HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Sumpah maya cincin Palapa

Menara NOC Palapa Ring timur di jalan Bhayangkara Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua – Jubi/Islami Adisubrata

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Diresmikan Presiden Joko Widodo lima bulan lalu, Palapa Ring tak kunjung menjamin adanya akses internet di seluruh daerah yang dilalui jaringan kabel serat optik ini.

Di sebagian wilayah Papua dan Papua Barat, infrastrukur Palapa Ring Timur masih kopong, tanpa koneksi internet. Masyarakat di sana masih kelimpungan ketika harus mendaftar secara online dalam seleksi CPNS.

Pemerintah daerah kerepotan menyiapkan sarana telekomunikasi agar sekolah-sekolah di pelosok bisa menggelar Ujian Nasional Berbasis Komputer.

Janji terbukanya akses Internet cepat dan murah di pelosok lewat Palapa Ring belum tunai. Terganjal skema menyambungkan Internet ke jaringan kabel serat optik.

Simak laporan panjang Tempo bekerja sama dengan Jubi dalam dua edisi:

UJIAN Nasional Berbasis Komputer baru akan digelar pada Maret dan April mendatang. Tapi, bagi Ferry A. Pelupessy, pekerjaan untuk memastikan ujian bisa diikuti siswa di semua sekolah di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, telah dimulai.

Loading...
;

Jumat, 14 Februari lalu, Kepala Bidang E-Government Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik Tambrauw itu datang ke lima distrik tanpa sinyal. Perlu waktu sepekan bagi Ferry dan rombongannya untuk memasang very small aperture terminal, perangkat penerima dan pengirim data ke satelit.

“Telkom belum masuk, operator lain juga masih menunggu,” kata Ferry, Jumat, 28 Februari lalu.

Tambrauw adalah satu dari sembilan kabupaten di kepala burung Pulau Papua. Sejak terbentuk 12 tahun lalu, daerah hasil pemekaran Kabupaten Sorong tersebut hanya mengandalkan asupan Internet dari satelit. Itu pun hanya sebagian kecil dari 29 distrik yang terlayani. Maka, kesulitan akibat tak adanya jaringan Internet menjadi makanan sehari-hari pemerintah daerah dan warga Tambrauw.

Seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk formasi 2018 yang digelar Pemerintah Kabupaten Tambrauw, misalnya, hingga kini tak menentu hasilnya. Komposisi 80 persen kursi untuk orang asli Papua, lahir dan besar di Papua tak terpenuhi sejak pendaftaran dibuka. Lebih dari separuh pendaftar justru berasal dari luar Papua.

Susahnya warga Tambrauw mendaftar secara online berulang akhir tahun lalu. Marshal David Laurens, tenaga ahli teknologi informasi yang membantu Ferry, masih ingat pemandangan pada November-Desember 2019, saat pemerintah pusat membuka lagi pendaftaran CPNS. Ratusan warga dari berbagai distrik berkelompok menyewa mobil menuju Sorong. Kota terbesar di Papua Barat, berjarak empat jam perjalanan ke arah barat dari Tambrauw ini, satu-satunya harapan untuk bisa mengakses Internet.

“Itu sebabnya banyak profesional di Tambrauw yang hampir setiap minggu ke Sorong untuk mengecek e-mail dan pesan online,” ucap Marshal.

Ferry dan Marshal sempat berharap banyak ketika Presiden Joko Widodo pada 14 Oktober 2019 meresmikan operasi jaringan tulang punggung Internet berkecepatan tinggi, Palapa Ring. Maklum, Palapa Ring Timur, satu dari tiga paket proyek ini, melintas di Tambrauw. Satu unit pusat operasi jaringan (network operations center/NOC), fasilitas pemantau dan penghubung kabel serat optik Palapa Ring Timur, dibangun di Fef, ibu kota Tambrauw.

Namun, sayangnya, harapan mereka terlalu tinggi. Jaringan kabel dan NOC itu tak kunjung berfungsi. Belum ada koneksi Internet di dalamnya. Kondisi serupa dialami sejumlah kabupaten lain di Papua yang juga telah disinggahi kabel Palapa Ring.

***

PALAPA Ring adalah proyek ambisius pemerintah yang hendak menyambungkan satu negeri dengan Internet. Pemerintah membangun 12.148 kilometer kabel fiber optic dan 55 antena pemancar gelombang mikro (radio microwave) yang terbagi dalam tiga paket: Palapa Ring Barat, Palapa Ring Tengah, dan Palapa Ring Timur. Dengan jaringan ini, paling tidak 5,8 juta penduduk di 57 kabupaten dan kota diharapkan bisa menikmati koneksi Internet yang cepat dan murah seperti warga lain di kota-kota besar.

