Tembak pendeta dan pewarta di Intan Jaya diibaratkan melawan Tuhan

papua
Helikopter terbang setelah mengantar TNI di lapangan terbang Sugapa Intan Jaya. - Jubi/Abeth You

Papua No.1 News Portal | Jubi

Nabire, Jubi – Konflik bersenjata yang berkepanjangan di Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua antara TNI/Polri dan TPN-PB terus berdampak buruk kepada semua pihak. Pasalnya dalam konflik tersebut warga sipil menjadi korban, bahkan hamba Tuhan seperti mendiang Pendeta Yeremia Zanambani dan Pewarta Rufinus Tigau diduga ikut menjadi korban penembakan anggota TNI.

Hal itu dikatakan salah satu hamba Tuhan, Pendeta Nahor Maiseni, asal Moni. Ia mengatakan bahwa pendeta dan pewarta tugasnya bukan melakukan perlawanan terhadap TNI/Polri dan TPN-PB di salah satu kabupaten di wilayah pegunungan tengah Papua ini, namun mereka hanya menyampaikan firman Tuhan di tengah-tengah masyarakat yang trauma dan ketakutan.

“Saya ingin sampaikan bahwa pendeta, pastor dan katekis bukanlah orang yang menjadi musuh dan melawan TNI atau TPN-PB atau siapa pun. Namun hamba Tuhan adalah seseorang yang dipercayakan Tuhan sebagai penyambung lidah untuk menyampaikan kabar damai, kasih dan berita kebenaran serta keadilan,” ujar Pdt Nahor Maiseni kepada Jubi, Rabu (25/11/2020).

Menurut dia, penembakan terhadap pendeta di Hitadipa dan katakis di Jalai merupakan bentuk perlawanan terhadap Tuhan Allah.

“Jadi peran dan aktivitas sehari-hari mereka (pastor, pendeta, dan katekis) adalah mendoakan untuk kedamaian dan keselamatan semua umat Tuhan di bumi ini tanpa memandang golongan. Saya sebagai hamba Tuhan menyampaikan bahwa entah TNI maupun TPN-PB atau kelompok mana pun, yang berniat membunuh seorang pendeta, pastor dan katekis entah per orangan atau kelompok itu, ibarat sedang melawan Tuhan atau berperang dengan Tuhan, bukanlah dengan manusia,” katanya.

Lanjutnya, pengalaman yang menyedihkan dan buruk dialami umat dan hamba Tuhan, lantaran pengiriman TNI nonorganik di Intan Jaya sangat berlebihan, sehingga banyak korban berjatuhan entah dari pihak TNI atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB).

“Dengan terjadinya pembunuhan terhadap Pendeta Jeremia Zanambani dan terjadinya konflik di Hitadipa, warga Jemaat GKII Klasis Hitadipa dalam seluruh tatanan hidup warga jemaat mengalami kondisi yang buruk. Dari aspek rohani, jemaat tidak lagi melakukan ibadah seperti biasanya dan aktivitas pendidikan lumpuh,” katanya.

Loading...
;

Salah satu mama asal Hitadipa yang namanya tidak mau disebutkan, memohon kepada pemerintah daerah setempat agar jangan diam saja dan segera menyelesaikan persoalan ini.

“Kami tidak bisa hidup nyaman. Pihak pemerintah maupun DRPD, juga pihak gereja perlu dan secara serius memikirkan untuk memulihkan atau memperbaiki kondisi Hitadipa sebagi Tanah Injil ini,” katanya, sambil berlinang air mata. (*)

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top