HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Siswa Santo Antonius Padua Sentani berunjukrasa memprotes ujaran rasisme

Para siswa SMP dan SMA Santo Thomas Antonius Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, berunjukrasa pada Senin (9/3/2020). - Jubi/Yance Wenda
Para siswa SMP dan SMA Santo Antonius Padua berunjukrasa di halaman sekolahnya pada Senin (9/3/2020), memprotes ujaran rasisme yang dilontarkan gurunya. – Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Para siswa SMP dan SMA Santo Antonius Padua, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, berunjukrasa pada Senin (9/3/2020), memprotes ujaran rasisme yang diucapkan seorang guru kepada siswa sekolah itu. Para siswa menuntut guru yang menyampaikan ujaran rasis itu dipecat.

Unjukrasa para siswa SMP dan SMA Santo Antonius Padua Sentani digelar di halaman sekolah mereka. Unjukrasa itu berlangsung dengan damai dan tertib. Di dalam unjukrasanya, para siswa memprotes ujaran rasisme yang dilontarkan seorang guru sekolah itu pada Sabtu (7/3/2020). Saat itu para siswa Santo Antonius Padua mengikuti perkembahan Pramuka.

Salah satu siswa SMA Santo Antonius Padua, Viktor S Kiya menuturkan ujaran rasisme itu dilontarkan salah satu guru pada Sabtu pagi, saat para peserta perkembahan Pramuka bersiap untuk mengikuti upacara. “Saat itu, ada satu guru di lapangan, empat guru lain di para-para. Mereka suruh kami, murid-murid, menjadi pembina upacaya,” kata Kiya kepada Jubi, Senin (9/3/2020).

Para siswa menolak untuk menjadi pembina upacara, karena seharusnya pembina upacara adalah guru. Kiya menuturkan sebagian siswa juga tetap duduk-duduk, karena melihat upacara belum juga dimulai.

Salah satu guru berinisial MGU marah karena upacara tak kunjung dimulai. Guru itu lantas melontarkan ujaran rasisme, lalu menyebut para murid tidak memiliki akal budi.

“Lalu dia bilang [para siswa] tidak punya akal budi. Itu saya sendiri dengar dan lihat, dengan mata kepala saya sendiri. Saya terpancing emosi dan hati sakit dengan kejadian itu,” kata Kiya.

Loading...
;

Kiya akhirnya mengajak para siswa untuk meninggalkan lapangan tempat upacara itu, dan memilih kembali ke panti. “Kami tinggal di  panti. Kepala sekolah [akhirnya naik, panggil kami untuk turun mengikuti upacara penutupan [perkemahan] Pramuka,” ujar Kiya.

Kepala Sekolah SMP Santo Antonius Padua, Fransina Hikinda menyatakan dirinya tidak mengetahui peristiwa itu, karena saat itu ia sedang berada di kantornya. Menurutnya, guru yang disebut-sebut melontarkan ujaran rasisme itu, MGU, telah meminta maaf atas peristiwa itu. Permintaan maaf itu disampaikan MGU dihadapan Fransina Hikinda dan beberapa murid.

“Ibu [guru itu] meminta maaf, dan [menyatakan dirinya] khilaf. [Ia meminta maaf karena] yang terucap seperti it,  karena [emosinya] tidak terkontrol. Dari dalam hati ia katakan, kalau ia tidak bermaksud untuk mengatakan kata seperti itu,” kata Hikinda

Ia menyatakan kejadian itu akan menjadi evaluasi sekolah. Ia berharap peristiwa itu tidak memicu masalah baru. Hikinda membenarkan para siswa menuntut agar guru MGU dikeluarkan dari sekolah.

Ia menyatakan belum bisa menjawab tuntutan para siswa agar sekolah memberhentikan guru MGU itu.  “Aspirasi anak-anak itu hal yang sangat berat. Kami di sekolah ini kekurangan guru pengajar,” kata Hikinda.(*)

Ralat: Berita ini mengalami ralat, sebelumnya tertulis bahwa nama sekolah adalah SMP dan SMA Santo Thomas Antonius, Sentani. Penulisan nama sekolah diperbaiki menjadi SMP dan SMA Santo Antonius Padua, Sentani. Redaksi memohon maaf atas kesalahan itu. 

Editor: Aryo Wisanggeni G

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa