Follow our news chanel

Sistem online sulitkan calon mahasiswaa daerah masuk Uncen

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Sejumlah lulusan SMA datang ke kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) di Abepura, Senin, 5 Juni 2018. Ada yang datang sendiri, namun sebagian besar diantar senior mereka. Mereka datang untuk mengecek jadwal dan syarat penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri, sebab jalur regular seperti SNMPTN dan SBMPTN sudah lewat.

Ernes Mirin, 18 tahun, adalah salah satunya. Ia baru lulus SMA di Kabupaten Yahukimo dan datang ke Jayapura untuk kuliah. Ia mengaku belum tahu mana kampus yang bagus sebelum seniornya menceritakan bahwa kampus yang baik untuk anak-anak Papua dan yang orang tuanya kurang mampu adalah Uncen.

“Biayanya sangat pas untuk orang tua ekonomi lemah,” kata Mirin.

Mirin mengaku pernah mendengar informasi terkait penerimaan mahasiswa baru jalur SBMPTN, tetapi harus mendaftar melalui online. Ia dan kawan-kawannya tidak mendaftar karena di Yahukimo susah mengakses internet.

“Mau daftar online sangat susah karena satu jam warnet di Yahukimo mahal, Rp 20 ribu,” katanya.

Akhirnya ia menanyakan ke senior di Jayapura untuk pendaftaran gelombang ketiga. Maka ia datang ke Uncen untuk mendaftar pada gelombang ketiga, yaitu Jalur Mandiri.

Loading...
;

Mirin ingin kuliah di Jurusan Teknik Elektro. Jika masuk USTJ biayanya cukup mahal. Karena itu ia memilih masuk Uncen yang biayanya lebih murah.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uncen, Paskalis Boma, mengatakan selama ini penerimaan mahasiswa baru di Uncen tidak terlepas dari kementerian pusat (Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi). Beberapa jalur penerimaan mahasiswa baru seperti SNMPTN dan SBMPTN dari pusat, bukan Uncen.

“Di daerah yang jadi panitia penerimaan juga orang pusat, bukan daerah. Inilah yang menjadi susah untuk orang asli Papua yang berada di kabupaten pemekaran dan akses internet tidak ada untuk bisa mendaftar, karena semua online,” katanya kepada Jubi.

Karena itu, dalam proses penerimaan seperti inilah terkadang terjadi masalah sampai terjadi pemalang kampus berminggu-minggu.

“Itu karena adik-adik yang dari daerah mereka datang ke Jayapura dengan niat masuk Uncen, tetapi kuotanya sudah penuh oleh jalur undangan, SNMPTN, dan SBMPTN, akhirnya mereka diterima di Jalur Mandiri saja, itu diusulkan oleh jurusan, akhirnya banyak anak-anak asli Papua memilih ke Perguruan Tinggi Swasta dengan biaya yang mahal sehingga mempersulit orang tua mereka,” ujarnya.

Boma mengatakan sudah bertemu dengan Rektor Uncen membahas hal ini, yaitu bagaimana orang Papua calon mahasiswa 2018 tidak hanya diterima pada Program Ekstensi (Jalur Mandiri), tapi juga regular. Dengan masuk reguler mereka lebih berkembang.

“Tapi kita tidak bisa memaksa Ucen karena infrastruktur juga tidak mencukupi yang menyebabkan penerimaan terbatas, bahkan di FISIP mahasisnya sampai duduk di luar dan di lantai karena volume mahasiswa tidak sebanding dengan insfrastruktur yang tersedia,” katanya.

Menurut Boma, ini mesti menjadi perhatian bupati-bupati yang ada di Provinsi Papua, karena kebanyakan anak-anak Uncen berasal dari daerah.

Pembantu Rektor I Uncen Onesimus Sahuleka, menjelaskan sebenarnya setiap tahun penerimaan khusus untuk putra-putri Papua selalu bertambah.

Ada tiga jalur penerimaan di Uncen, yaitu SNMPTN, SBMPTN, dan Mandiri. SNMPTN dan SBMPTN bersifat nasional, sedangkan Jalur Mandiri dilakukan universitas melalui mekanisme SLSB (Seleksi Lokal Siswa Berprestasi) dan JMSB (Jalur Mandiri Seleksi Bersama).

Tes jalur SLSB dilakukan Juli 2018. Ini adalah jalur undangan yang dikirimkan oleh Uncen ke sekolah-sekolah untuk siswa yang nilai rapor tinggi. Sedangkan pendaftaran JMSB dibuka 25 -30 Juni 2018.

Anak-anak asli Papua dari daerah yang tidak sempat mendaftar melalui jalur SNMPTN dan SBMPTN diterima melalui JMSB.

“Karena mereka ini keinginan besar untuk melanjutkan di Uncen tetapi tidak diakomodir, mereka mau pilih mana lagi PTN selain Uncen dan Unipa,” kata Sahuleka kepada Jubi, Jumat, 7 Juni 2018.

Menurut Sahuleka, Uncen hadir untuk orang Papua, karena itu Uncen selalu memprioritaskan orang asli Papua. Bahkan 2017 sebanyak 80 persen Uncen menerima putra-putri Papua.

“Yang menjadi masalah selama ini adalah banyak anak-anak asli Papua yang tidak masuk di Jurusan MIPA, padahal di Papua sendiri membutuhkan ilmu-ilmu seperti itu,” katanya.

Universitas, katanya, tidak bisa memaksakan kepada calon mahasiswa memilih jurusan tertentu yang anak Papua tidak ada, karena itu merupakan pilihan.

“Uncen yang bisa menerima sesuai dengan keinginan siswa sendiri dan salah satunya di bangku SMA itu guru yang harus dipersiapkan orang asli Papua adalah di bidang Fisika, Kimia, dan Biologi,” ujarnya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top