Follow our news chanel

Previous
Next

Setahun konflik Nduga, pengungsi merasa dilupakan

Pemasangan lilin dalam ibadah untuk mengenang setahun konflik Nduga, di Gereja Kingmi jemaat Weneroma. -Jubi/Islami
Setahun konflik Nduga, pengungsi merasa dilupakan 1 i Papua
Ibadah bersama yang dilakukan tim relawan Nduga di Gereja Kingmi jemaat Weneroma. -Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Wamena, Jubi – Tim relawan pengungsi Nduga, Rabu (4/12/2019), menyelenggarakan ibadah bertempat di Gereja Kingmi jemaat Weneroma, Elekma, Kabupaten Jayawijaya untuk memperingati setahun konflik Nduga, 4 Desember 2018 – 4 Desember 2019.

Para relawan menilai, pada 4 Desember 2018 dimulainya penyerangan terhadap kelompok TPN-PB oleh aparat gabungan, setelah adanya kasus pembunuhan karyawan PT. Istaka Karya di wilayah Yigi dan sekitarnya.

Ibadah peringatan setahun konflik Nduga dihadiri sejumlah pengungsi yang ada di wilayah Jayawijaya, anak-anak sekolah, solidaritas dan relawan pengungsi Nduga, ditandai pemasangan lilin yang ditujukan untuk masyarakat Nduga.

Tim relawan pengungsi Nduga, Dolia Ubruangge mengatakan, dari data yang diketahui tim relawan sebanyak 238 warga sipil meninggal dunia disebabkan tiga faktor, seperti terkena tembakan aparat, sakit di pengungsian, serta kelaparan saat bersembunyi di tengah hutan belantara.

“Sesungguhnya bukan hanya 238 orang saja, korban pengungsi ini diketahui lebih dari itu. Karena korban yang ada di data kami, mereka yang meninggal dunia di Wamena dan Kuyawage. Dimana hal itu didapat setelah warga melaporkan ke tim relawan,” kata Dolia Ubruangge.

Menurutnya, ada juga pengungsi yang meninggal tapi keluarganya tidak melaporkan ke tim relawan maupun tim kemanusiaan Nduga, sehingga tidak masuk dalam data.

Loading...
;

“Sebenarnya pengungsi Nduga mau datang ibadah, tetapi mereka masih merasa takut dan trauma, ketika diakomodir untuk ikut ibadah hal itu tidak dapat dipaksakan,” katanya.

Pengungsi merasa dilupakan

Kata Dolia Ubruangge, sudah setahun konflik Nduga namun para pengungsi merasa tidak diperhatikan atau dilupakan baik oleh pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten.

Ia berharap ke depannya agar pemerintah dapat melihat kondisi penanganan pengungsi, dan pemerintah jangan hanya melihat dari satu sisi yaitu dari segi politiknya, tetapi harus melihat pula dari sisi kemanusiaannya.

“Satu tahun ini tidak ada penanganan dari pemerintah, dimana bantuan yang diterima hanya dari gereja-gereja dan solidaritas masyarakat lainnya,” katanya.

Tim relawan pengungsi Nduga lainnya, Arim Tabuni mengaku ibadah ini dilakukan untuk mengingat bahwa kejadian di Nduga pernah terjadi, dan sudah setahun ini masyarakat di 11 distrik yang terdampak konflik belum kembali ke kampung mereka masing-masing.

“Pengungsi Nduga sampai hari ini ada di mana-mana, di kampung tidak ada orang. Jika ada yang bilang semua masyarakat sudah kembali ke kampung-kampung, itu tidak ada,” kata Arim Tabuni.

Ia pun menyinggung janji Presiden Joko Widodo jika operasi militer hanya tiga bulan, tetapi sampai hari ini masih ada penyerangan di wilayah Nduga.

“Hingga kini masih ada penyerangan seperti di Alguru, jadi sudah jelas presiden gagal dalam penanganan Nduga,” katanya.

Setahun konflik Nduga, pengungsi merasa dilupakan 2 i Papua
Pemasangan lilin dalam ibadah untuk mengenang setahun konflik Nduga, di Gereja Kingmi jemaat Weneroma. -Jubi/Islami

Sementara itu, Kepala Distrik Yigi, Nduga, Lenus Gwijangge juga mengaku masyarakat di distriknya tidak berada di kampung sejak 4 Desember 2018 sampai sekarang.

“Usai penyisiran di Distrik Yigi pada 4 Desember 2018, semua masyarakat langsung keluar dari kampung mereka, lari ke hutan-hutan, di gua-gua sehingga tidak sedikit yang menjadi korban,” kata Lenus Gwijangge.

Ia bersama masyarakat memilih mengungsi, karena situasi di Yigi pasca-penyisiran aparat juga masing genting.

“Jika ada yang bilang distrik itu aman dan sudah ada masyarakat yang kembali, itu omong kosong. Rumah-rumah warga semua terbakar, maka saya berpikir kalau kembali ke kampung mau tinggal di mana? Termasuk masyarakat di 11 distrik seperti Mapenduma, Ndal, Mbulmuyalma semua mengungsi ke Wamena, Lanny Jaya, Keneyam ibu kota Nduga,” katanya.

Selama mengungsi, Lenus Gwijangge mengaku pernah kembali ke Yigi pada Juli 2019, untuk membawa bahan makanan tetapi masyarakat sudah tidak ada.

Sistem pendidikan dan kesehatan bagi pengungsi tak jalan

Konflik di Nduga juga hingga kini berdampak pada anak-anak sekolah. Meski awalnya dibangunkan sekolah darurat di halaman Gereja Weneroma, namun memasuki tahun ajaran 2019 sekolah tersebut sudah tidak beroperasi.

Tim relawan, Raga Kogoya mengatakan data anak sekolah yang ada di relawan sebanyak 1.000 lebih. Tetapi tim relawan mengaku kewalahan menangani mereka apalagi anak-anak ini akan menghadapi ujian.

“Kami berusaha menghubungi Pemerintah Kabupaten Nduga dalam hal ini sekda dan kepala Dinas Pendidikan tetapi tidak ada respons, padahal siswa SD kelas VI, SMP kelas IX dan SMA kelas XII harus menghadapi ujian nasional tahun depan. Sehingga hal ini yang kami minta tolong diperhatikan,” kata Raga Kogoya.

Untuk itu, ia berharap Pemerintah Kabupaten Nduga dapat melihat kondisi pengungsi saat ini karena banyak anak-anak sekolah yang terlantar.

“Memang relawan tidak punya kewenangan untuk menaikkan dan meluluskan anak-anak sekolah ini, makanya kami hanya minta pemerintah mendatangkan guru dan ajar mereka di Wamena, tetapi hingga kini hal itu tidak ada,” katanya. (*)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top