Follow our news chanel

Previous
Next

Ukiran motif putri duyung suku Sentani, ini kata arkeolog

Ilustrasi arkeolog, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Temuan ukiran motif putri duyung pada tiang rumah Obhee atau rumah adat Suku Sentani membuktikan kehidupan masyarakat Danau Sentani tidak bisa dilepaskan dari laut. Masyarakat setempat sengaja menjadikan motif putri duyung yang identik dengan budaya masyarakat pantai.

“Dugong bukanlah sejenis ikan, tapi tergolong dalam hewan mamalia laut pemakan tumbuhan lamun yang banyak ditemukan di teluk-teluk perairan Pasifik selatan,” ujar Peneliti Balai Arkeologi Papua di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Hari Suroyo, Senin, (28/9/2020)

Baca juga : Balai Arkeologi Papua raih penelitian terbaik nasional 

Penjelasan peneliti tentang hiu Sentani

Jejak hunian prasejarah ditemukan di Kampung Asei

Menurut Hari, motif putri duyung ini diukirkan pada tiang rumah adat, berwarna hitam dan putih, yang digambarkan sebagai perempuan cantik berambut tergerai, dengan bagian bawah berupa ikan berekor. Putri duyung dikenal dalam cerita rakyat digambarkan hidup di lautan, yang secara ilmiah duyung disebut dugong.

Loading...
;

Selain motif putri duyung, Hari kembali menjelaskan, penelitian di obhee Kampung Dondai juga menemukan ukiran ikan hiu gergaji di tiang rumah. “Pada masa lalu, sebelum kehadiran manusia, Danau Sentani adalah laut yang menjadi habitat fauna laut termasuk ikan hiu gergaji,” kata Hari menambahkan.

Menurut arkeolog lulusan Universitas Udayana ini, proses geologi membuat Laut Sentani menjadi sebuah danau air tawar. Ikan hiu gergaji kemudian beradaptasi dengan lingkungan baru, yang terakhir ditangkap di Danau Sentani pada tahun 1970-an.

Ikan hiu gergaji menjadi sumber inspirasi seni oleh manusia prasejarah hingga seni Sentani masa kini. Motif ikan hiu gergaji digoreskan pada bongkahan batu Situs Megalitik Tutari. “Motif ikan hiu juga digoreskan pada tiang rumah obhee, serta juga digambarkan dalam lukisan kulit kayu Asei,”  kata Hari menjelaskan.

Masyarakat Danau Sentani tidak bisa dilepaskan dari laut juga dibuktikan dengan temuan arkeologi berupa cangkang moluska laut Verenidae dan Arcidae di situs prasejarah Yomokho, Kampung Dondai. “Keberadaan cangkang moluska laut membuktikan bahwa manusia prasejarah yang menghuni Situs Yomokho telah melakukan kontak dengan masyarakat pesisir atau dalam beraktivitas mereka hingga pesisir,” katanya.

Tokoh masyarakat Kampung Donday, Daud Wally mengatakan simbul putri duyung pada ukiran itu sesuai dengan cerita rakyat yang dipercaya oleh  masyarakat Sentani bagian barat. Mereka meyakini pada masa lalu leluhur masyarakat Sentani ada yang berasal dari wilayah matahari terbit atau dari Pasifik.

“Ukiran putri duyung berfungsi sebagai pengingat bahwa leluhur masyarakat Sentani berasal dari Pasifik di sebelah timur Sentani,” kata Daud.

Hal itu dibuktikan dengan masyarakat sentani yang saat ini masih menjadikan putri duyung sebagai lambang marga di Danau Sentani bagian barat. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top