Follow our news chanel

Terapkan ‘new normal’: hidup dengan Covid-19 di PNG

Sejak akhir Juli 2020, masyarakat PNG telah diwajibkan untuk mengenakan masker hidung dan mulut di Port Moresby. - Lowy Institute/Prachatai/Flickr

Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh Joseph Pundu

Hingga 2 Oktober, Papua Nugini (PNG) telah mengumumkan 539 kasus Covid-19. Dari jumlah tersebut, 519-nya telah pulih sementara 7 meninggal dunia. Karantina wilayah diberlakukan di negara itu pada Maret dan Agustus, namun sekarang negara itu berupaya kembali ke normal, meskipun dengan beberapa persyaratan ketentuan baru. Tapi ini bukan kembali ke normal. Justru, negara ini ingin menerapkan ‘new normal’.

Beberapa ketentuan lebih mudah dipatuhi oleh warga PNG daripada yang lainnya. Sejak akhir Juli, masyarakat telah diwajibkan untuk mengenakan masker hidung dan mulut di Port Moresby, namun hanya sedikit orang-orang yang mematuhi peraturan ini.

Dengan ‘new normal’, berbagai pembatasan juga telah diangkat secara bertahap. Larangan jam malam di Port Moresby, awalnya dimulai dari jam 10 malam sampai jam 5 pagi, pertama-tama diubah menjadi dari tengah malam hingga jam 5 pagi, dan kemudian dicabut sepenuhnya pada tanggal 6 Oktober. Penumpang transportasi sekarang bebas melakukan perjalanan ke pusat-pusat kota lain di PNG dari Port Moresby, tetapi harus tetap mematuhi protokol Covid-19 dan mengisi formulir perjalanan untuk keperluan pelacakan kontak.

Masih ada larangan untuk penerbangan internasional. Ada sejumlah penerbangan internasional yang datang dari beberapa negara yang diizinkan untuk mendarat, tetapi hanya beberapa penumpang yang sampai, dan mereka harus dikarantina selama setidaknya dua minggu.

Mengapa PNG sudah mulai dibuka meski mereka belum memberantas Covid-19? Ada beberapa alasan yang menerangkan alasan PNG dalam memutuskan untuk hidup dengan virus tersebut.

Loading...
;

Pertama, jumlah kasus yang dilaporkan tidak terlalu tinggi. Meski pengujian Covid-19 masih terbatas, apa yang awalnya kelihatan seperti lonjakan yang drastis, yang dimulai pada bulan Juli ini, tampaknya mulai mereda. Jumlah kematian yang dilaporkan hanya tujuh orang, dimana kematian terakhir dilaporkan pada 21 September.

Kedua, PNG sudah terbiasa menghadapi penyakit menular. Jika dibandingkan dengan epidemi penyakit lainnya, Covid-19 sepertinya tidak terlalu menakutkan. Penyakit TB dan malaria menyebar luas di negara itu. Pada 2009 hingga 2011, wabah virus kolera di PNG menginfeksi 15.500 orang dengan mencabut nyawa sekitar 500 orang. Pada 2012 hingga 2013, virus chikungunya menyerang 22 provinsi di PNG. Epidemi ini diikuti oleh wabah campak pada tahun 2014, yang menginfeksi 4.968 orang dan menyebabkan 365 kematian. Kebanyakan dari korban kematian Campak adalah anak-anak. Pada 2018, wabah polio kembali terjadi untuk pertama kali di PNG setelah 18 tahun bebas-polio.

Ketiga, pemerintah pusat PNG sedang dihadapkan dengan keadaan fiskal yang sangat sulit, dan mereka tidak mampu untuk menyokong keluarga-keluarga dan usaha-usaha sementara ekonomi juga sedang lesu.

Dengan perubahan pembatasan ini bukan berarti kesulitan ekonomi sudah berakhir. Badan promosi kepariwisataan PNG, PNG Tourism Promotion Authority, memperkirakan bahwa 90% dari semua pemesanan untuk 2020 telah dibatalkan. Pasar-pasar tradisional sudah kembali dibuka, tetapi aktivitas ekonomi secara keseluruhan masih lesu.

‘New normal’ adalah upaya untuk mengimbangkan antara tanggapan dan penanganan isu kesehatan masyarakat yang efektif serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Risiko terbesar saat ini tampaknya adalah rasa berpuas diri: bahwa ‘new normal’ berarti PNG akan bergeser kembali ke normal yang lama. Kita pasti akan melihat lebih sedikit orang yang mengenakan masker hidung dan mulut di ibu kota negara. Demi kebaikan semua orang, langkah-langkah seperti menjaga jarak fisik dan kebersihan pribadi perlu ditaati. Menyebarkan informasi dan fakta yang akurat tentang virus Corona, ini juga penting dalam cara hidup ‘new normal’ dengan Covid-19.

Pemerintah pusat tidak bisa mengorbankan ekonomi dengan meneruskan karantina wilayah. Pada saat yang bersamaan, PNG tidak memiliki kapasitas untuk menangani virus ini jika terjadi wabah besar-besaran di tingkat nasional. Tanggung jawab untuk mencegah penyebaran Covid-19 tanpa karantina wilayah perlu dibagi sama rata kepada semua warga PNG. Ini adalah normal yang baru, ‘New normal’. (Devpolicy Blog/ Development Policy Centre The Australian National University)

Joseph Pundu bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Bisnis dan Kebijakan Publik Universitas Papua Nugini (UPNG).

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top