Follow our news chanel

Previous
Next

Tenaga medis di Thailand masih trauma meski kasus Covid-19 menurun

Ilustrasi, seorang tenaga medis menggunakan alat pelindung diri (APD) – Jubi/HiTech.com
Tenaga medis di Thailand masih trauma meski kasus Covid-19 menurun 1 i Papua
Ilustrasi, seorang tenaga medis menggunakan alat pelindung diri (APD) – Jubi/HiTech.com

Ketegangan akibat wabah yang pertama kali dari China itu masih dirasakan oleh para dokter dan perawat yang bekerja berminggu-minggu untuk menjaga pasien tetap hidup.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Bangkok, Jubi – Kanjana Kamoun, seorang perawat salah satu bangsal perawatan intensif virus corona di sebuah rumah sakit Kota Bangkok masih merasakan trauma. Ia masih merasakan saat terbangun pada tengah malam dengan rasa cemas dan takut teringat tempatnya bekerja sepanjang hari yang selalu dia pikirkan.

Kondisi yang dialami Kanjana itu ia alami meski jumlah kasus baru di negara Thailand telah menurun. Namun ketegangan akibat wabah yang pertama kali dari China itu masih dirasakan oleh para dokter dan perawat yang bekerja berminggu-minggu untuk menjaga pasien tetap hidup.

“Terkadang saat saya bangun dan tenggorokan sakit, saya merasa takut dan bertanya-tanya apakah saya melakukan kesalahan di tempat kerja,” kata Kanjana, perempuan 36 itu  kepada Reuters.

Baca juga : Di Belgia, seorang ibu positif COVID-19 melahirkan bayi sehat

PM Inggris Johnson akan kembali bekerja setelah pulih dari Covid-19

Loading...
;

Inggris akan uji coba plasma untuk penyebuhan pasien Covid-19

Tercatat, Sejak 9 Maret, King Chulalongkorn Memorial Hospital di Bangkok telah merawat hampir 200 pasien virus corona. Petugas medis di rumah sakit tersebut bangga karena mereka belum kehilangan satu pun pasien. “Yang bisa saya lakukan hanya berpikir bahwa saya telah melakukan yang terbaik,” ujar Kanjana.

Ia bersama tenaga medis lain berprinsip tidak ingin seorang pun meninggal dunia. “Saya hanya ingin mereka pulih,” ujar Tatsanee Onthong, salah satu perawat yang bertugas di unit perawatan intensif.

Rumah sakit itu memperhatikan pencegahan infeksi diantara para staf medis. Pasien yang datang pertama kali hanya melihat dokter di layar. Konsultasi dilakukan dari jarak jauh.

Unit perawatan intensif berada di belakang dua lapisan kaca. Hanya mereka yang benar-benar harus memasuki ruangan yang melakukannya. Satu pasien ditempatkan di setiap kamar.

“Dibutuhkan lima hingga enam staf medis, yang setiap kali bertugas menggunakan banyak peralatan pelindung diri,” kata spesialis penyakit infeksi Opaa Putcharoen.

Ia membuat mereka khawatir bahwa jika memiliki banyak kasus parah, akan menghabiskan banyak sumber daya dan meningkatkan kemungkinan infeksi.

Tetapi tidak seperti di China atau bagian Eropa dan Amerika Serikat, bangsal darurat Thailand tidak pernah kewalahan dengan pasien virus corona. Dan jumlah kasus yang dilaporkan di negara itu melambat.

Pada Senin awal pekan kemarin, Thailand melaporkan sembilan kasus baru, untuk pertama kalinya jumlahnya turun menjadi satu digit sejak 14 Maret. Meskipun memiliki beberapa kasus virus corona paling awal, Thailand telah melaporkan hanya 2.931 kasus dan menempati peringkat ke-58 di seluruh dunia. Thailand telah mencatat 52 kematian, sementara 2.609 pasien telah pulih.

Onthong mengenang seorang pasien yang tiba tak sadarkan diri. Lansia dengan yang memiliki kondisi medis lain itu peluangnya untuk sembuh tampak kecil.

“Tetapi kemudian pasien menjadi lebih baik dan pulih. Itu membangkitkan semangat saya untuk terus berjuang,” katanya. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top