Follow our news chanel

Previous
Next

Suhu dingin dan angin kencang membuat hujan jarang turun

Ilustrasi Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Papua, Petrus Demon Sili menjelaskan peta perubahan suhu dan kecepatan angin wilayah Papua di Jayapura, Senin (10/2/2020). - Jubi/Benny Mawel
Suhu dingin dan angin kencang membuat hujan jarang turun 1 i Papua
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Papua, Petrus Demon Sili menjelaskan peta perubahan suhu dan kecepatan angin wilayah Papua di Jayapura, Senin (10/2/2020). – Jubi/Benny Mawel

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Sejak awal Januari 2020 hingga awal Februari, hujan jarang turun di wilayah Papua bagian utara. Minimnya curah hujan itu terjadi karena suhu udara yang cenderung dingin, dan kecepatan angin yang cenderung tinggi.

Hal itu dinyatakan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Papua, Petrus Demon Sili di Jayapura, Senin (10/2/2020). Ia menyampaikan hal itu saat memaparkan hasil analisis dinamika atmosfer wilayah Papua. Analisis itu menyimpulkan suhu permukaan laut di perairan utara Papua berkisar 26-28 ºC, lebih dingin dibandingkan suhu permukaan laut di perairan selatan Papua yang berkisar 28-31 ºC.

“Dinginnya suhu muka laut berpengaruh pada sedikitnya suplai uap air ke atmosfer. [Suplai uap air ke atmosfer adalah] ‘bahan bakar’ pembentuk awan hujan,” kata Sili saat menerangkan peta suhu permukaan laut di wilayah Papua.

Selain memiliki permukaan laut yang lebih dingin, kecepatan angin di wilayah Papua bagian utara juga cenderung tinggi. Angin lapisan atas yang berada pada ketinggian 3.000 feet (berkisar 914,4 meter) bergerak dengan kecepatan tinggi, berkisar 25-35 knot (berkisar 46,3 hingga 64.82 kilometer per jam). Sili menyatakan angin yang kencang akan mengganggu pertumbuhan awan hujan, sehingga hujan tak terjadi.

“Kelembaban relatif pada lapisan atas udara juga teramati cukup kering, di bawah 80 persen. [Akibatnya] potensi pertumbuhan awan hujan menjadi tidak signifikan,” katanya.

Berbagai faktor itu berdampak kepada wilayah dengan topografi lebih datar seperti di bagian utara Papua, sehingga potensi curah hujan di sana lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah lain yang memiliki topografi berbukit/pegunungan.

Loading...
;

Sili menyatakan belum bisa memprediksi kapan curah hujan rendah di wilayah utara Papua itu akan berakhir. Letak geografis Papua yang dekat dengan garis katulistiwa membuat perubahan cuaca di Papua sulit diprediksi. “Kondisi atmosfer seperti ini juga sangat dinamis, sehingga kejadian hujan lebat juga dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujarnya.

Secara umum, hujan lebat akan terjadi jika ada perubahan kondisi atmosfer, sehingga mendukung terbentuknya awan hujan. Perubahan itu dapat terjadi sewaktu-waktu dalam masa periode angin baratan atau musim penghujan.

Karolina Aud, warga kota Jayapura, yang baru saja tiba dari Wamena mengatakan angin kencang di Jayapura sangat terasakan saat ia menumpang pesawat terbang. “Naik pesawat takut, tetapi ya terpaksa harus naik. Untungnya cuaca cerah, tidak ada awan, langit bersih jadi agak tenang,” ujarnya.

Akan tetapi, jika angin semakin kencang, ia takut menempuh penerbangan. “Kita kan warga biasa, jadi lihat saja [sudah bisa membuat] takut saja naik pesawat, walaupun itu tidak berbahaya,” kata Aud.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top