya hendak melahirkan di RSUD Cibinong menggunakan Jaminan Persalinan (Jampersal). “Jaminan ini ditandatangani RT, RW, Lurah, Camat dan ada surat keterangan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor,” kata Edi menambahkan.

Setelah persalinan, Edi mengatakan sang bayi tak bisa segera dibawa pulang karena ada kelainan. Anaknya itu kemudian harus masuk ruang perawatan khusus atau NICU selama beberapa hari di RSUD. “Tepatnya 41 hari, anak saya meninggal hari Jumat kemarin tanggal 17,” kata Edi menjelaskan.

Namun saat hendak membawa jenazah sang anak, Edi menyebut sempat ditahan pihak RSUD sekira lima jam lamanya karena harus membayar biaya perawatannya. Edi mengaku diminta melunasi biaya sebesar Rp 35 juta lebih dengan alasan yang dijamin oleh Pemerintah ternyata hanya sampai masa perawatan 28 hari.

Sedangkan anaknya itu dirawat 41 hari, artinya dia mengira biaya itu adalah pembayaran sisa hari dari keseluruhan.

Akhirnya dia mengaku cuma mampu bayar DP Rp 1 juta, sisanya dibuat pernyataan wajib segera bayar dan harus lunas pada Senin 20 Juli 2020.

“Setelah itu jenazah anak saya diperbolehkan pulang, namun uang sebesar itu dari mana. Saya tak sanggup bayar,” kata Edi memelas.

Kepala Bidang Pelayanan RSUD Cibinong, Fusia Meidiawati membantah klaim penahanan bayi tersebut. Dia menjelaskan jenazah bayi itu sempat tertunda kepulangannya karena harus menjalani prosedur pemulasaran.

“Jadi di kami pun ada SOP (standar prosedur operasional)-nya. Info dari perawat si bayi meninggal malam hari, bahkan kami kasih pelayanan terbaik dan kami beri tahu juga si bapaknya dan dia mengerti,” kata Fusia.

Menurut Fusia Istri Edi melahirkan bayi tersebut pada pada 7 Juni 2020, sehingga Jaminan Persalinannya hanya sampai 5 Juli 2020. Setelah itu pengelola rumah sakit mengarahkan orang tua si bayi mengurus Jaminan Kesehatan Daerah atau Jamkesda untuk alternatif pembiayaan si bayi.

“Ini dilakukan karena proses aktivasi BPJS si bayi baru aktif pada 21 Juli,” kata Fusia menjelaskan.

Ia  memperkirakan saat sedang proses Jamkesda itu, pada 17 Juli pukul 18.00 bayi tersebut meninggal di ruang inkubator dan dibawa ke Instalansi Pemulasaran Jenazah pada pukul 18.15. Hingga pukul 20.00 proses pemulasaran sudah selesai.

Fusia mengakui staf-nya tidak mengetahui tentang proses Jamkesda tersebut. Edi, kata Uci, juga tidak memberitahu. “Sehingga terbitlah surat jaminan itu, karena untuk tertib administrasi,” katanya. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top