Follow our news chanel

Sistem zonasi penerimaan murid belum bisa diterapkan di Papua

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Seksi Pemerataan Mutu dan Supervisi Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Papua, Kuswanto mengatakan, penerimaan siswa baru sesuai wilayah atau sistem zonasi belum bisa diterapkan secara maksimal di Papua karena terkendala geografis dan aksesibilitas.

Selain itu, kendala pelaksanaan sistem zonasi di Papua karena penjaminan mutu pendidikan tentang guru dan juga layanan pendidikan belum maksimal sehingga Standar Pelayanan Minimal (SMP) tidak terpenuhi.

"Dengan sistem zonasi ini untuk memeratakan proses penerimaan siswa baru berdasarkan wilayah atau tempat tinggal. Dengan sistem zonasi, baru Kota Jayapura yang melaksanakan," kata Kuswanti di LPMP Papua, Rabu (23/1/19).

Agar ada pemerataan penerimaan siswa menggunakan sistem zonasi di Papua, kata Kuswanto, LPMP Papua selalu mengoptimalkan pelatihan per titik. Misalnya, bila sedang mengadakan kegiatan di Kota Jayapura, pesertanya dihadirkan dari Kabupaten Keerom, Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sarmi untuk memberikan pemahaman tentang sistem zonasi.

"Misalnya, anak-anak yang tinggal Waena, cukup sekolah di Waena saja tidak perlu lagi sekolah di Jayapura. Harapannya, tidak ada sekolah yang kekurangan siswa, atau tidak ada sekolah yang menerima siswa sampai membuang-buang," tuturnya.

Dijelaskan, standar belajar di sekolah dasar ada 28 hingga 32 siswa tapi kenyataannya mencapai 35 sampai 40 siswa bahkan ada 48, SMP 34 siswa, SMA ada 35 sampai 36 siswa.

Loading...
;

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Fachruddin Pasolo mengatakan, sudah dua tahun melaksanakan penerimaan siswa baru menggunakan sistem zonasi karena sudah menjadi kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Zonasi ini tidak saja mendekatkan siswa pada sekolahnya tapi juga adanya pemerataan dari sisi mutu, sarpras (sarana dan prasarana) dan guru yang merupakan kebijakan yang sangat baik dalam rangka menaikkan semua derajat dan kualitas pendidikan di semua wilayah khususnya di Kota Jayapura," jelasnya.

Menurutnya, selama diberlakukan sistem zonasi di Kota Jayapura, kendalanya ada pada pemahaman dan karasteristik masing-masing orangtua siswa. Apalagi, pendidikan sekarang ini sudah berbasis online atau era revolusi industri sehingga tidak lagi menggunakan manual.

"Dengan sistem zonasi untuk menghilangkan kesan sekolah favorit supaya jangan ada lagi orangtua yang selalu memperebutkan sekolah karena sekolah yang dituju adalah sekolah favorit. Ini sangat tidak bagus karena jangkauan anak ke sekolah sangat jauh dan itu sangat tidak efisien," ungkapnya.

Marice, orang tua murid kelas 6 SD salah satu sekolah di Kota Jayapura menilai, sistem zonasi sangat bagus karena memeratakan penerimaan siswa di sekolah.

"Kalau sistem zonasi ini membuat pendidikan menjadi lebih baik saya setuju tapi kalau tidak, dihapus saja sistem zonasi ini," ujarnya.

Marice menilai, sekolah yang tadinya tidak menjadi favorit dan siswanya sedikit menjadi banyak dengan adanya sistem zonasi meski sebagian terdapat keluhan.

"Misalnya, anaknya ingin di sekokah favorit tapi dapat disekolah tidak favorit. Untuk itu, saya harapkan pemerintah meningkatkan fasilitas dan kualitas di semua satuan pendidikan agar sistem zonasi ini terlaksana dengan baik," jelasnya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top