Follow our news chanel

Tapol Papua dituntut belasan tahun penjara, Kadepa: Tidak adil

Ilustrasi persidangan lanjutan tujuh tapol Papua secara telekonferensi beberapa waktu lalu - Jubi. Dok
Papua No. 1 News Portal | Jubi

 

Makassar, Jubi – Anggota komisi bidang pemerintahan, politik, hukum dan HAM DPR Papua, Laurenzus Kadepa menilai tuntutan 17 tahun penjara terhadap Buchtar Tabuni dan lima tahun penjara untuk Irwanus Uropmabin oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) adalah tidak adil.

Pernyataan itu dikatakan Laurenzus Kadepa melalui panggilan teleponnya kepada Jubi, Selasa (2/6/2020).

Buchtar Tabuni dan Irwanus Uropmabin merupakan dua di antara tujuh tahanan politik Papua yang dititipkan di Rumah Tahanan (Rutan) Balikpapan, Kalimantan Timur. Para tapol Papua kembali menjalani persidangan lanjutan secara telekonferensi, Selasa (2/6/2020).

Keduanya ditangkap setelah aksi unjuk rasa mengecam ujaran rasisme di Kota Jayapura, 19 dan 29 Agustus 2020. Unjuk rasa itu merupakan protes masyarakat Papua terhadap ujaran rasisme terhadap mahasiswa asal Papua di Surabaya, Jawa Timur pada 16 Agustus 2019.

Buchtar Tabuni didakwa melanggar Pasal 106 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, melanggar Pasal 110 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 dan melanggar Pasal 160 KUHP.

Sementara itu, Irwanus Uropmabin didakwa melanggar Pasal 106 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1, dan Pasal 160 KUHP Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Loading...
;

Akan tetapi Laurenzus Kadepa menilai tuntutan Jaksa Penuntut Umum atau JPU terhadap Buchtar Tabuni dan Irwanus Uropmabin tidak adil, dan tak masuk akal.

“Kalau begini, Jaksa sangat berlebihan. Saya minta JPU segera menarik atau mempertimbangkan tuntutan yang sangat tidak masuk akal. Pelaku ujaran rasis di Surabaya hanya divonis lima bulan penjara, sedangkan korban rasisme Papua dituntut lima tahun dan 17 tahun penjara oleh JPU dari Kejaksaan Tinggi Papua,” kata Kadepa.

Laurenzus Kadepa kembali menjadi saksi dalam sidang lanjutan para tapol Papua melalui telekonferensi pada hari ini. Kadepa dihadirkan penasihat hukum para terdakwa sebagai saksi meringankan untuk Alexander Gobay.

“Sebelumnya saya juga hadir sebagai saksi fakta terdakwa Buchtar Tabuni, Hengki Hilapok, Fery Gombo dan Agus Kossay. Sebagai anggota DPR Papua yang memantau jalannya aksi saat itu, saya menjelaskan sesuai fakta kepada majelis hakim agar menjadi pertimbangan dalam putusan nanti,” ujarnya.

Ia berharap, JPU dapat bijaksana dalam penyampaian tuntutan hukum terhadap tujuh terdakwa, karena para terdakwa dinilai merupakan bagian dari korban rasisme, bukan pelaku rasisme.

Satu di antara penasihat hukum (PH) terdakwa, Emanuel Gobay membenarkan jika Buchtar Tabuni dan Irwanus Uropmabin dituntut masing-masing 17 tahun dan lima tahun penjara.

“Persidangan hari ini agendanya tuntutan untuk terdakw Irwanus Uropmabin dan Buchtar Tabuni. Sedangkan Hengky Hilapok, Alaxander Gobay, dan Steven Itlay agendanya pemeriksaan saksi,” kata Emanuel Gobay. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top