Follow our news chanel

Previous
Next

Uni Eropa protes penyebutan Rohingya sebagai Bengali di aplikasi Pemilu Myanmar

Aplikasi tehknologi informasi, pixabay.com

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi Uni Eropa menyatakan protes terkait penggunaan istilah rasis yang menyerang kaum Muslim Rohingya dalam aplikasi telepon seluler yang digunakan Myanmar untuk membantu proses Pemilu. Uni Eropa merupakan penyandang dana pembuatan aplikasi itu dan sudah meminta untuk menghapus kontroversi tersebut.

Aplikasi mVoter2020  bertujuan meningkatkan kesadaran pemilih, memberi label pada dua kandidat etnis Rohingnya dengan sebutan ‘Bengali’. Istilah ini memberi implikasi bahwa mereka adalah imigran dari Bangladesh dan ditolak oleh banyak orang Rohingya.

Setelah tim kampanye Justice for Myanmar mengatakan bahwa aplikasi tersebut berisiko mengobarkan nasionalisme, situs website tempat mengunduh aplikasi langsung offline. Namun para pemilik aplikasi masih bisa mengakses data-data kandidat menggunakan aplikasi tersebut.

Baca juga : Ini sikap Bangladesh tentang Rohingya di sidang PBB

Pengungsi Rohingya pilih mati jika kembali ke Myanmar

PBB sebut kondisi pengungsi Rohingya nyaris tak ada harapan

Loading...
;

Pierre Michel, penasihat diplomasi publik untuk misi Uni Eropa di Myanmar, mengatakan bahwa Uni Eropa sudah sangat menganjurkan penghapusan data-data kontroversial yang menyebabkan diskriminasi.

Aplikasi ini dikembangkan oleh Komisi Pemilihan Umum Myanmar, didukung oleh STEP Democracy, dan didanai oleh Uni Eropa. Proyek ini dilaksanakan di Myanmar oleh Institut Internasional untuk Demokrasi dan Bantuan Pemilu (International IDEA), dan Asia Foundation yang berbasis di Amerika.

Namun para penyedia dana berusaha untuk menjauhkan diri dari aplikasi. Mereka justru menyuruh Komisi Pemilihan Umum Myanmar untuk bertanggung jawab penuh atas kontennya, serta menghapus rincian keterlibatan penyedia dana.

Seorang kandidat Rohingya yang terdaftar sebagai “Bengali” di aplikasi didiskualifikasi dari pencalonan pada hari Jumat setelah komisi itu mengatakan telah menemukan orang tuanya bukan warga negara. Masih belum jelas apakah keputusan itu terkait dengan aplikasi.

Namun Marcus Brand, direktur negara International IDEA, mengatakan organisasi tersebut menyesali para kandidat yang menjadi sasaran, dilecehkan atau diserang karena etnis atau afiliasi agama mereka. Namun ia juga mengatakan bahwa deklarasi etnis dan agama merupakan bagian penting dari proses pemilihan Myanmar. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top