Follow our news chanel

Tepis klaim TGPF, ini kesaksian keluarga Pendeta Yeremia soal outopsi

papua, otopsi jenazah pendeta yeremia, komnas HAM
Jejak lubang peluru di lokasi penembakan terhadap Pendeta Yeremias Zanambani - Jubi/Dok. Komnas HAM

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Keluarga mendiang Pendeta Yeremia Zanambani di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua menolak mengizinkan autopsi. Tercatat Pendeta Yeremia Zanambani meninggal ditembak yang melibatkan aparat TNI.

“Pihak keluarga korban, juga menyampaikan bahwa mereka menolak dilakukan autopsi,” kata Ketua Tim Kemanusiaan Provinsi Papua untuk Kasus Kekerasan Terhadap Tokoh Agama di Kabupaten Intan Jaya, Haris Azhar, Kamis (29/10/2020) kemarin.

Baca juga : Warga Hitadipa mengungsi dan terancam kelaparan 

LP3BH Manokwari: Kesimpulan TGPF Intan Jaya lemah dan menggelikan 

Komnas HAM catat 18 kasus kekerasan di Intan Jaya sepanjang 2020

Temuan Haris itu menepis klaim dari Ketua Tim Investigasi Lapangan TGPF Intan Jaya Benny Mamoto yang menyatakan keluarga mendiang Pendeta Yeremia Zanambani bersedia memberi izin autopsi.

Loading...
;

Haris menjelaskan ada dua alasan keluarga menolak proses autopsi Pendeta Yeremia. Pertama, karena sudah banyak bukti dan kesaksian yang diberikan untuk menghukum pelaku penembakan. Kedua, bertentangan dengan nilai adat yang dijunjung di Papua.

“Bahwa membuka kembali kuburan bertentangan dengan nilai adat di Papua, bisa berdampak tidak baik bagi keluarga,” kata Haris menambahkan.

Tercatat, Benny Mamoto sempat menyatakan bahwa pihak keluarga bersedia memberikan upaya autopsi setelah pihaknya mencoba meyakinkan.

Selain itu, Haris menjelaskan sampai saat ini banyak masyarakat Hitadipa yang mengungsi imbas merebaknya peristiwa kekerasan yang dilakukan aparat terjadi belakangan ini.

Puncaknya, kata Haris, saat peristiwa pembunuhan pendeta Yeremia. Setelah jasad Yeremia dikubur, masyarakat berbondong-bondong ke luar menuju hutan-hutan hingga ke sejumlah kabupaten lain pada 20 September 2020.

“Kondisi hari ini, kampung Hitadipa kosong,” kata Haris menjelaskan.

Menurut dia, banyak masyarakat Hitadipa berharap kembali ke kampung halamannya untuk melanjutkan kehidupan mereka. Demikian pula dengan keluarga pendeta Yeremia. Mereka berharap bisa melakukan ibadah duka atas meninggalnya Pendeta Yeremia.

Tak hanya itu, Haris menyatakan masyarakat Hitadipa turut berharap agar pasukan TNI, yang organik maupun non-organik untuk ditarik dari wilayahnya.

“Agar tidak lagi berada di Hitadipa, selain karena mereka trauma, masyarakat berkeyakinan bahwa Hitadipa adalah tanah suci misa gereja yang tidak boleh untuk praktik kekerasan,” katanya.

Sebelumnya, Haris Azhar menyatakan hasil investigasi yang dilakukan timnya menunjukkan penembakan terhadap Pendeta Yeremia pada Sabtu (19/9) lalu dilakukan oleh oknum TNI menggunakan senjata api standar militer.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD beberapa waktu lalu turut mengakui ada dugaan keterlibatan oknum aparat dalam penembakan yang menewaskan Pendeta Yeremia tersebut. (*)

CNN Indonesia

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top