HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Social Distancing sulit di Pegunungan Tengah Papua, tutup bandara Wamena!

Ilustrasi, penumpang di Bandara Wamena – Jubi/Dok
Ilustrasi, penumpang di Bandara Wamena – Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Ronny Hisage

Apakah kita masih mempertahankan kebijakan Jakarta  dengan (melakukan) social distancing di Pegunungan Tengah Papua untuk mencegah (penyebaran) virus corona? Realita kehidupan masyarakat tidak memungkinkan untuk memberlakukan kebijakan ini. 

Para bupati di Pegunungan Tengah Papua segera ambil langkah konkret lain, bila perlu Bandar Udara Wamena ditutup sementara. Terutama Ketua Asosiasi Bupati Pegunungan dan Bupati Jayawijaya sebagai kepala wilayah (di) pintu masuk Pegunungan Tengah Papua (harus) buat kebijakan konkret segera tutup bandara untuk selamatkan manusia.

Berikut catatan beberapa fakta lapangan mengapa perlu tutup bandara:

Sebagai bagian dari upaya mencegah virus corona atau covid-19, saat ini pemerintah, dari pusat hingga daerah, gencar mendorong social distancing atau pembatasan interaksi sosial. 

Di Pegunungan Tengah Papua pemerintah juga mulai menerapkannya; sekolah diliburkan, aktivitas perkantoran dan kegiatan mengumpulkan banyak orang dibatasi. Ini langkah baik dan terlaksana di tingkat pemerintahan. Demikian juga di gereja, ibadah dalam gedung/gereja dibatasi.

Loading...
;

Bagaimana dengan tingkat masyarakat akar rumput, khususnya di Pegunungan Tengah ini? Sepertinya sulit. Benar-benar sulit. 

Bukan pesimistis, tapi fakta di masyarakat hari ini, memang sulit menerapkan social distancing. Saya dan Anda sebagai bagian dari orang di pegunungan ini tahu betul seperti apa budaya dan cara berinteraksi antarsesama orang Papua di wilayah ini.

Jabat tangan atau pegang tangan bersalaman, adalah salah satu budaya yang sangat melekat erat dalam kehidupan sosial masyarakat Pegunungan Tengah sejak lama dan diwariskan turun-temurun. Berpisah beberapa jam lalu ketemu lagi pasti mereka bersalaman dengan jabat tangan, apalagi jika bertemu setelah satu atau dua hari, belum lagi jika orang baru datang dari kampung atau kota lain, pasti bersalaman dan peluk erat. Ini budaya yang sulit dihindari.

Akan jadi bahan ejekan jika (orang yang dijumpai) tidak disalami dengan jabat tangan. Saya tidak perlu jelaskan panjang lebar soal ini, kita sesama Anak Gunung pasti sudah tahu semua.

Soal budaya jabat tangan ini, mungkin pemerintah akan mengatakan kita sudah sosialisasi agar tidak berjabat tangan, tapi bagaimana dengan budaya lainnya di masyarakat gunung? Tidur dalam honai.

Hampir sebagian besar masyarakat asli Papua di Pegunungan tersebar di pelosok atau perkampungan; jauh dari kota, mereka tidur dalam honai. Dalam satu honai jumlahnya bisa lebih dari 10 orang, tidak ada pembatas, mereka berbaur dan tidur berdekatan satu sama lain.

Honai laki-laki maupun perempuan sama persis, tidak ada ventilasi udara di sana. Tertutup. Demikian juga dapur, tempat warga berkumpul sebelum ke honai, tempat tidurnya. 

Merujuk cara penyebaran virus corona, dari kebiasaan tidur masyarakat di sini, pintu penyebaran covid-19 sangat mudah dan terbuka lebar bagi orang Papua di wilayah pegunungan.

Lalu bagaimana juga dengan upacara adat masyarakat gunung yang tingkat sosialnya lebih tinggi lagi, dan di dalamnya banyak orang atau keluarga harus berkumpul. Okelah, upacara adat juga kita akan mengatakan dibatasi. Tapi itu akan sulit diwujudkan untuk upacara orang meninggal atau kedukaan, apalagi untuk keluarga dekat. Ini tradisi yang juga terbuka lebar pintu bagi penyebaran virus corona.

