Follow our news chanel

Teluk Bintuni basmi malaria bukan hanya bagi kelambu

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Ketua Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni, Dr Alimuddin B, mengatakan selama ini program pemberantasan penyakit malaria di wilayahnya bukan sekadar membagi-bagikan kelambu kepada masyarakat, tetapi harus ada pendidikan dan sosialisasi dalam minum obat sesuai dosis.

“Jadi masyarakat tidak boleh sembarang minum obat tetapi harus periksa ke puskesmas dan harus minum obat sesuai dengan hasil pemeriksaan dan dosis sesuai petunjuk petugas puskesmas,” katanya kepada Jubi, di sela-sela ICBE di Manokwari, pekan lalu.

Dia menambahkan ada petugas puskesmas dan juga petugas dari kampung melakukan sosialisasi terhadap membasmi atau memberantas penyakit malaria.

“Nyamuk boleh hidup tetapi jangan sebarkan malaria,”katanya, seraya menambahkan pihak kesehatan di sana menjalankan melalui sistem diagnosis dan perawatan dini atau Early Diagnosis And Treatment (EDAT).

Dikatakan, berdasarkan program EDAT ini memberikan hasil nyata di lapangan dan juga meraih penghargaan inovasi dalam pelayanan publik dari PBB melalui UNPSA (United Nations Public Service Awards) atas upaya pengurangan kasus malaria.

“Mestinya kami harus mendapat penghargaan berupa hadiah karena telah menyelamatkan nyawa manusia dari penyakit malaria,”katanya, sembari menunjukkan hasil nyata di lapangan karena telah menurunkan penyebaran kasus malaria dari angka 9,2 persen menjadi 0,02 persen di 12 desa pada 2017.

Loading...
;

Penghargaan UNPSA yang diberikan oleh PBB kepada perwakilan pemerintah Indonesia pada 23 Juni 2018 lalu, di Marrakesh, Maroko.

Hal ini merupakan apresiasi atas inovasi Dinas Kesehatan Teluk Bintuni melalui sistem diagnosis dan perawatan dini atau Early Diagnosis And Treatment (EDAT) dalam mengurangi prevalensi malaria di kabupaten Teluk Bintuni.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat, Otto Parorongan,  kepada Antara di Manokwari, Selasa (16/10/2018), mengatakan pemerintah Teluk Bintuni cukup berhasil dalam menekan kasus malaria. Masyarakat pun sejak beberapa tahun terakhir turut aktif berpartisipasi pada program eliminasi malaria di daerah tersebut.

"Dinas Kesehatan Teluk Bintuni melibatkan masyarakat sebagai kader kesehatan. Para relawan dilatih untuk bisa memberi penanganan awal terhadap penyakit malaria," katanya.

Dia mengutarakan kader anti malaria di kabupaten penghasil minyak dan gas bumi tersebut tersebar hampir di setiap kampung. Selain mendiagnosa penyakit malaria pada pasein, mereka juga diberi bekal dalam hal pemberian obat, pencegahan dan menghidupkan gerakan masyarakat.

Meskipun demikian, kerja mereka tetap dalam pengawasan petugas kesehatan di wilayah masing-masing. 

"Pemerintah Teluk Bintuni memanfaatkan kearifan lokal dalam menekan kasus malaria. Masyarakat dilibatkan sebagai relawan dengan demikian ada gerakan sinergis antara pemerintah dengan warga," katanya lagi.

Dia menambahkan,Dinas Kesehatan dinilai mampu menerapkan dan mengajarkan teknologi kesehatan kepada masyarakat. Daerah lain diminta meniru sistem eliminasi malaria yang dilaksanakan Teluk Bintuni.

Petugas kesehatan di daerah tersebut sangat responsif dan bergerak cepat dalam menangani setiap kasus malaria. Kegigihan pemerintah Teluk Bintuni bersama masyarakat dalam menekan kasus malaria dinilai sangat berhasil. 

"Kasus malaria di Teluk Bintuni terus menurun, dulu 100/1000 kini sudah 2,4/1000. Daerah lain juga harus bisa sehingga pada tahun 2030 mendatang Papua Barat bebas malaria," ujarnya.

Dia yakin melalui kerja keras masyarakat bersama pemerintah daerah setempat, tahun 2020 daerah tersebut terbebas dari malaria. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top