Follow our news chanel

Previous
Next

Stok darah di RSUD Nabire selalu kosong, perlu ada PMI

Stok darah di RSUD Nabire selalu kosong, perlu ada PMI 1 i Papua
Ketua dan anggota OMP2APTP pajangkan poster sumbangan donor darah depan UTD RSUD Nabire – Paola for Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Belum adanya kantor Palang Merah Indonesia (PMI)di Kabupaten Nabire dan minimnya warga yang mendonorkan darah secara suka rela, membuat stok darah di Unit Trasfusi Darah Rumah Sakit Umum Daerah (UTD RSUD) Nabire nyaris selalu kosong.

Padahal, menurut Direktur RSUD Nabire, dr. Andreas Pekey, kebutuhan akan darah untuk setiap bulannya terus meningkat. Bahkan rata-rata diperlukan sebanyak 350 kantong per bulan.

“Dari dulu kekurangan darah. Pasien yang butuh darah banyak, darah yang tersedia terbatas. Masalahnya kita tidak punya pendonor sukarela yang tiap empat bulan sekali mau mendonorkan darahnya mereka dan tidak ada bank darah,” ujar Pekey, lewat wawancara telepon kepada Jubi, Selasa, (2/10/2019).

Selama ini, menurut Pekey, untuk memenuhi kebutuhan darah pendonor tetap hanya aparat keamanan (TNI dan Polri). “Kasihan, harus ada kelompok donor darah sukarela,” ucapnya.

“Selama ini TNI dan Polri yang donor. Kalau masyarakat kurang darah dan perlu darah biasa mereka lari ke Batalyon, Zipur atau Polres Nabire,” kata Pekey.

Ia menegaskan, hingga kini Kabupaten Nabire belum memiliki PMI sehingga ie mendesak Pemda setempat segera buka tempat donor tetap.

Loading...
;

“Nabire tidak ada PMI, yang ada itu UTD RS. Maka, harus pemerintah buka PMI, karena PMI itu organisasi vertikal dari pusat. Tidak ada dana khusus untuk UPTD. Kalau PMI ada dana khusus. UPTD bergantung pada dana operasional RSUD.

Ketua Organisasi Muda/i Peduli Perempuan dan Anak Pegunungan Tengah (OMP2APTP), Paola S. Oakage mengatakan, pihaknya yang bergerak di bidang penanganan ODHA telah menemukan hampir semua pasien anak kekurangan darah pada 28 September 2019.

Situasi itu membuat orangtua mencari darah ke Polres,Denzipur dan Batalyon Nabire sehingga dirinya tergerak untuk membantu dan menolong dengan mengajak anggotanya melakukan aksi kemanusiaan dengan menyumbangkan darah secara sukarela.

“Dan berjalan kaki dari sekertariat di Jl Bucen Kodim 17P5 Siriwni hingga ke ruang UTD RS. Setelah pemeriksaan ada yang bergolongan darah A,O dan hanya satu orang yang bergolongan B,” kata Pakage.

Paola mengatakan, melalui beberapa pemeriksaan ternyata belum bisa pengambilan darah dikarenakan tensi tinggi, juga rendah serta nadi lemah bahkan HB (Hemoglobin)0rendah.

“Disarankan istirahat, makan teratur selama tiga hari. Dan syukur setelah kami beraksi kami juga dikunjungi dokter spesialis anak, dr. Agnes dari RSUD Nabire juga turut serta menyumbangkan darahnya. Hasil sumbangan darah itu sekarang tinggal tiga pasien anak yang belum,” ujarnya.

Ia menyarankan pihak RSUD maupun Pemkab Nabire agar harus ada tanggap cepat bencana sebab orang hidup dengan darah maka wajib hukumnya didirikan PMI.
“Darah yang kami berikan suka rela ke RSUD. Namun keluarga pasien diminta membayar kantong darah di UTD RS, ada dua pasien yang tidak ada uang untuk bayar jadi pulang. Untuk hal itu sangat disayangkan,” katanya.(*)

Editor: Syam Terrajana

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top