HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Tragedi banjir bandang Sentani didokumentasikan dalam buku

Penyerahan buku oleh koordinator penulis buku kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura. -Jubi/Engel Wally
Tragedi banjir bandang Sentani didokumentasikan dalam buku 1 i Papua
Penyerahan buku oleh koordinator penulis buku kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura. -Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Banjir bandang terjadi pada Sabtu malam, 16 Maret 2019 lalu, di Kabupaten Jayapura. Bencana itu mengakibatkan 114 orang meninggal, 205 orang hilang, 961 orang menderita luka berat, 11.725 orang mengungsi, dan kerugian mencapai ratusan miliar rupiah.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura melalui sejumlah jurnalis yang aktif meliput peristiwa banjir bandang ini, mendokumentasikan detail peristiwa itu dalam sebuah buku yang bertajuk “Bencana Sentani 2019”.

Tragedi banjir bandang Sentani didokumentasikan dalam buku 2 i Papua

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jayapura, Hanna Hikoyabi, atas nama pemerintah daerah mengapresiasi upaya para jurnalis yang telah mendokumentasikan, serta mengisahkan semua kejadian tersebut. Mulai dari kejadian banjir bandang, masa recovery, pascabencana, rekonstruksi, hingga pemulihan.

“Buku ini akan menjadi satu bukti yang bersejarah bagi daerah ini, bahwa pernah ada banjir bandang yang terjadi pada 6 Maret 2019. Data demi data, kisah demi kisah, dengan sederet gambar yang dramatis tersaji dengan baik dalam buku ini,” ujar Hanna, di ruang kerjanya, Selasa (10/3/2020).

Menurutnya, dari rangkuman isi buku ini ada banyak hal yang harus diingat, bahwa sangat penting menjaga dan melestarikan alam serta lingkungan.

“Tidak boleh lagi buka kebun di lereng Gunung Siklop [Cycloop], karena sudah jelas dampak yang sudah kita rasakan di waktu lalu, dan itu bisa dikategorikan sebagai pelanggar hak-hak asasi manusia,” tegasnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Infokom) Kabupaten Jayapura, Gustap Griapon, bahwa dari adanya dukumentasi di dalam buku ini, semua orang akan mengenang kisah yang memilukan pada 16 Maret 2019 lalu.

“Ada banyak orang tua kehilangan anak, anak kehilangan orang tua, harta benda hilang, rumah terendam dan tertimbun pasir, bahkan hilang diterjang banjir bandang. Buku ini sangat luar biasa dan nanti pada hari peringatan satu tahun banjir bandang, dapat disitribusikan kepada semua masyarakat, lembaga dan juga pemerintah sebagai kenang-kenangan,” ucapnya.

Secara terpisah, koordinator penulisan buku Bencana Sentani 2019, Paskalis Keagop, mengatakan penulisan buku ini berawal dari rasa keprihatinan terhadap kejadian banjir bandang yang meluluh-lantakkan sebagian isi Kabupaten Jayapura, serta kerusakan secara fisik yang luar biasa.

“Buku ini sebagai catatan kenang-kenangan, tetapi juga peringatan. Karena pada saat banjir bandang, semua berpendapat karena ulah manusia. Oleh sebab itu, setiap orang wajib menjaga lingkungan dan alam sekitarnya dengan baik, agar tidak terulang seperti tahun lalu,” katanya.

Buku Bencana Sentani 2019 ditulis selama lima bulan melibatkan lima jurnalis, Paskalis Keagop (Suara Perempuan Papua), Engel Wally (Koran Jubi dan Jubi.co.id), Allan Youwe (Kabar Papua), Roberth Mboik (Cepos), dan Arull Firmansyah (RRI). Beban biaya penulisan ditanggung sepenuhnya oleh Pemkab Jayapura. Sebanyak 1.000 buku Banjir Sentani 2019 akan diluncurkan pada puncak acara peringatan Satu Tahun Banjir Bandang Sentani. (*)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top