Digarap dengan skema kerja sama pemerintah dan swasta, proyek itu menelan biaya Rp7,7 triliun. Konsorsium badan usaha pemenang tender yang membiayai pekerjaan. Pemerintah akan menggantinya, ditambah biaya operasi dan keuntungan yang telah disepakati, secara berangsur selama masa konsesi. Palapa Ring Timur, paket terbesar dalam proyek ini, menjadi pekerjaan terakhir yang kelar dibangun pada September 2019.

Tiga Palapa itu melengkapi jaringan kabel serat optik yang telah lama dibangun dan dioperasikan operator tulang punggung telekomunikasi, seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Indosat Tbk, PT XL Axiata Tbk, dan PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo). Di barat, Palapa Ring melintang dari Dumai di Riau menuju Kuala Tungkal di Jambi, lalu ke Lingga di Kepulauan Riau melewati Batam, Natuna, hingga Singkawang di Kalimantan Barat. Kabel itu tersambung dan melengkapi jaringan existing, seperti Jawa-Sumatera-Kalimantan milik Telkom dan Jawa-Kalimantan-Batam-Singapura kepunyaan Indosat.

Di tengah, kabel Palapa Ring dan antena-antena microwave menyambungkan Mahakam Ulu dan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur; Manado, Sulawesi Utara; sampai Sofifi dan Pulau Taliabu di Maluku Utara. Kabel ini melengkapi Luwuk Tutuyan Cable System dan Sulawesi Maluku Papua Cable System Packet 1 milik Telkom serta jaringan kabel XL Axiata yang membentang di daratan dari Makassar hingga Manado yang tersambung ke Jawa.

Baca juga  Partai Ralph Regenvanu menangkan suara mayoritas Pemilu Vanuatu

Sementara itu, di timur, tempat warga Tambrauw belum tersentuh internet, Palapa Ring Timur membentang dari Waingapu ke Kupang hingga tersambung di Alor, Nusa Tenggara Timur, menuju Papua lewat Merauke, Timika, Sorong, Manokwari, sampai Jayapura. Palapa Ring Timur juga menembus wilayah pelosok di pegunungan tengah Papua menggunakan antena microwave.

Palapa Ring Timur melengkapi jaringan kabel bawah laut Telkom yang sudah ada, yaitu Sulawesi Maluku Papua Cable System Packet 2, yang membentuk setengah lingkaran dari Jayapura di utara hingga Merauke di selatan.

“Kami hanya membangun di jalur yang belum ada kabelnya,” ujar Benyamin Sura, Direktur Kepatuhan PT Palapa Timur Telematika—konsorsium penyelenggara Palapa Ring Timur—di Jakarta, Rabu, 26 Februari lalu.

Ketika mengumumkan sekaligus meresmikan rampungnya seluruh pekerjaan Palapa Ring, 14 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah berkomitmen menuntaskan proyek ini lantaran kerap menerima keluhan tentang lambatnya layanan Internet di pelosok negeri, termasuk di Papua.

“Kalau ada tol jalan tol darat, ini ada tol langit,” ucapnya.

“Inilah nanti yang akan menyatukan negara kita, Indonesia, karena dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, semuanya bisa tersambung.”

Pada hari itu, dalam acara yang sama, Jokowi menggelar video conference dengan jajaran pemimpin daerah di lima kota. Dua di antaranya di Sorong, Papua Barat; dan Merauke, Papua. Dia bertanya apakah koneksi Internet sudah kencang di kedua provinsi tersebut. Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani dan Bupati Merauke Frederikus Gebze menjawab serupa: layanan Internet di Sorong dan Merauke sudah tersedia dan jauh lebih kencang.

“Tapi, untuk beberapa daerah lain, kita masih perlu mengeceknya,” ucap Lakotani.

***

SORONG dan Merauke memang telah menikmati Internet cepat, jauh sebelum Palapa Ring Timur rampung, menggunakan jaringan operator telekomunikasi. Namun, seperti Tambrauw, kabupaten lain yang dilintasi Palapa Ring Timur tak serta-merta mendapat layanan yang sama. Serat optik Palapa Ring yang tertanam hanya seonggok kabel. Agar terkoneksi Internet, kabel tersebut mesti disambungkan dengan jaringan existing. Harus ada pula penyelenggara jasa telekomunikasi yang menyewa infrastruktur tersebut untuk kemudian memberikan layanan Internet kepada masyarakat.

