Taliban serahkan uang dan emas sitaan ke bank sentral Afghanistan

Papua dolar
Ilustrasi, pixabay.com

Papua No.1 News Portal | Jubi

Kabul, Jubi  – Kelompok Taliban menyerahkan uang tunai sekitar 12,3 juta dolar AS dan sejumlah emas kepada bank sentral Afghanistan, Da Afghanistan Bank (DAB). Pernyataan bank pada Kamis, (17/9/2021) kemarin uang tunai dan emas batangan itu ditemukan dari rumah mantan pejabat pemerintah, termasuk di kantor bekas badan intelijen Afghanistan yang juga dikembalikan ke bendahara DAB.

“Pejabat Imarah Islam Afghanistan melalui penyerahan aset ke perbendaharaan nasional membuktikan komitmen mereka terhadap keterbukaan,” tulis pernyataan Da Afghanistan Bank.

Baca juga : Krisis ekonomi mengintai Afghanistan, satu bulan setelah dikuasai Taliban 

Biaya pencegahan krisis kemanusiaan Afghanistan mencapai 600 juta dolar  

Ini pesan mantan presiden Ashraf Ghani kepada rakyat Afghanistan

Taliban mengumumkan pembentukan “caretaker government” pada 7 September, usai berhasil menguasai Ibu kota Kabul pada pertengahan Agustus lalu. Mereka menunjuk sejumlah penjabat menteri dan seorang penjabat gubernur untuk bank sentral Afghanistan.

Loading...
;

Namun ratusan diplomat Afghanistan di luar negeri justru menghadapi ketidakpastian saat Taliban menguasai negara itu.  Para diplomat Afghanistan kehabisan uang untuk menjalankan misi dan takut untuk pulang serta putus asa dalam mencari perlindungan di luar negeri. Meski Taliban mengatakan mereka telah mengirim pesan ke semua kedutaannya yang memberitahu para diplomat untuk melanjutkan pekerjaan mereka.

Tetapi delapan staf kedutaan yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim, di negara-negara termasuk Kanada, Jerman dan Jepang, menggambarkan keputusasaan dalam misi mereka.

“Rekan-rekan saya memohon kepada negara tuan rumah untuk menerima mereka,” kata seorang diplomat Afghanistan di Berlin.

“Saya benar-benar memohon. Para diplomat bersedia menjadi pengungsi,” katanya, seraya menambahkan bahwa dia harus menjual segalanya, termasuk sebuah rumah besar di Kabul, dan “mulai dari awal lagi”.

Pakar hubungan internasional di Universitas Nottingham Inggris, Afzal Ashraf, menyebut misi Afghanistan di luar negeri menghadapi periode ketidakpastian yang berkepanjangan ketika negara-negara memutuskan untuk mempertimbangkan mengakui Taliban.

“Apa yang bisa dilakukan kedutaan tersebut? Mereka tidak mewakili pemerintah. Mereka tidak memiliki kebijakan untuk diterapkan,” kata Afzaf.

Ia mengatakan staf kedutaan kemungkinan akan diberikan suaka politik karena masalah keamanan jika mereka kembali ke Afghanistan. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top