Kita bersyukur saat ini belum ada temuan kasus covid-19 di Pegunungan Tengah Papua, tapi jika virus itu merambat dan ada korban positif yang meninggal dunia, apakah kita akan mengatakan masyarakat jangan melakukan upacara adat duka? Ini mustahil.

Masyarakat kita, apalagi keluarga dekat segera merangkul mayat dan memberikan penghormatan terakhirnya, lalu melakukan upacara adat kedukaan yang akan dihadiri banyak orang.

Jika korbannya sudah terdeteksi dan telah melalui penanganan medis sebelumnya, mungkin saja penanganan mayatnya secara khusus, tapi bagaimana jika orang meninggal di kampung akibat covid-19 tanpa terdeteksi?

Kita tetap bersyukur kasus ini memang belum ada di wilayah kita, tapi jika ada, akan jauh lebih masif penyebarannya, ditunjang tingkat interaksi sosial yang sangat tinggi di wilayah ini.

Di sisi lain, kemungkinan penyebaran virus corona di Pegunungan Tengah ini masih sangat terbuka, apalagi di Papua sudah ada temuan 2 orang dinyatakan positif covid-19 di Merauke per 22 Maret 2020.

Pintu wabah itu makin terbuka dan dengan realita sosial di pegunungan, tingkat kemasifan menyebaran covid-19 ini amat sangat besar.

Jujur saja, infrastruktur kesehatan kita di Pegunungan Tengah Papua ini minim sejak dulu, bahkan mungkin bermasalah, sistem kesehatan kita di pegunungan juga belum sepenuhnya menjamin; banyak contoh untuk itu. 

Tidak usah banyak alasan untuk tangkal sistem kita yang buruk ini. Keadaan sudah terlanjur bobrok. Sekarang kita fokus bagaimana kita bisa menghadapi virus corona, yang tentu saja kita tidak bisa menolaknya, dengan (melihat) kenyataan sistem sosial masyarakat yang juga menjadi tantangan tersendiri untuk lawan corona.

Kembali ke social distancing. Untuk tujuan pembatasan social distancing ini, pemerintah, khususnya di Jayawijaya melalui pihak terkait, beberapa waktu lalu sudah mulai lakukan sosialisasi langsung di lapangan, perihal pembatasan hubungan sosial, salah satu diantaranya di pasar potikelek Wamena. Mama-mama Papua di pasar mendengarkan sosialisasi tersebut. Lantas apa respons mereka?

Jujur saya mau mengatakan bahwa mereka (mama-mama di pasar) dan warga Papua di pegunungan umumnya, tidak menganggap sama sekali bahwa corona adalah virus berbahaya.

Masyarakat di pegunungan tidak menganggap corona sebagai ancaman global yang mengancam nyawa manusia. Masyarakat terima informasi corona ini dengan biasa-biasa saja dan responsnya dingin sekali. 

Berikut beberapa respons yang saya coba rekam:

“Orang tidak bisa salaman itu penyakit macam apa? Tidak masuk akal. Semua orang di pasar tadi tidak percaya.”

“Ah, penyakit itu kutukan Tuhan buat mereka di luar sana, kita di sini (Wamena) punya Tuhan. Tuhan pasti selamatkan kita.”

“Dulu mereka bilang penyakit kaki gaja[h] itu bahaya, baru kasi obat macam-macam, tapi sekarang mana? Dulu bilang HIV juga bahaya. Sekarang penyakit apalagi yang mereka mau tipu?”

“Kita ini hidup, makan, tidur, semua dengan keluarga dan orang-orang banyak, tidak salam jabat tangan itu orang dari mana? Tidak tahu adat. Itu penyakit orang di

Jakarta sana, kita di kampung tidak mungkin.”
“Kalo Tuhan bilang kita mati ya sudah, itu rencana Tuhan dengan penyakit itu (corona).”

Begitulah kurang lebih potret (respons) beberapa warga yang saya temui. Mereka sangat dingin meresponsnya.

