Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Tak hanya upaya jambret, Aktivis hukum dan HAM Papua pernah dipukul

Para Advokat HAM Papua yang tergabung dalam Tim Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua saat memberikan pendampingan hukum kepada tujuh Tapol Papua melalui persidangan telekonferensi pada pekan lalu - Jubi/Dok.

| Papua No. 1 News Portal | Jubi

Makassar, Jubi – Irene Waromi, istri advokat HAM Papua, Gustaf Kawer mengatakan beberapa kali ia merasa mendapat teror dari pihak-pihak tak dikenal.

Akan tetapi, ia menganggap itu merupakan risiko pekerjaan kemanusiaan yang dilakukan suaminya.

Pernyataan itu disampaikan Irene Waromi melalui panggilan teleponnya, Selasa (9/6/2020).

“Kalau masalah khawatir, kami khawatir karena beberapa kali di kompleks juga ada mobil-mobil aneh yang lewat. Tapi itu merupakan risiko dari pekerja kemanusiaan,” kata Irene Waromi.

Menurutnya, ia selalu mengingatkan Gustaf Kawer agar tetap berhati-hati karena pekerjaan suaminya, bukan pekerjaan mudah. Apapun dapat terjadi pada suaminya setiap saat.

“Pekerjaan ini bukan pekerjaan gampang. Kita [kadang harus] berhadapan dengan negara. Kita mesti berhati-hati karena entah apa yang negara akan lakukan kepada kita. Jangan sampai sasarannya bukan hanya kepada suami saya, tapi anak-anak saya,” ujarnya.

Loading...
;

Irene Waromi mengatakan sekitar 2015 lalu, ia pulang dari arah Jayapura berboncengan motor dengan adik laki-lakinya menuju ke rumahnya di sekitar Ekspo Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 22.00 Waktu Papua.

Saat berada di sekitar terminal sementara di Ekspo, seorang mendekati Iren Waromi dan adiknya.

Orang tak dikenal itu berupaya merampas tas yang dibawa Irene Waromi. Pelaku kemudian mendorong Irene Waromi dan adiknya hingga terjatuh bersama motor yang dikendari.

Pelaku kabur ke jalan menuju Bumi Perkemahan atau Buper Waena membawa tas milik Irine Waromi.

“Dua hari setelah kejadian, saya melapor ke polisi karena dalam tas itu ada barang-barang saya. Polisi menyuruh membuat berita kehilangan. Tapi pihak kepolisian menyatakan itu jambret dan polisi menyatakan sulit mengungkap pelaku,” kata Irene Waromi.

Irene Waromi juga merasa diteror bersama keluarganya saat suaminya, Gustaf Kawer dilaporkan salah satu hakim anggota Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara atau PTUN Jayapura, Agustus 2014 lalu.

Gustaf Kawer yang mendampingi kliennya dalam proses persidangan di PTUN Jayapura, protes karena menilai proses persidangan digelar secara tidak adil.

Akan tetapi satu diantara hakim anggota PTUN Jayapura kemudian melaporkan Gustaf Kawer dengan dugaan tindak pidana terhadap pejabat umum dalam persidangan di PTUN Jayapura pada 12 Juli 2014.

“Saat [suami saya] Gustaf Kawer dilaporkan ke Polda, beberapa kali polisi datang ke rumah kami. Sampai kami baku marah dengan polisi,” ujarnya.

Kata Irene Waromi, beberapa hari lalu ia kembali merasa diteror karena ada beberapa nomor tak dikenal menghubunginya. Namun ia tidak sempat menjawab panggilan telepon dari beberapa nomor itu.

Panggilan dari beberapa nomor tak dikenal itu terjadi saat Gustaf Kawer menjadi salah satu pembicara dalam diskusi terkait masalah penegakan hukum dan HAM di Papua melalui telekonferensi dengan beberapa aktivis lain.

“Kemarin selama diskusi banyak kata-kata yang tidak bagus kepada pembicara dan lainnya,” ucapnya.

Dugaan teror juga dialami advokat HAM Papua lainnya, Yuliana Yabansabra pada Senin (8/6/2020) sekitar pukul 15.00 WIT.

Kepala Divisi Advokasi Advokasi Elsham Papua yang tergabung dalam Tim Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua dan memberikan pendampingan hukum kepada tujuh tahanan politik atau Tapol Papua di Kaltim itu, diserang orang tak dikenal saat sedang mengendari sepeda motor dari arah Abepura ke Waena, Kota Jayapura.

Menurut Yabansabra, sebelum kejadian ia bersama kedua temannya ingin bermaksud mencari makan siang dan mengisi bahan bakar di SPBU Ale-ale, Padang Bulan.

Tiba-tiba dari arah belakang ada motor berwarna hitam yang mendekatinya dari samping. Pengendara motor itu berupaya memukul Yuliana Yabansabra.

“Begitu dapat keseimbangan yang baik saya langsung mengejar orang tersebut sampai lampu merah Waena, karena terlalu banyak kendaraan saya tidak bisa terus mengejar, karena ada mobil yang tiba-tiba keluar dari arah perumnas 2, 3, yang akan menuju kearah Sentani akhirnya saya tidak bisa mengejarnya,” kata Yabansabra dikutip dari suara.com.

Ia juga tidak sempat mengingat nomor polisi pelaku, yang dia ingat hanya pelaku beraksi sendirian. (*)

Editor: Edho Sinaga

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top