Follow our news chanel

Previous
Next

Tiga jenis kain khas Bali ini mulai punah

Papua, Bali
Ilustrasi, pixabay.com
Tiga jenis kain khas Bali ini mulai punah 1 i Papua
Ilustrasi, pixabay.com

Keberadaan kain Bali sangat erat kaitannya dengan budaya tata cara upacara adat

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Denpasar, Jubi – Pakar Busana Bali Anak Agung Ngurah Anom Mayun K Tenaya, mengatakan tiga jenis kain asli Bali telah punah. Hal itu sebagai dampak dari budaya penyederhanaan upacara yang tidak lagi menggunakan kain sakral.

“Jenis bebali, wewali dan keling saat ini sudah tidak ditemukan lagi atau mengalami kepunahan, kain-kain itu ada dari Tengenan, Nusa Penida, sebagian besar Bali Mula,” kata Agung Mayun yang juga akademisi Prodi Fashion dari Institut Seni Indonesia Denpasar, saat menjadi Workshop Busana Adat ke Pura, di Taman Budaya, Denpasar, Kamis (12/3/2020) kemarin.

Baca juga : Kain tenun buatan masyarakat adat Badui diminati pasar

Adat Nyangku, upacara membersihkan pusaka

Solaeman Hamzah diterima secara adat oleh masyarakat Lamaholot

Loading...
;

Ia menyebutkan sedangkan di Bali ada 10 jenis kain khas yakni jenis bebali, keling, wali, endek, cepuk, gringsing, songket, prada, cecawangan.

Menurut dia, keberadaan kain Bali sangat erat kaitannya dengan budaya tata cara upacara di Bali. Sedangkan punahnya kain asli Bali akibat budaya masyarakat sendiri seperti penyederhanaan upacara, yang biasanya menggunakan kain-kain sakral, akhirnya ditiadakan.

Penggunaan busana adat ke pura, kata Mayun, sebenarnya tak harus repot dan mahal asal mau belajar dan latihan.

“Bagi yang wanita tidak boleh menggunakan kebaya pendek, harus panjang. Begitupun menggunakan kain, jangan menggunakan kain yang dijahit, itu namanya rok,” Mayun menambahkan.

Ia mengajak publik bali menggunakan busana yang rapi, beretika dan sederhana, tak harus ribet dan mahal. Hal itu kaitanya dengan tren fashion yang dibawa oleh media cenderung trendi, modis dan meniru kalangan selebritis sebagai sumber rujukan berbusana. “Persoalannya, sebagai rujukan dari tren fashion ini tidak cocok diterapkan bagi masyarakat Bali, khususnya sebagai rujukan busana ke pura,” kata Mayun menjelaskan.

Menurut dia, di Bali sudah ada sistem awig-awig atau pakem berbusana sebagai warisan  adat leluhur dirasa yang sudah lengkap, karena sudah mempertimbangkan unsur-unsur estetika dan etika. “Prinsip berbusana adat Bali memenuhi Triangga, Wesa, Nyasa, Purwadaksina dan Prasawiya,” ucapnya. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top