Dari sini persoalan bermula. Penyelenggara jasa Internet tak bisa sekonyong-konyong masuk. Mereka harus meyakinkan operator lama agar mau berbagi Internet dari jaringan existing ke cincin telekomunikasi Palapa. Tak ayal, pada awal Februari lalu, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika menjelaskan bahwa utilitas Palapa Ring baru berkisar 30-60 persen. Tingkat pemanfaatan Palapa Ring Timur menjadi yang terendah.

Kembali ke Tambrauw, PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (Sampoerna Telecom) sebenarnya berniat masuk dengan memanfaatkan keberadaan NOC di Distrik Fef yang hanya berjarak sekitar 800 meter dari pusat pemerintahan setempat. Sejak pertengahan 2019, perusahaan bermerek dagang Net1 ini pun menjalin nota kesepahaman dengan Pemerintah Kabupaten Tambrauw untuk penyediaan akses Internet.

Namun, hingga kini, rencana bisnis di Tambrauw itu belum terealisasi. Sampoerna Telecom belum bersepakat dengan pemilik jaringan existing, seperti Telkom dan Moratelindo. Perseroan tak mempersoalkan tarif sewa jaringan Palapa Ring Timur di Fef yang sebesar Rp 22 juta per 1 gigabita per detik per bulan—ditetapkan Bakti pada Oktober 2019.  Yang menjadi soal adalah jaringan Palapa Ring Timur itu “kopong”.

Di utara, jaringan terputus di Sorong. Di selatan, jaringan yang sama terpenggal di Alor. Sedangkan pusat data Net1 berada di Jakarta. Agar terhubung hingga ke Ibu Kota, Sampoerna Telecom harus terkoneksi dengan jaringan existing. Pilihannya ada dua: lewat utara menebeng jaringan Telkom atau menumpang infrastruktur Moratelindo di selatan yang menyambungkan Palapa Ring Timur dari Alor hingga Kupang untuk kemudian ke Jakarta.

Ditanyai dengan siapa Net1 akan bekerja sama, Direktur Utama Sampoerna Telecom Larry Ridwan menjawab mantap sambal mengangkat dagu, “Moratelindo!” Biaya sewa jaringan Telkom terlalu mahal untuk operator di luar “The Big Five”: Telkomsel, Indosat, XL, Smartfren, dan Tri (3).

Dominasi Grup Telkom bukan rahasia lagi di antara pemain jasa telekomunikasi. Beberapa pelaku usaha mengaku kesulitan membuka layanan Internet di pelosok yang berdekatan dengan wilayah operasi Telkomsel dan IndiHome. Telkom, kata sejumlah bos perusahaan operator telekomunikasi, mengenakan biaya sewa kabel yang tinggi sebagai tameng bisnis dua anaknya itu (price barrier).

Menurut Benyamin Sura, hingga kini, baru ada dua operator yang menjadi pelanggan Palapa Ring Timur. Mereka adalah Telkom, yang mulai tersambung pada Desember 2019, dan Moratelindo sejak Januari lalu. Masing-masing mendapat 10 gigabita per detik dari Palapa Ring Timur, angka kapasitas maksimal saat ini. Dia membenarkan adanya sejumlah operator lain yang masih menjajaki penyewaan Palapa Ring Timur, seperti Indosat, Lintasarta, XL, Icon+, Inti Data Telematika, dan Sampoerna Telecom.

Baca juga  Pesparani diharapkan jadi pembinaan kerukunan umat beragama di Papua

Telkom menampik anggapan telah mempersulit operator lain yang hendak menyewa jaringan mereka. Vice President Corporate Communications Telkom Arief Prabowo memastikan perusahaannya terbuka terhadap operator lain.

“Sepanjang link yang dibutuhkan ada dan kapasitasnya tersedia,” ucap Arief kepada Tempo, Jumat, 28 Februari lalu.

“Infrastruktur milik Telkom tidak unlimited. Seharusnya operator lain dapat membangun sendiri apabila memerlukan.”

Dia juga membantah kabar bahwa Telkom sengaja membuat harga sewa mahal. Harga tersebut, Arief menjelaskan, dihitung dengan mempertimbangkan biaya menggelar infrastruktur, termasuk pengoperasian.

“Setiap daerah memiliki perbedaan, tergantung tingkat kesulitan di wilayah tersebut,” ujarnya.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Gerard Plate bukannya tak tahu soal rumitnya perundingan antaroperator untuk menyalakan layanan Internet di Palapa Ring Timur. Tapi politikus Partai NasDem ini menyatakan tak bisa memaksakan pelaku usaha untuk bersepakat.

“Ini memang kepentingan bisnis, menyangkut strategi bisnis, tapi harus dicari cara. Perlu inovasi supaya efisien,” kata Plate kepada Tempo, Kamis, 27 Februari lalu.

