Tekanan-tekanan yang dihadapi jurnalis di Pasifik Selatan

Vanuatu dan Kiribati telah bergabung dengan Papua Nugini dan Fiji dalam daftar pemerintah kepulauan Pasifik yang tidak jujur dan telah mengeluarkan wartawan dari negaranya. - The Strategist
Tekanan-tekanan yang dihadapi jurnalis di Pasifik Selatan 1 i Papua
Vanuatu dan Kiribati telah bergabung dengan Papua Nugini dan Fiji dalam daftar pemerintah kepulauan Pasifik yang tidak jujur dan telah mengeluarkan wartawan dari negaranya. – The Strategist

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Graeme Dobell

Jurnalis sudah lama menjadi profesi yang sulit di Pasifik Selatan. Menetap dan bekerja di komunitas-komunitas kepulauan Pasifik membawa tekanan politik, pribadi, dan profesional yang luar biasa kepada editor dan reporter.

Sebuah pernyataan yang berisikan peringatan tentang ‘ancaman terhadap kebebasan media semakin meningkat’ dari Melanesia Media Freedom Forum, yang mewakili wartawan dari Fiji, Vanuatu, Kepulauan Solomon, Papua Nugini, dan Papua Barat, telah dibuktikan oleh pengusiran seorang editor yang sudah lama bekerja Vanuatu.

Kiribati menendang keluar kru program TV Australia yang berkunjung, juga menunjukkan adanya persoalan besar tentang kebebasan media.

Salah satu perubahan akhir-akhir ini adalah wartawan Pasifik tidak bisa lagi mengandalkan liputan dan dukungan media Australia dan Australian Broadcasting Corporation, seperti yang dapat mereka lakukan sebelumnya.

Mengamati kebijakan ‘step-up’ Australia di Pasifik Selatan itu sangat ironis melihat seberapa banyak media Australia justru telah ‘step-down’. Ketika ABC sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-80 dari layanan internasionalnya, Radio Australia, perayaan sampingan adalah bahwa tampaknya situs siaran radio gelombang pendek Australia yang maju mundur sedang dalam proses untuk dijual.

Loading...
;

Cerita yang sedang terjadi di Vanuatu menggambarkan adanya kekuatan-kekuatan lain yang dihadapi oleh wartawan-wartawan Pasifik. Dalam tulisannya di The Guardian ’Hari Kelam bagi Kebebasan Media’, Direktur Media dan Editor Daily Post Vanuatu, Dan McGarry mengungkapkan ia harus meninggalkan negara tempat ia menetap selama 16 tahun serta anak istrinya. Seperti tulisan McGarry, “Saya percaya pemerintah menolak permohonan saya untuk memperbarui visa kerja saya untuk membungkam saya dan memperingatkan wartawan lain di negara itu untuk tidak bersuara.”

Seperti banyak hal lainnya di Pasifik Selatan, ada aspek Tiongkok dari permasalahan ini. McGarry mengungkapkan bahwa kantor perdana menteri telah memberikannya peringatan tentang liputan yang ‘negatif’ pada Juli (dikutip dari The Guardian).

Surat kabar The Daily Post baru saja menerbitkan serangkaian artikel berkaitan dengan bagaimana pemerintah telah menahan enam warga negara Tiongkok — empat di antaranya memiliki kewarganegaraan Vanuatu — tanpa pengadilan atau penasihat hukum. Kewarganegaraan mereka dicabut dan mereka diterbangkan naik pesawat ke Tiongkok. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada mereka setelah itu…

Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Tiongkok telah meminta atau bahkan mendesak pemberhentian saya. Tetapi kelihatan jelas bahwa tekanan politik pada birokrat-birokrat senior mengakibatkan upaya ini untuk melumpuhkan media.

Kiribati, yang menahan dan menendang kru stasiun TV Australia, Channel 9, tentu saja membawa drama tambahan ke liputan mereka di negara itu, berjudul ‘trouble in paradise’ dalam program 60 Minutes, dan melebih-lebihkan pelaporannya tentang kegiatan Tiongkok yang curang di Pasifik Selatan. Namun, menonton acara TV itu, tampaknya hanya permainan tokoh politik dan kekuasaannya yang biasa, dengan sedikit tekanan tambahan yang disebabkan oleh peralihan pengakuan diplomatik Kiribati dari Taiwan ke Tiongkok.

