Follow our news chanel

Stikom Muhammadiyah Jayapura jadi universitas, tambah 5 prodi baru

Papua Stikom
Kampus Stikom yang naik status menjadi Universitas Muhammadiyah Papua -Jubi/Theo Kelen.

Papua No.1 News Portal

Jayapura, Jubi – Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Muhammadiyah Jayapura resmi naik status menjadi universitas dengan nama Universitas Muhammadiyah Papua.

Wakil Ketua I Stikom Muhammadiyah Jayapura Dr. Indah Sulistiani, SE, M.I.Kom yang juga tim perubahan alih status mengatakan, surat keputusan perubahan status sudah keluar pada 6 Oktober 2020.

SK Kemendikbud sudah diserahkan melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XIV Papua dan Papua Barat kepada pimpinan Stikom Muhammadiyah Jayapura di Biak pada 13 Oktober 2020.

“Rencananya ‘lounching’ Universitas Muhammadiyah Papua diadakan Jumat, 23 Oktober 2020, sekaligus pembukaan plan namanya,” ujarnya kepada Jubi, Sabtu (17/10/2020).

Indah mengatakan, peningkatan status dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan pemenuhan kebutuhan masyarakat akan pendidikan tinggi di Papua.

“Kehadiran Universitas Muhammadiyah Papua tentu memberikan pilihan bagi masyarakat Papua untuk menjangkau pendidikan tinggi dan kami menyediakan alternatif sehingga masyarakat tidak harus ke luar daerah,” ujarnya.

Pengajuan dilakukan sejak April 2019. Setelah unggahan dokumen keempat akhirnya disetujui pada Juni 2020.

Loading...
;

Stikom Muhammadiyah Jayapura didirikan 26 September 2001 atau 19 tahun silam. Selama ini hanya memiliki dua program studi (prodi), yakni Strata-1 Ilmu Komunikasi dan Diploma-3 Hubungan Masyarakat. Pada Mei 2019 disetujui penambahan dua program studi, yakni Kewirausahaan dan Ilmu Lingkungan.

Kemudian disetujui tiga prodi lainnya, Program Studi Ilmu Komputer, Psikologi, dan Hukum.

“Jadi ada tambahan lima prodi ketika menjadi universitas dan sekarang ada tujuh program studi Universitas Muhammadiyah Papua,” katanya.

Ketujuh prodi masuk ke dalam dua fakultas, yakni Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora yang membawahi prodi Ilmu Komunikasi, Psikologi, dan Hukum. Kemudian Fakultas Sains dan Teknologi yang membawahi Prodi Komputer, Kewirausahaan, dan Lingkungan.

“Kami memilih dua fakultas ini karena sesuai dengan spesialis dari program studi,” ujarnya.

Dengan perubahan tersebut, kata Indah, akan ada penambahan dosen dan bangunan penunjang. Kebutuhan mengikuti standar minum akreditasi masing-masing program studi baru.

“Akan ada lima dosen tetap di setiap program studi, karena ini adalah standar minum, kami telah sediakan tambahan fasilitas ruang kuliah, laboratorium, perpustakan, dan sarana pendukung lainnya,” katanya.

Kampus tersebut telah memiliki fasiltas pendukung perkuliahan, seperti ruangan ‘micro teaching’, laboratorium untuk penyiaran radio, perpustakan, dan alat-alat untuk peliputan, seperti kamera syuting.

Saat ini Universitas Muhammadiyah Papua memiliki 29 dosen ilmu komunikasi, 34 dosen luar biasa, dan sekitar 1.200 mahasiswa. Akreditasi Prodi Ilmu Komunikasi dan Hubungan Masyarakat masing-masing “B”. Sedangkan akreditasi tingkat universitas “C”.

“Dengan perubahan status menjadi universitas tentu pihak kampus akan melakukan peningkatan sumber daya dosen, tenaga nonkependidikan, dan sarana-prasarana,” ujarnya.

Saat ini perkuliahan masih jalan di kampus. Hanya saja ada sejumlah mahasiswa,terutama dari daerah pegunungan, yang tertahan di kampungnya kerena kesulitan transportasi akibat dampak pandemi Covid-19.

Setiap tahun rata-rata calon mahasiswa yang mendaftar tiap prodi 300 orang. Namun di masa pandemi tahun ini menurun menjadi 250 orang.

Sesuai peraturan pemerintah, kata Indah, pelaporan mahasiswa baru untuk semester ganjil sudah selesai. Saat ini pihak kampus sedang berkoordinasi dengan Lembaga Layanan Dikti apakah memungkinkan membuka penerimaan mahasiswa baru pada semester genap.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua Michael Edowai mengaku sangat bangga dengan perubahan alih status kampusnya.

Menurutnya, Stikom Muhammadiyah merupakan kampus Islam di Tanah Papua yang kemudian mayoritas menerima mahasiswa Papua, khususnya mahasiswa dari pegunungan. Pihak kampus pun sering mengerti dan memberikan keringanan kepada mahasiswanya.

“Ketika ujian akhir kami belum bayar, mereka tetap izinkan kami mengikuti ujian,” katanya kepada Jubi saat ditemui Sabtu (17/10/2020).

Edowai berharap Universitas Muhammadiyah Papua terus berkembang di Tanah Papua dan menghasilkan sarjana-sarjana yang unggul untuk membangun daerah

“Selama ini kan Papua dianggap tertinggal, dengan adanya kampus ini kita dapat bersaing dengan teman- teman di Indonesia bagian lainnya,” katanya.

Hal senada juga juga disampaikan Ketua MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) Universitas Muhammadiyah Papua Habel Heluka. Ia juga mengaku bangga kampusnya berubah status. Heluka menyampaikan terima kasih kepada rektor dan para dosen yang sudah bekerja keras.

Heluka berharap dengan perubahan tersebut para mahasiswa dapat lebih dilibatkan dalam kegiatan kampus dan kualitas perkuliahan semakin meningkat.

Alumnus Stikom Muhammadiyah Jayapura, Fransiskus Bame mengatakan bangga bekas kampusnya menjadi universtas. Perubahan, katanya, dapat membawa generasi muda Papua ikut terjun di dunia ilmu komunikasi.

“Saya sangat mengapresiasi dengan hadirnya kampus ini, banyak anak Papua jadi wartawan dan penyiar televisi maupun radio,” ujaranya kepada Jubi, Senin (19/10/2020).

Bame memberikan masukan kepada bekas kampusnya agar lebih memahami latar belakang anak-anak Papua yang kuliah di sana.

“Kampus ini kan berdiri di atas tanah Papua, bertujuan membangun generasi Papua, agar lebih toleransi dalam memahami situasi dan kondisi dari anak-anak Papua,” ujarnya.(CR7)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top