Sedikit Sinyal, Banyak Leletnya

Dilalui infrastruktur Palapa Ring Timur, distrik-distrik di wilayah pegunungan tengah Papua tak kunjung merasakan koneksi Internet cepat.

SEMULA, Onoy Lokobal tak tahu apa itu Wi-Fi. Warga Distrik Maima, Kabupaten Jayawijaya, itu pun nekat bertanya kepada warga yang saban hari berbondong-bondong menuju Sekolah Dasar Inpres Megapura. Di sana terdapat WiFi Nusantara, fasilitas layanan Internet nirkabel yang disediakan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“Pas dikasih tahu itu untuk akses Internet, baru saya paham,” kata Onoy di Wamena, Rabu, 26 Februari lalu.

Tak pelak, pria 26 tahun itu pun kerap memacu sepeda motornya sekitar 7 kilometer ke arah timur demi mendapatkan akses Internet gratis di sekolah yang berlokasi di Kampung Sinata, Distrik Asolokobal, Jayawijaya, tersebut.

Di sana, hampir tak sehari pun sekolah sepi. Seperti halnya Onoy, warga distrik lain di kabupaten itu juga ramai-ramai nongkrong di kanan-kiri bangunan sekolah, meski jangkauan perangkat ini digadang-gadang bisa mencapai radius 100 meter.

Kondisi itu membuat Evert

Lokobal, warga sekitar sekolah, terpaksa melenggang ke lokasi lain. Banyaknya pengguna membuat layanan Internet di sekolah itu makin lelet. Pria 28 tahun ini memilih pergi ke Distrik Wamena, satu dari delapan distrik di Jayawijaya yang juga menerima bantuan WiFi Nusantara.

Sebagai ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Wamena sebenarnya telah terjangkau Internet. Warga Wamena pengguna kartu seluler Telkomsel bisa menikmati layanan data yang disediakan anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk tersebut. Tapi kondisinya jauh dari layanan serupa di Indonesia bagian barat dan tengah.

Di Wamena, pengguna harus menunggu cukup lama untuk mengirim atau menerima pesan via aplikasi seperti WhatsApp atau Telegram. Besar kemungkinan upaya membuka kiriman foto, apalagi video, gagal.

Harapan baru bagi Kabupaten Jayawijaya muncul tahun lalu dengan rampungnya proyek Palapa Ring Timur. Ketika meresmikan proyek ini di Istana Negara, 14 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo bahkan berniat mengecek langsung kegunaan Palapa Ring, yang digadang-gadang bakal membuat akses Internet lebih kencang dan murah.

“Nanti saya cek, nanti coba kalau ke Wamena, ke Biak, atau ke Nabire, mau saya cek lagi, bener ndak sih ini,” ucap Jokowi dalam pidatonya ketika itu.

“Karena kalau ke sana, apa ke Rote Ndao di NTT juga, keluhan dari masyarakat, ‘Pak, ini di sini lemot banget. Kapan bisa cepat?’”

Fasilitas network operations center Palapa Ring memang telah berdiri di sekitar Jalan Bhayangkara, Wamena. Berbeda dengan wilayah lain, infrastruktur Palapa Ring di Wamena menggunakan radio gelombang mikro (microwave) lantaran kondisi geografis yang menyulitkan pembangunan jaringan kabel serat optik. Menara base transceiver station juga dibangun di Distrik Itlay Hisage dan Distrik Kurulu yang disiapkan sebagai pemancar.

Namun akses Internet di Wamena tak kunjung membaik meski proyek Palapa Ring Timur rampung. Padahal distrik dengan wilayah hampir seluas Jakarta Barat ini merupakan mercusuar di Lembah Baliem, wilayah pegunungan tengah Papua yang diisi sejumlah kabupaten hasil pemekaran Jayawijaya, seperti Mamberamo Tengah, Lanny Jaya, Yalimo, dan Nduga. Hingga Januari lalu, hanya ada sinyal general packet radio service di Tiom, ibu kota Lanny Jaya, kabupaten terdekat dengan Jayawijaya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jayawijaya Isak Sawaki mengakui infrastruktur Palapa Ring Timur di wilayahnya yang rampung dibangun tahun lalu belum tersambung jaringan Internet. Jakarta, kata dia, menginformasikan bahwa pengoperasian Palapa Ring di Jayawijaya masih menunggu antrean pada 2020.

“Dalam arti untuk setting pemanfaatan jaringan,” ujarnya. (*)

Laporan ini merupakan hasil kerja sama Tempo dan Tabloid Jubi. Artikel ini juga telah terbit di Tempo edisi 2 Maret 2020.

Reporter: Khairul Anam, Putri Adityowati, Retno Sulistyowati, Islami Adisubrata

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa