Follow our news chanel

Previous
Next

Setelah kondisi aman, warga pendatang akan kembali ke Wamena

Warga Minang Sumatra Barat saat ini tinggal di posko pengungsi di Sentani - Jubi/Engel Wally
Setelah kondisi aman, warga pendatang akan kembali ke Wamena 1 i Papua
Warga Minang Sumatra Barat saat ini tinggal di posko pengungsi di Sentani – Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Papua sudah seperti kampung halaman dan rumah sendiri bagi sebagian besar warga pendatang yang telah belasan bahkan puluhan tahun hidup di surga kecil yang jatuh ke bumi ini, sebutan lain bagi Bumi Cenderawasih Papua.

Secara khusus di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, pasca kerusuhan yang terjadi pada Senin (22/9/2019) pekan kemarin, memaksa 3.972 jiwa mengungsi. Sebanyak 725 orang sudah berada di Sentani, Kabupaten Jayapura, yang terbagi dalam beberapa pos penampungan. Lanud Silas Papapre, Yonif 751 R Sentani, Rindam XVII Cenderawasih, Tabita dalam, Al-Aqso Sentani, dan Musholla At-Taqwa Sentani.

“Kita lihat ke depannya, kalau sudah aman saya pasti akan balik lagi ke Wamena karena semua harta benda saya masih di sana,” ujar Mus Mulyadi, warga masyarakat berdarah Minang Sumater Barat, di posko penampungan Ikatan Keluarga Minang (IKM) di Sentani, Senin (30/9/2019).

Dikatakan, sehari sebelum terjadi keributan dan hingga rusuh di Kota Wamena, dirinya yang setiap hari bekerja sebagai pedagang makanan siap saji tidak merasakan adanya tanda-tanda yang mencemaskan.

“Saya dan keluarga sudah di Wamena sejak 2006. Kami hidup berdampingan dan sangat rukun. Masyarakat lokal, secara khusus orang Lembah Baliem sudah seperti keluarga saya sendiri. Ada anak-anak dari mereka yang juga saya bantu sekolahkan mereka. Jadi yang namanya konflik horizontal di antara kami hampir tidak ada,” tuturnya.

“Waktu kerusuhan terjadi, saya bersama keluarga dan sebagian besar warga pendatang dari berbagai daerah, kami semua diungsikan oleh masyarakat lokal ke dalam gereja. Mereka juga yang menjaga serta mengawal kami sepanjang hari itu,” imbuhnya.

Loading...
;

Menurutnya, kerusuhan yang terjadi di Wamena sesungguhnya tidak dilakukan oleh masyarakat asli penghuni Lembah Baliem. Ada pihak-pihak dari luar yang sengaja menciptakan kondisi ini dengan memanfaatkan situasi yang sedang hangat-hangatnya dengan isu rasial dari luar Papua.

“Untuk sementara kita di Sentani dulu. Memang sebagian besar harta benda seperti tempat jualan dan sebagian rumah sudah hangus terbakar. Kalau kondisi aman, kita pasti kembali lagi untuk memulai usaha kita dari awal lagi,” tukasnya.

Terkait kepulangan warga masyarakat asal Sumatera Barat ke kampung asalnya, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengatakan hampir seluruh warganya enggan meninggalkan Papua karena Papua sudah menjadi  rumah kedua.

Nasrul Abit juga telah bertemu dengan masyarakatnya di Wamena, Kabupaten Jayawijaya pasca aksi demo berujung amuk massa yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa beberapa waktu lalu.

“Mereka juga tidak ingin pulang karena kalau pulang pun mereka mau kerja apa. Mereka bilang sudah lahir dan besar di Papua jadi ingin tetap tinggal di Papua. Itu kata warga Minang yang saya temui di Wamena,” katanya.

“Saya sudah dari Wamena, warga Minang di sana ada 981 orang, 672 masih berada di Papua dan 300 lebih itu sudah mengungsi. Kami tidak mengetahui apakah warga kami masih di Papua atau sudah pulang ke Minang (Sumatera Barat),” katanya kepada wartawan, malam di Gedung Negara, Kota Jayapura, Minggu (29/9/2019) malam. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top