Dengan kejadian ini, Vanuatu dan Kiribati telah bergabung dengan Papua Nugini dan Fiji dalam daftar pemerintah kepulauan Pasifik yang tidak jujur dan telah mengeluarkan wartawan dari negaranya. Pemerintah-pemerintah selalu bersuara tentang menegakkan kedaulatan negara, tetapi kejadian seperti itu selalu membuatnya terlihat buruk. Kenapa pemerintah begitu sensitif? Apa yang disembunyikan? Penegasan kekuasaan yang seperti ini membuat pemerintah terlihat lemah, bukan kuat.

Seperti yang ditulis oleh Jemima Garrett, mantan Koresponden ABC di Pasifik Selatan, dalam tulisannya di The Interpreter oleh Lowy Institute, tidak ada keraguan bahwa bagi Australia pengaruh Tiongkok yang terus meningkat adalah kisah yang sangat penting. Tetapi, dengan begitu sedikit wartawan Australia yang berbasis di wilayah tersebut, bahkan perkembangan signifikan mengenai kisah Tiongkok tidak bisa dilaporkan.

Tingkat pemahaman dan pengetahuan tentang Pasifik di Australia sangat rendah. Sementara ada peningkatan drastis dari minat media Australia di wilayah Pasifik baru-baru ini, fokusnya yang hampir semuanya berpusat pada Tiongkok tidak membantu meningkatkan pemahaman itu, dan justru menggemaskan pemimpin-pemimpin Pasifik yang ingin memastikan suara-suara dan agenda lainnya yang lebih meluas di Pasifik semakin diketahui di Australia.

Pernyataan media Melanesia itu berkata ‘demokrasi global telah menurun dan mempermudah pemerintah dalam membungkam pers; informasi yang salah, propaganda dan hoaks adalah persoalan-persoalan yang berkembang; dan media sosial adalah ancaman eksistensial, mempengaruhi anggaran dan peran perusahaan-perusahaan media Melanesia.

Forum itu meminta agar ada pemahaman yang lebih baik tentang peran jurnalisme dalam akuntabilitas demokrasi Melanesia.

Berbagai jenis ancaman terhadap kebebasan media meningkat. Ini termasuk undang-undang yang membatasi, intimidasi, ancaman politik, ancaman dan tuntutan hukum, kekerasan dan kebrutalan polisi dan militer, serta penahanan yang tidak sesuai hukum penyerangan daring, rasisme antara kelompok etnis dan ancaman yang selalu terjadi, terutama oleh wartawan muda dan perempuan yang mungkin menghadapi kekerasan baik di tempat kerja maupun di rumah mereka sendiri.

Sejak ABC menghentikan layanan siaran radio gelombang pendek pada Januari 2017, setengah dari negara-negara Forum Kepulauan Pasifik (PIF) sekarang tidak bisa mendengarkan siaran apa-apa dari Radio Australia.

Mematikan siaran radio gelombang pendek ini telah merampas hak dari pendengar yang tidak diketahui jumlahnya. Sebagai kebijakan dalam bidang penyiaran, keputusan ini sangat dipertanyakan. Sebagai strategi, keputusan ini bodoh — sebuah contoh yang menyedihkan dari amnesia Australia tentang peran Pasifik Selatan dan peran pers yang bebas di pulau-pulau itu.

Laporan tinjauan jangkauan media Australia di Asia-Pasifik yang diam-diam dirilis oleh pemerintah Australia tidak menyarankan agar siaran radio gelombang pendek dipulihkan, tetapi itu juga tidak mendukung kecerobohan ABC dalam mengambil keputusan itu.

Geoff Heriot, seorang mantan eksekutif senior di ABC, berkata sudah sepatutnya menyerang jangkau geografis dari peninjauan itu, dan cara laporan tersebut yang hanya menghitung keuntungan siaran radio gelombang pendek hanya dalam hal ekonomi.

Namun, bahkan jika dilihat dari sisi keuangan, laporan itu menemukan bahwa selang dekade sebelum penutupannya, Australia telah ‘mendapatkan keuntungan bersih $ 40,3 juta dari siaran radio gelombang pendeknya di wilayah Asia Pasifik’.

Jadi, mengakhiri siaran radio gelombang pendek itu bukan hanya merugikan pemasukan nasional, itu juga merugikan bidang kebijakan luar negeri.

Saat Australia sedang merenungkan kepentingan, pengaruh, dan nilai-nilainya di Pasifik Selatan, ia harus kembali melihat peran penting media. (The Strategist)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top