HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

ULMWP: Kekerasan rasial di AS mengingatkan kepada kasus rasisme Papua

Obby_Kogoya_Papua_Diinjak
Kepala Obby Kogoya diinjak aparat dalam unjukrasa yang mendukung ULMWP menjadi anggota penuh Melanesian Spearhead Group di Yogyakarta pada 2016. - IST
Obby_Kogoya_Papua_Diinjak
Kepala Obby Kogoya diinjak aparat dalam unjukrasa yang mendukung ULMWP menjadi anggota penuh Melanesian Spearhead Group di Yogyakarta pada 2016. – IST
Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Direktur Eksekutif United Liberation Movement for West Papua atau ULMWP, Markus Haluk menyatakan kasus kekerasan yang dilakukan polisi Minneapolis, Amerika Serikat dan menewaskan pria berkulit hitam bernama George Floyd mengingatkannya kepada berbagai kasus rasisme Papua. Sekalipun menyakitkan, Haluk meyakini bangsa kulit hitam justru akan menjadi guru bagi semua bangsa di dunia untuk memahami kemanusiaan.

Markus Haluk menyatakan sangat heran atas terjadinya penangkapan dan kekerasan yang dilakukan polisi Minneapolis terhadap George Floyd. Dirinya sangat heran kepada negara-negara yang mengaku sangat demokratis, menjunjung hak asasi manusia dan kemanusiaan masih melakukan tindakan rasial kepada warga kulit hitam pada abad 21.

“Ketika menyaksikan video berdurasi 4 menit lebih [yang merekam tindakan polisi Minneapolis] terhadap George Floyd di Amerika Serikat, hati saya tersentak. Batin bergolak [dan ingin] melawan, diselimuti rasa terharu yang mendalam,” kata Haluk kepada jurnalis Jubi di Kota Jayapura, Papua, Minggu (31/5/2020).

ULMWP: Kekerasan rasial di AS mengingatkan kepada kasus rasisme Papua 1 i Papua

Haluk menyatakan video itu membawanya ingatannya kembali kepada nasib ribuan orang Melanesia di West Papua, yang selama 57 tahun dikuasai Indonesia terus mengalami kasus kasus rasial. Ribuan rakyat Papua mengalami kekerasan psikis maupun fisik yang berbasis cara pandang rasialisme aparat di Papua dan stigma separatisme.

Baca juga: Benny Giyai jelaskan perlakuan rasis di berbagai negara, Majelis Hakim terkesan ragu

Haluk menilai berbagai kasus penyiksaan dan pembunuhan terhadap warga sipil Papua, serta pembubaran unjukrasa damai, dilatarbelakangi cara pandang rasial yang merendahkah orang asli Papua.  Ia mencontohkan peristiwa yang dialami mahasiswa Papua , Obby Kogoya pada Juni 2016, saat mengikuti unjukrasa damai di Yogyakarta.

Unjukrasa yang mendukung ULMWP menjadi anggota penuh Melanesian Spearhead Group itu dihadang aparat keamanan, dan kepala Obby Kogoya diinjak aparat. Peristiwa yang dialami Obby Kogoya itu mirip tindakan polisi Minneapolis yang menekan leher George Floyd dengan lutut, yang membuat Floyd kesulitan bernafas dan akhirnya meninggal.

Loading...
;

Haluk menyatakan apa yang dialami orang berkulit hitam di berbagai belahan dunia, dari Amerika Serikat hingga Papua, adalah praktif yang kontradiktif dengan konsep demokrasi dan hak asasi manusia. Aparat keamanan di Amerika Serikat maupun Indonesia melakukan tindakan yang berlawanan dengan prinsip demokrasi maupun penghormatan hak asasi manusia, terutama saat melakukan tindakan terhadap warga negara yang berbeda latar belakang rasialnya.

“Apa yang dialami kami, bangsa Melanesia di West Papua, hingga saat ini adalah praktek ‘labi-lala’ [atau ‘lain di bibir, lain di lapangan]. Atau dalam bahasa gurauan orang Papua, Jakarta latihan lain, main lain, [sehingga] hasil akhirnya selalu lain-lain kepada bangsa Melanesia di West Papua,” kata Haluk.

Haluk juga menyoroti perlakuan terhadap Kepala Biro Politik ULMWP, Bazoka Logo yang diduga terinfeksi virus korona saat dipenjara di Rumah Tahanan Kepolisian Resor Kota (Rutan Polresta) Jayapura. Haluk menyatakan perlakuan terhadap Bazoka Logo menunjukkan aparat keamanan mengabaikan hak hidup dan hak atas kesehatan para tahanan.

Baca juga: Puluhan tahanan Polresta Jayapura positif corona, sejumlah lembaga dinilai lalai

“Ini belum bisa diterima akal sehat, tetapi inilah fakta, bahwa Bazoka Logo telah divonis hakim dan semestinya dipenjara di Lembaga Pemasyarakatan Abepura, tapi ia masih menjalani proses hukum di Polresta Jayapura, hingga akhirnya terdengar kabar dia diduga terinfeksi virus korona,” kata Haluk.

Haluk menyatakan Logo belum tentu terinfeksi virus korona seandainya menjalani hukuman penjara di Lembaga Pemasyarakatan Abepura. “Sistem hukum dan sistem Negara dipakai untuk memperlancar [perlakuan] rasial pada manusia Melanesia. Memang sangat Ironis tetapi itulah fakta,”ungkapnya.

Sekalipun hal itu pahit, kata Haluk, bangsa-bangsa kulit hitam di seluruh dunia tidak akan membenci atau membalas dendam atas perlakuan rasial terhadap mereka. Haluk meyakini bangsa kulit hitam di seluruh dunia akan bersatu untuk mendidik seluruh bangsa di dunia untuk memahami kemanusiaan.

“Suatu saat, bangsa-bangsa kulit hitam akan mengajarkan mereka tentang hukum kasih, perdamaian, dan keadilan dunia. Dari Port Numbay [Kota Jayapura], West Papua, saya menyampaikan turut berduka cita untuk kematian George Floyd di Minneapolis, Amerika Serikat,” ujarnya.

Ketua Dewan Adat Papua versi Kongres Luar Biasa, Dominikus Surabut mengatakan perilaku rasial tidak akan pernah berakhir kalau ada bangsa yang mengaku lebih manusia dari manusia berkulit hitam, dan tidak menyadari bahwa mereka semua manusia sederajat. “Kalau manusia, kan tahu yang harus mereka lakukan terhadap manusia lain,” kata Surabut melalui pesan singkatnya, Minggu (31/5/2020).(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa