Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Suku Amungme dan Kamoro: Hidup dalam racun “buatan” Freeport

Mee Papua, Kamoro, Amungme
Foto ilustrasi, masyarakat adat Suku Mee. - Ist

 

Oleh: Fransiskus Xavier Tsolme

Sebelum kedatangan PT Freeport di tengah-tengah kehidupan suku Kamoro dan Amungme, kedua suku ini telah berdamai dengan alam dan sukunya serta hidup tentram.

Namun sejak PT Freeport memasuki daerah Amungme dan Kamoro pada 1967, banyak penderitaan yang dialami oleh kedua suku ini, baik dari lingkungannya, maupun sumber daya alamnya.

Penderitaan pun datang dari upaya perlindungan proses penambangan di areal Freeport supaya dapat berjalan lancar dalam tekanan kepentingan. Kesepakatan pun dibuat tapi tak sesuai perjanjian pengolahan tambang.

Kedua suku (Amungme dan Kamoro) semakin hari semakin terpinggirkan. Pemerintah pun tutup mata dan tak menolong nasib kedua suku ini.

Nasib kedua suku ini terpinggirkan demi kepentingan pengolahan tambang, hak-hak pun tidak diperhatikan dengan baik.

Loading...
;

Perusahaan ini masuk dan menimpa kehidupan sakral suku Amungme dan Kamoro.

Pemerintah pun diam dengan kepentingan penguasa, nasib suku Amungme dan Kamoro pun menjadi luka yang membusuk sejak hadirnya PT Freeport.

Pemerintah setempat tidak mementingkan kehidupan kedua suku ini dan mereka terus terabaikan. Pemerintah sibuk dengan kekuasaannya, demikian pun Freeport sibuk dengan pengolahan tambang.

Secara logika bahwa kedua kekuasaan ini saling bekerja sama untuk menghancurkan kehidupan suku Amungme dan Kamoro yang mempunyai hak-hak akan alam lingkungan.

Nasib suku Amungme dan Kamoro pun terabaikan, ketika kepentingan datang menguasai perusahan raksasa ini hanya membuat pelanggaran terhadap lingkungannya dan sumber daya alam.

Sungai-sungai yang sudah menjadi tempat nelayan suku Kamoro pun direndam oleh limbah tailing, banyaknya vegetasi pun gagal berkembang sejak pembuangan tailing yang tidak pernah diakui secara teknis, dan dampaknya nelayan suku Kamoro pun harus bernelayan di tengah-tengah ombak.

Pencemaran limbah tailing adalah racun yang dibuat oleh Freeport kepada suku Amungme dan Kamoro.

Sejak pembuangan limbah tailing pada tahun 1995 hingga kini oleh Freeport banyak masalah yang dialami.

Biasanya kedua masyarakat ini hidup dengan air bersih dari sumur, tetapi sekarang setelah pengeksplorasi tambang hadir, sumber air pun menjadi berwarna minyak dan tanah.

Masyarakat harus membuat penyaringan untuk mendapatkan air bersih, sampai limbah lewat dasar tanah pun tersebar hingga di pusat kota Timika.

PT Freeport hadir demi eksplorasi tambang dan manusia dan alamnya benar-benar terabaikan.

Pembuangan limbah melalui Sungai Aijkwa pun tidak pernah diperiksa secara teknis, pemerintah pusat hanya memberikan perizinan tanpa melihat dampak pada lingkungannya dan manusianya.

Perusahaan raksasa ini belum ada izin teknis untuk pembuangan limbah tailing, sehingga banyak endapan sungai yang terjadi akibat pembuangan ampas pengolahan tambang.

Dengan demikian transportasi laut pun terhalang oleh endapan sungai akibat tailing, sehingga banyak masyarakat yang harus melalui jalur laut dengan ombak yang keras kemudian menantang maut.

Tidak heran kehadiran pengeksplorasi tambang dan uranium memakan banyak korban, baik lingkungannya, maupun sumber kehidupan Amungme dan Kamoro.

Sampai dimana Freeport menanggung nasib masyarakat Amungme dan Kamoro? Lalu bagaimana dengan lingkungannya? Bagaimana dengan pencemaran limbah sehingga masyarakat di kota bertahan dalam air yang mengandung minyak dan air kotor?

Pencemaran ini mulai dari daerah Kwamki Baru, Jalan Baru, Sempan, sampai dibatasi oleh sungai jembatan “selamat datang” hingga seluruh pusat perkotaan Timika.

Nasib suku Amungme dan Kamoro sangat tidak diperhatikan sejak adanya perusahaan ini.

Pengelolaan tambang dan pembuangan limbah tailing tanpa berkesudahan membuat banyak nyawa hilang begitu saja, melalui udara yang mengandung zat kimia dan menyerang pernapasan hingga terkena paru-paru, pun tidak diberikan penelitian secara medis dan keterangan pun hanya karena penyakit paru-paru.

Seharusnya perusahaan ini lebih memperhatikan manusia-manusia yang hidup di sekitar area pertambangan hingga area tempat pembuangan limbah tailing

Limbah racun Freeport dan pemerintah bagi Amungme – Kamoro

Freeport adalah perusahan terbesar dan mendunia namun bagaimana dengan manusia di lingkungan pertambangannya? Bagaimana nasib masyarakat Amungme dan Kamoro? Bagaimana keadaan masyarakat Amungme dan Kamoro sebelum Freeport masuk?

Kehadiran perusahaan raksasa ini membuat semua kehidupan masyarakat Amungme dan Kamoro terpinggirkan. Pemerintah tidak mengambil keputusan tegas tentang nasib suku Amungme dan Kamoro.

