Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

TIKI masih jadi primadona di Merauke

papua, tiki, merauke
Yusuf Inus sedang mengambil barang miliknya yang diserahkan karyawan TIKI Perwakilan Merauke, Frederikus Woru di rumahnya di Jalan Kenanga, Kelurahan Mandala-Merauke – Jubi/Frans L Kobun

 

“Kami sering memesan barang yang dikirim melalui TIKI. Misalnya pakaian, kosmetik dan lain-lain. Dalam dua hari kemudian, barangnya tiba Merauke dan langsung diantar petugas ke rumah.”

 

PERTENGAHAN bulan Juli 2020, Jubi mendatangi Kantor Perwakilan Titipan Kilat (TIKI) yang beralamat di Jalan Parakomando, Kelurahan Mandala, Kabupaten Merauke, Papua. Seorang karyawati yang mengenakan seragam khusus: kaos berkerah dengan logo tulisan TIKI, dengan ramah tengah melayani seorang perempuan.

“Saya [datang karena] ditelpon karyawan TIKI. Ada titipan barang dari keluarga di Makassar, sehingga saya datang [untuk] mengambilnya,” ucap Ana Febriana [21], kepada Jubi.

“Berurusan” dengan TIKI pagi itu, bukanlah kali pertama bagi Ana. Perempuan Sulawesi Selatan yang kini menjadi warga Merauke di Lampu Satu, Kelurahan Samkai, itu telah terbiasa menggunakan jasa [perusahaan] TIKI untuk mengirim barang antar daerah.

“Kami lebih suka TIKI karena barangnya cepat tiba di tangan,” akunya.

Kepercayaan pada TIKI yang berlangsung lama juga dirasakan Yusuf Inus (30). “Memang TIKI sudah menjadi langganan bagi keluarga saat hendak mengirim barang keluar Merauke atau sebaliknya,” ucap pria warga Jalan Kenanga, Kelurahan Mandala-Merauke itu.

Loading...
;

Kecepatan rupanya menjadi alasan kuat bagi pelanggan seperti Ana dan Yusuf. Bahkan, mungkin ratusan orang lainnya di Merauke yang telah menjadi pelanggan setia TIKI dalam pengiriman barang.

“Kami sering memesan barang yang dikirim melalui TIKI. Misalnya pakaian, kosmetik dan barang lainnya. Dalam hitungan dua hari barangnya sudah tiba di Merauke dan langsung diantar petugas ke rumah,” ungkapnya.

Alasan lain TIKI masih menjadi idola dari jasa pengiriman lain bagi Yusuf dan keluarganya adalah dari segi keamanan. “Sejauh ini, tak ada barang tercecer atau hilang. Makanya, sampai sekarang, TIKI masih menjadi langganan tetap keluarga,” ujar Yusuf.

Hanya dua karyawan

Siapa sangka? Sejak TIKI Cabang Merauke berdiri pada 2005, kebanggaan ratusan pengguna jasa pengiriman barang TIKI di Merauke dan kabupaten pemekaran di sekitarnya ternyata bergantung dari kerja keras dua karyawan.

“Saya punya karyawan [hanya] dua orang yang bekerja,” ujar Kepala Perwakilan TIKI Cabang Merauke, Suraedah.

“Satu melayani masyarakat yang mengirim maupun [yang] mengambil barang di kantor. Sedangkan [karyawan] satunya mengantar [barang] ke setiap pelanggan [di Merauke],” Suraedah menjelaskan.

Adalah Frederikus Woru [30]. Pria, orang asli Papua ini telah mengabdi selama empat tahun sejak 2016 dan menjadi orang yang bertanggung jawab memastikan setiap paket tiba di alamat tujuan dengan benar.

Jubi berkesempatan mengikuti perjalanan Woru.

Hari itu, sekitar pukul 11, Woru memulai rutinitasnya. Menggunakan mobil operasional menuju Bandara Mopah, hendak mengantar paket-paket milik pelanggan yang harus dikirim dari Merauke ke daerah lain. Kemudian, siangnya, ia harus mengambil paket dari luar Merauke.

“Biasanya jam 12 siang baru pintu cargo buka untuk kami ambil barang,” jelasnya.

Paket yang telah dijemputnya di Bandara selanjutnya dibawa di kantornya. Selanjutnya disortir antara paket yang harus diantar langsung ke alamat tujuan dan paket yang harus diambil sendiri oleh penerima.

