HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Surua (Cerita dari marga Sabami-Moor)

Ilustrasi. -harapanrakyat.com

Oleh: Mozard O. Rumbiak

Alkisah, pada zaman dahulu ada sekelompok suku yang tinggal di sebuah pulau, namanya Pulau Moor, Kabupaten Nabire. Nama Suku Moor bermakna “Mora” yang berarti orang dari tengah pulau turun ke pesisir pantai.

Secara umum, masyarakat Suku Moor bermata pencaharian sebagai nelayan, karena kondisi geografis tempat tinggal mereka yang berada di pesisir pantai, tetapi ada sebagian masyarakat yang hidup dengan berkebun.

Pada suatu hari seorang mama (ibu) dari Suku Moor pergi berkebun. Tiap hari ia memang pergi berkebun. Tapi suatu siang ia merasa kecapaian dan haus. Lalu ia ke suatu tempat yang mata airnya tergenang dari sumber mata air. Ia pun meminumnya karena kehausan.

Tanpa sadar ia meminum air yang terdapat benih ular. Tidak lama kemudian ia mengandung. Ibu ini bingung karena tiba-tiba saja ia hamil. Ia hanya pasrah menunggu kelahiran anak dalam kandungan itu hingga waktunya tiba.

Tibalah suatu ketika dia mau melahirkan seorang anak perempuan. Anak yang lahir itu, bagian atas tubuhnya adalah manusia dan bagian perut sampai kaki adalah badan dan ekor ular.

Ia lalu menamainya Surua. Surua berambut hitam dan panjang meski setengah badannya adalah ular.

Loading...
;

Meski dengan kondisi demikian, sang ibu sangat menyayangi Surua dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

Surua tumbuh sebagai anak penurut. Mereka tinggal berdua dan pergi ke kebun setiap hari seperti biasanya. Surua juga membantu ibunya dan ia sangat menyayangi ibunya.

Hari berganti hari Surua pun tumbuh menjadi perempuan dewasa dan hidup bersama masyarakat lainnya di kampung itu.

Surua sangat menyayangi ibunya. Dia menjaga ibunya dan tidak boleh ada orang yang menganggu ibunya.

Namun, ia suka menyendiri. Dia tidak mau bergabung dengan anak-anak seusianya karena minder dengan kondisi tubuhnya. Teman-temannya bahkan menjauhkan dia karena mereka takut dan merasa aneh dengan dia.

Kadang-kadang Surua merasa sedih karena tidak ada yang ingin bermain dengannya, sehingga ia merasa dikucilkan dari pergaulan. Itulah yang dirasakannya setiap hari. Ia merasa sendiri.

Hari terus berlalu dan Surua semakin bertambah besar dan dewasa. Suatu ketika Surua bertanya kepada ibunya, “Di mana bapa saya?”

Lalu ibunya menjawab, “kalau kamu mau mencari tahu di mana bapamu, kamu harus putar badanmu kelilingi gunung ini sampai kepala dan ekormu bertemu. Kalau sudah sampai ketemu, maka nanti kamu akan tahu di mana bapamu.”

Surua pun menuruti apa yang dikatakan ibunya. Namun ia tidak berhasil karena tubuhnya tidak cukup panjang untuk melingkari gunung yang tinggi.

Pada suatu hari Surua naik ke atas pohon untuk menjaga ibunya yang sedang berkebun.

Dari atas pohon, Surua melihat manusia datang untuk berkebun. Tiba-tiba ia menerkam mereka dan membawanya ke gua. Ia memakan manusia itu dan meninggalkan sisa-sisa tulang-tulang manusia di dalam gua. Setelah ia memakan manusia-manusia itu dia kembali menjaga ibunya.

Itulah yang dilakukan Surua tiap hari. Ketika ada orang yang datang berkebun, diam-diam ia turun dari pohon dan menerkam manusia-manusia itu untuk memakannya.

Lama-kelamaan dia banyak memakan orang dan jumlah masyarakat suku di sana semakin berkurang. Masyarakat pun mengetahui bahwa Surua memakan banyak korban. Mereka lalu memberi tahu kepada ibunya. Mendengar itu, ibunya merasa sedih dan hendak membunuh Surua.

Ibunya berkata kepada mereka, “iya sudah, nanti pada saat dia ulang tahun saja (membunuhnya).”

Tibalah hari ulang tahun Surua. Ibunya berkata, “Surua, karena hari ini ulang tahunmu, kita semua di sini mau bikin (ritual) adat, mau gunting kamu punya rambut. Jadi, sekarang kamu ikut dengan kamu punya om-om (paman).”

Semua orang-orang di kampung itu ke laut. Karena Surua berulang tahun, mereka menyuruh dia untuk mengambil kerang di dalam laut. Ternyata di sana sudah ada kerang yang sangat besar (bia garu dalam bahasa Papua) yang siap untuk menjepit kepalanya.

Surua mengikuti suruhan mereka. Dia menyelam ke bawah untuk mengambil kerang tersebut. Akhirnya kepala dan badannya dijepit oleh kerang yang sangat besar itu.

Dia meronta dan berusaha untuk melepaskan diri, tetapi tidak berhasil karena eratnya cengkraman dari kerang besar itu.

Dia meronta-ronta dan terus berusaha untuk melepaskan dirinya sampai badannya luka-luka karena tergesek kulit kerang yang besar dan tajam. Namun usahanya sia-sia dan lama-kelamaan dia kehabisan napas hingga mati.

Hingga sekarang masih ada peninggalan dari Surua, seperti rambut dan piring-piring waktu dia lahir. Hanya marga Sabami yang bisa memegang benda-benda itu.

Menurut kepercayaan nenek moyang mereka, badan Surua yang tercabik-cabik itu menjadi bangkai dan hanyut sampai ke pinggir pantai dan berubah menjadi ular, kadal, dan biawak (soa-soa), sehingga ada kepercayaan dan larangan bagi marga Sabami untuk tidak memakan ular atau biawak, karena menurut kepercayaan mereka itu adalah nenek moyang mereka sendiri.

Ada juga kepercayaan lainnya bahwa gigi akan tanggal atau tercabut semua jika ada masyarakat yang memakan ular atau biawak. (*)

 

Baca juga  FFP IV di Wamena fokus rajut kembali budaya Papua untuk keadilan dan perdamaian

Cerita ini ditulis berdasarkan penuturan sumber cerita, orang tua penulis. Cerita terpilih sebagai pemenang juara 3 lomba menulis cerita rakyat dalam rangka HUT 18 Jubi.

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pengumuman Lagu
"Tanah Papua"

Sehubungan dengan akan dilakukannya pendaftaran lagu “Tanah Papua” yang diciptakan oleh Bapak Yance Rumbino pada Direktorat kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, untuk itu disampaikan kepada seluruh pihak masyarakat yang mengklaim sebagai pencipta lagu “Tanah Papua”, diberi kesempatan untuk mengajukan klaim atau sanggahan lagu tersebut.

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa