Trauma, korban kriminalisasi Mispo Gwijangge enggan berobat

Papua
Mispo Gwijangge (kanan) bersama relawan Nduga, Raga Kogeya saat ditemui Jubi di Distrik Napua, Kabupaten Jayawijaya pada Senin petang (30/11/2020) - Jubi/Arjuna

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Wamena, Jubi – Korban kriminalisasi, Mispo Gwijangge kini sedang sakit. Ia merasakan sakit di bagian belakang, dada, perut, dan pinggang.

Sakit itu dirasakan Mispo setelah kembali ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, awal Agutus 2020 silam, usai dinyatakan bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kakak perempuan Mispo Gwijangge berinisial DG mengatakan, ia pernah akan membawa adiknya berobat ke rumah sakit di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya akan tetapi Mispo menolak.

Pernyataan itu disampaikan DG, saat Jubi menemui Mispo Gwijangge di rumah kakak lelakinya di Distrik Napua, Kabupaten Jayawijaya pada Senin petang (30/11/2020).

Menurutnya, Mispo Gwijangge masih trauma pascaditangkap pertengahan tahun silam. Ia dituduh terlibat pembunuhan belasan pekerja jalan trans Papua, di Kabupaten Nduga awal Desember 2018.

“Dia tidak mau saya bawa berobat. Dia khawatir ada pihak yang berupaya mencari cari kesalahannya, dan kemudian dia ditangkap lagi,” kata DG.

Selain itu, kakak lelakinya yang kini merawat Mispo juga belum menginzinkan ia dibawa berobat ke rumah sakit.

Loading...
;

Katanya, mereka akan berupaya melakukan pengobatan secara adat (tradisional) terlebih dahulu.

Relawan Nduga, Raga Kogeya mengatakan wajar jika Mispo Gwijangge masih trauma. Pemuda itu pernah ditangkap dan dituduh melakukan kejahatan yang tidak ia lakukan.
Ancaman pidananya pun ketika itu maksimal hukuman mati.

Beruntung majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mengadili kasus Mispo, menolak semua dakwaan jaksa penuntut umum.

Majelis hakim mau mempertimbangkan berbagai kejanggalan yang disampaikan tim kuasa hukum Mispo. Akhirnya, memutus menghentikan penuntutan terhadapnya dan mengeluarkan korban kriminalisasi itu dari tahanan.

“Kami sudah beberapa kali minta kepada keluarga agar mengizinkan kami membawanya berobat ke Jayapura, namun hingga kini pihak keluarga belum memberi keputusan,” kata Raga Kogeya.

Ia berpendapat, Mispo mesti ditangani secara baik. Perlu dilakukan rontgen untuk mengetahui kondisi tubuh bagian dalamnya.
Raga Kogeya mengaku telah berkoordinasi dengan beberapa aktivis kemanusiaan di Jayapura berkaitan dengan kondisi Mispo Gwijangge kini. Mereka menyatakan akan membantu Mispo ketika berobat ke Jayapura.

“Mispo ini kini tidak hanya milik keluarga, tapi milik orang Papua dan semua yang peduli kemanusiaan. Kuat dugaan sakit Mispo ini karena pukulan saat ia ditahan di Wamena,” ujarnya.

Ia menambahkan, kriminalisasi terhadap Mispo Gwijangge sudah menjadi isu internasional.

“Di mana orang masih membicarakan nasib orang Papua, itu tandanya masih ada yang peduli. Tidak melihat apakah dia orang Papua atau bukan,” ucap Raga Kogeya.

Mispo Gwijangge ditangkap di Wemena, Kabupaten Jayawijaya, 12 Mei 2019 silam.

Ia diadili dengan tuduhan terlibat pembunuhan belasan pekerja jalan trans Papua di Kabupaten Nduga, 2 Desember 2018 silam.

Kejaksaan Negeri Jayawijaya mendakwanya lima pasal berlapis, dengan ancaman pidana maksimal hukuman mati. Mispo Gwijangge dipindahkan ke Jakarta untuk menjalani persidangan di sana, Desember 2019 silam.
Akan tetapi majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menolak dakwaan jaksa terhadap Mispo melalui putusan sela pada 8 April 2020.

Majelis hakim menyatakan penuntutan terhadap Mispo harus dihentikan, dan ia dikeluarkan dari tahanan. Satu di antara pertimbangan majelis hakim ketika itu, Mispo masih berada di bawah umur.

Hasil pemeriksaan gigi oleh Tim Kedokteran Gigi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) dan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung membuktikan, usia Mispo saat persidangan berkisar 16 – 18,9 tahun, atau rata-rata 17,5 tahun.

Jika ditarik mundur, ketika pembunuhan pekerja PT Istaka Karya terjadi di Kabupaten Nduga, usianya sekitar 15,5 tahun. Atas putusan itu, jaksa penuntut umum mengajukan banding.

Akan tetapi Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta pusat yang menghentikan penuntutan terhadap Mispo. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top