TIKI sendiri telah memiliki batas luasan daerah untuk dijangkau dalam mengantarkan paket kiriman. “Jadi, untuk pengantaran hanya untuk yang alamat yang di dalam kota, tidak untuk penerima dari distrik yang jauh,” jelas Fredrik.

Distrik terjauh di antaranya Kurik, Semangga, Sota, dan Tanah Miring. Maupun kabupaten pemekaran seperti Boven Digoel, Mappi dan Asmat.

“Untuk alamat yang jauh ini nanti kita telepon untuk mereka datang ambil sendiri di alamat kantor TIKI. Kita tidak antarkan karena itu sudah di luar antar batas [LAB],” kata Fredrik.

Kurang dari dua jam, Fredrik telah memisahkan paket yang akan diantarkannya hari itu. Dalam sehari, ia bisa mengantar hingga 60 paket ke setiap alamat.

Motor jadi andalan

Sepeda motor Suzuki Spin yang ditempel beberapa stiker bertuliskan TIKI di bagian samping serta belakang motor, telah terparkir di samping kantornya. Pada dudukan bagian belakang, sebuah tas kain dengan kantong pada kedua sisi telah melintang.

Dengan lincah, Fredrik mulai mengatur paket-paket tersebut. Ukurannya bervariasi; kecil hingga sedang, sesuai ukuran tasnya, yang terlihat lebar.

TIKI masih jadi primadona di Merauke 1 i Papua
Karyawan TIKI Perwakilan Merauke, Frederikus Woru sedang mengisi paket titipan di tas motor untuk diantar ke alamat pelanggan – Jubi/Frans L Kobun

“Biasanya saya menyesuaikan dengan alamat. Artinya paket kiriman paling dekat, saya letakan di bagian atas tas untuk antar terlebih dahulu. Selanjutnya menyisir sejumlah alamat jauh yang masih dalam wilayah Kota Merauke seperti di daerah Mopah Baru, Buti, Kelurahan Samkai, Gudang Arang, Kelurahan Maro dan sejumlah tempat lain,” jelas pria Serui ini, sembari menumpuk paket-paket itu.

Misi untuk mengantar setiap paket pun dimulai.

Sekira 15 menit kemudian, motor Suzuki Spin berhenti di depan sebuah rumah. “Ini [alamat] rumah Pak Yusuf Inus,” kata Frederik.

Tuan rumah-pun keluar. Woru memberikan secarik kertas untuk ditandatangani sebagai bukti tanda terima barang. Perjalanan pun dilanjutkan lagi, hingga semua paket tersampaikan sesuai alamat penerima.

“Keseharian saya seperti begini, mulai [hari] Senin sampai Sabtu. Mengantar barang ke bandara sekaligus mengambil,” ujar Fredrik.

Fredrik mengaku jarang menerima komplain dari pelanggan. Pengantaran barang juga dilakukan lancar selama alamat dan nomor telpon yang dicantumkan benar.

Namun, keluhan pelanggan yang sering diterima adalah terkait keterlambatan barang. Ia pun menjelaskan, keterlambatan itu bukan kesengajaan melainkan keterlambatan maskapai pesawat yang berimbas pada jasa pelayanannya.

“Kami selalu memberikan pemahaman secara baik kalau keterlambatan barang semata-mata lantaran pesawat dan dimaklumi penerima barang,” ungkapnya.

Di tengah pandemi Covid-19, Fredrik dan rekan sekantornya masih bekerja seperti biasa. Pelanggan terus berdatangan hendak mengirimkan barang. Seperti diketahui, Pemerintah Provinsi Papua sempat membatasi penerbangan dari dan keluar Papua dan antar daerah di Papua. Namun, jasa pengiriman barang [cargo] tetap diizinkan beroperasi.

Asal pengiriman paket, kata Frederik, rata-rata berasal dari Jakarta, Makassar, Surabaya serta sejumlah daerah lain di Indonesia. Menyangkut harga pengiriman barang keluar daerah, disesuaikan jarak. Misalnya ke Jakarta Rp 80.000/kg dan ke Jayapura Rp 50.000/kg.

Kala ditanya tantangan terberat dalam menjalankan tugasnya, bapak dua anak ini hanya menjawab, “Saya enjoy saja bekerja. Sejauh ini tidak ada persoalan serius,” ujarnya dengan wajah sumringah. (*)

Editor: Yuliana Lantipo

 

 

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top