Di rumah-rumah saat berkumpul dengan keluarga, mereka menceritakan tentang penyakit corona, tapi bukan sebagai ancaman yang ditakuti, malah jadi guyonan, dan cerita lucu-lucuan, sambil sesekali mengatakan “Tuhan pasti akan lindungi.” 

Saya kebetulan tinggal di kampung bersama banyak warga, dan mendengar langsung tanggapan masyarakat tentang corona yang lagi heboh ini. Juga di pasar-pasar saya temui, tapi sama sekali saya tidak menangkap ketakutan atau kekhawatiran masyarakat atas wabah corona.

Respons yang sama juga ada di dalam gereja. Minggu, 22 Maret 2020, di sebuah gereja, usai ibadah, sang pendeta, memberikan pengumuman, yang sekaligus semacam sosialisasi, tentang ancaman virus corona dan upaya pencegahan yang perlu dilakukan.

Sedikitnya ada 7 poin tentang ancaman dan langkah pencegahan hasil rumusan Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah Papua disampaikan oleh pendeta. Saat pengumuman suasana tiba-tiba berubah. Ada yang bisik-bisik, “tidak usa takut penyakit tidak masuk akal begitu.” Ibadah ditutup. Di luar, raut muka umat tetap dingin. Terkonfirmasi dengan jelas bahwa corona bukan sesuatu yang ditakuti bagi mereka.

Sikap ini sebenarnya ada baiknya juga, jika merujuk instruksi presiden dan para pihak lainnya agar tidak panik berlebihan tapi meningkatkan kewaspadaan. Akan tetapi, antisipasi yang perlu dilakukan tidak bakal bisa terwujud dengan kenyataan sikap cuek.

Dengan melihat realita respons masyarakat, coba kita bayangkan, di tengah dunia sedang goncang akibat covid-19, dan media massa nonstop memberitakan tentang ancaman virus ini, tapi bagi masyarakat di Pegunungan Tengah bukan sebagai ancaman, malah sebagai cerita guyon.

Mengapa demikian? Salah satunya karena SDM kita tidak pernah baik, akibat pengetahuan yang minim; sumber daya lemah.

Ya, begitulah respons masyarakat kita atas wabah sebesar ini. Soal iman mereka kepada Tuhan kita patut mengacung jempol, tapi apakah pemerintah juga mau ikut iman masyarakat? Kan tidak mungkin?

Pemerintah harus buat sesuatu untuk selamatkan warganya. Soal SDM memang bermasalah. Itu juga kita akui saja, tidak usah menyangkal banyak, tapi nanti baru kita bicara SDM, sekarang fokus kita untuk pencegahan virus corona.

Atas dasar fakta dan kenyataan kehidupan sosial masyarakat akar rumput di wilayah pegunungan tengah Papua saat ini, maka social distancing yang sedang diberlakukan sangat tidak relevan untuk diterapkan, dan bertolak belakang, dan tentu saja kondisinya tidak memungkinkan untuk diterapkan.

Bisa dibayangkan pula, bahwa dengan kondisi sosial yang ada, betapa masifnya virus itu bakal menyebar di sendi-sendi kehidupan masyarakat, bukan hanya orang asli Papua, tapi siapa pun dia yang ada di wilayah ini bakal terancam.

Kita saksikan sendiri, Jakarta dengan segala macam fasilitas, teknologi, dan tenaga medis yang memadai, tapi kesulitan menghadapi wabah corona, apalagi kita di Papua; Pegunungan yang sebagian besar wilayahnya pelosok, minim, petugas medis, minim fasilitas, birokrasi lemah, dan sistem kesehatan lemah. 

Terus kita masih mau mempertahankan social distancing? Itu sama saja kita tunggu air sampai di batang leher baru mau bergerak. 

Jadi, usul konkretnya, mumpung kasus corona belum terdeteksi di Pegunungan Tengah, para bupati se-Pegunungan Tengah Papua, khususnya bupati Jayawijaya, segera tutup akses keluar masuk pesawat di Bandara Wamena atau jika ada solusi konkret lain, selain social distancing segera diterapkan. (*)

Penulis adalah reporter RRI Wamena, tinggal di Wamena, Jayawijaya, Papua

Editor: Timo Marten

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa