Seorang tersangka di Biak Numfor praperadilankan polisi

Papua
Kuasa hukum tersangka Yehezkiel Boseran dari LBH Kyadawun usai mendaftarkan permohonan praperadilan di Pengadilan Negeri Biak Numfor - Jubi. Dok LBH Kyadawun

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Seorang pemuda di Kabupaten Biak Numfor, Papua, Yehezkiel Boseran (28 tahun) mempraperadilankan polisi.

Sebab, penetapannya sebagai tersangka pelanggar Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 oleh Polsek Warsa beberapa waktu lalu, dinilai ambigu atau tidak pasti.

Kuasa hukum tersangka dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kyadawun Gereja Kristen Injili Klasis Biak Selatan, Imanuel Rumayom mengatakan pihaknya telah mendaftarkan permohonan praperadilan kliennya ke Pengadilan Negeri Biak Numfor, Selasa (24/8/2021).

“Termohon adalah Kepala Kepolisian Negera Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Daerah Papua, Kepala Kepolisian Resor Biak Numfor, dan Kepala Kepolisian Sektor Warsa,” kata Imanuel Rumayom kepada Jubi, Rabu (25/8/2021).

Menurutnya, kliennya mengajukan praperadilan lantaran warga Kampung Inswambesi, Distrik Warsa, Kabupaten Biak Numfor merasa ada upaya kriminalisasi terhadapnya.

Beberapa dasar hukum pihaknya mengajukan permohonan praperadilan, di antaranya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 21/PUU-XII/2014, dan Putusan MK Nomor 130/PUU-XIII/2015.

Katanya, penetapan Boseran sebagai tersangka berawal ayahnya, Abner Boseran (61 tahun) dikeroyok empat orang pada 9 Maret 2021 silam.

Loading...
;

Mendengar ayahnya dikeroyok, Yehezkiel Boseran menuju ke lokasi. Akan tetapi, tanpa sengaja membawa pisau dapur. Sebab ketika itu, ia sedang membuat kacamata molo (kacamata menyelam).

“Inilah yang dijadikan dasar menetapkan klien kami sebagai tersangka, dan melanggar Undang-Undang Darurat. Padahal pisau yang dibawanya tidak dipergunakan untuk melukai orang,” ujarnya.

Katanya, penetapan tersangka oleh Polsek Warsa dan Polres Biak Numfor tidak tepat, dan ada yang janggal. Kejanggalan itu di antaranya, pisau yang dibawa kliennya merupakan alat kerja sehari hari.

Dalam Pasal 2 Ayat (2) UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951, secara spesifik mengatur senjata tajam untuk alat pertanian, alat dapur atau benda pusaka tidak dapat dipidanakan. Pisau yang dibawa kliennya, dapat dikategorikan peralatan pertanian atau alat dapur.

Ia mengatakan, dalam surat panggilan terhadap tersangka, tidak dicantumkan secara spesifik urian kejadian tindak pidana apa yang dilakukan Yehezkiel Boseran.

“Terkesan pasal ini digunakan mengkriminalisasi masyarakat biasa. Kami menilai, penyidik Polsek Warsa dan Polres Biak Numfor keliru dalam menetapkan tersangka melanggar Undang-Undang Darurat,” ucapnya.

Sebelumnya, tersangka Yehezkiel Boseran mengatakan, ia tanpa sadar membawa pisau ke lokasi pengeroyokan ayahnya.
Sebab, saat mendengar ayahnya dikeroyok ia sedang melakukan aktivitas pekerjaan rumah sehari hari.

“Saat tiba di lokasi, saya sempat hendak dikeroyok pelaku yang mengeroyok ayah saya,” kata Boseran.

Namun katanya, karena para pelaku melihat ia membawa pisau, mereka akhirnya mengurungkan niatnya dan pergi meninggalkan tempat kejadian.

Sementara itu, Abner Boseran, ayah tersangka yang menjadi korban pengeroyokan meminta salah satu pelaku yang diduga pejabat pemerintahan salah satu kampung di Biak Numfor, diberhentikan dari jabatannya.

“Saya meminta Bupati Biak Numfor, memberhentikan oknum pejabat Kampung Inswambesi itu dari jabatannya,” kata Abner Boseran.

Sebab katanya, kini oknum tersebut sudah berstatus tersangka bersama tiga orang lainnya.

“Agar dia fokus menghadapi kasus hukum yang kami laporkan. Akibat tindakan pengeroyokan itu, salah satu mata saya kini tidak berfungsi. Sebagai pejabat di kampung, oknum itu mestinya menjadi contoh dan teladan di tengah masyarakat,” ucapnya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top