Penderitaan yang mendalam sejak kehadiran perusahan sampai saat ini tidak ada titik jelas yang baik soal pembuangan tailing hingga nasib manusianya terabaikan.

Kepentingan atas tanah Amungme dan Kamoro pun semakin terluka sejak 1967. Pemerintahan dari tahun ke tahun pun sama saja, hanya mementingkan kekayaan alam kedua suku ini, tetapi nasib-nasib kedua suku ini terus terabaikan.

Sebuah peristiwa mengenaskan pernah terjadi dan secara serius dirilis Lepemawi, 5 Desember 2019.

Peristiwa ini mengancam nyawa masyarakat suku Amungme saat melalui jalur laut menuju Distrik Agimuga.

Sebenarnya jalur laut merupakan jalur yang rawan, tetapi karena sungai-sungai yang biasanya memudahkan transportasi dipenuhi endapan tailing, masyarakat tidak bisa menggunakan longboat melalui jalur sungai tersebut.

Pemerintah dan perusahan pun tak pandang pada manusia yang sedang terluka.

Hemat penulis, ini adalah bencana yang telah direncanakan oleh pemerintah dan perusahaan. Masyarakat suku Amungme dan Kamoro perlahan dibunuh melalui ancaman lingkungan.

Peristiwa seperti ini juga pernah terjadi tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat suku Kamoro yang menjadi korban dan terus menjadi korban karena bernelayan di tengah-tengah laut, mereka harus bertahan dalam ombak yang keras, karena sungai yang biasanya untuk nelayan sudah menjadi endapan dan tertimbun tailing.

Jalur laut kini menjadi tempat mereka bernelayan walaupun pada akhirnya menjadi korban kerasnya ombak dan air garam yang terkontaminasi tailing.

Pemerintah Mimika tidak secara serius dan tegas menyelesaikan persoalan tailing yang dibuat oleh perusahaan, tetapi hanya diam dan membangun sesuatu yang seharusnya tidak memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi suku Amungme dan Kamoro.

Sebaiknya pemerintah secara serius membangun sumber daya manusianya. Dimana keputusan dana 1 persen?

Freeport hanya membuat keputusan-keputusan propaganda, melalui dana 1 persen. PT Freeport tidak memberikan kesejahteraan bagi suku Amungme dan Kamoro; lingkunganya terus teracuni dan membunuh setiap vegetasi pun terus terjadi.

Pemerintah seharusnya membuat sesuatu yang dapat dirasakan oleh kedua suku ini, bukan jalan-jalannya, dan juga bukan keindahan materilnya.

Dana 1% menjadi dampak masalah yang serius bagi suku Amungme dan Kamoro karena dana 1% menjadi sebuah berita propaganda mengatasnamakan Amungme dan Kamoro.

Sepertinya 1% adalah uang saku bagi pejabat-pejabat pemerintah Mimika sendiri, karena keputusan tentang dana 1% adalah perusahaan pemerintah dan pejabat-pejabatnya.

Suku Amungme dan Kamoro tidak pernah menginginkan dana 1 persen  itu, karena dana ini sebagai tanda, dimana kedua suku ini akan mempertaruhkan nyawanya atas pengelolaan tempat-tempat sakral.

Memang kenyataan yang terjadi bahwa dana 1 persen tidak memberikan kesejahteraan dan kemakmuran tetapi membuat kehidupan suku Amungme dan Kamoro terpinggirkan oleh kuasa-kuasa dan kepentingan perusahaan dan pemodal pemerintah.

Dana imbas ini menjadi sebuah tayangan dan bermain di balik dana 1 persen. Bagaimana pemerintah setempat memperhatikan nasib masyarakatnya dengan dana 1 persen?

Pemerintah tidak memperhatikan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Amungme dan Kamoro, tetapi membangun berita-berita propaganda sekalian “cakar” di atas kursi dan jabatan.

Kedua suku ini menjadi korban moral kuasa pemerintah dan kepentingan perusahan PT Freeport.

Bagaimana kabarnya APBD setiap tahun?

Ketika pembangunan fisik menjadi sesuatu yang berbeda di pusat kota, pembangunan terhadap manusia dan lingkungannya menjadi luka yang busuk, yang terus digores oleh pemerintah dan Freeport dengan kepentingannya, DPRD pun menutup mata.

Pemerintahan setempat terus membuat kepentingan-kepentingan materiil tapi tidak perhatikan nasib suku Amungme dan Kamoro yang dimakan oleh racun limbah tailing yang dibuat Freeport, perusahaan raksasa yang mendunia tetapi terus memakan korban akan lingkungan manusia dan manusia, karena kehadirannya merupakan ilegal di tengah-tengah kehidupan Amungme dan Kamoro.

DPRD seharusnya tegas mengambil keputusan demi nasib suku Amungme dan Kamoro, bukan hanya membuat mimpi terhadap kehidupan Amungme dan Kamoro yang terus ditindas perusahaan.

Pemerintah ada karena masyarakat, maka sebagaimana pemerintah secara serius memulai pembangunan, tetapi sejauh penulis amati, pembangunan yang terus terlintas ialah kekosongan dalam tembok-tembok, yang pada dasarnya berdiri teguh dalam penderitaan masyarakat suku Amungme dan Kamoro.

Pemerintah pun secara tegas tidak mengangkat nasib Amungme dan Kamoro akibat kerusakan lingkungan, pencemaran lingkungan dan endapan sungai-sungai, kemudian vegetasi yang setiap hari dimatikan oleh pencemaran limbah perusahan Freeport. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top