HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Unjuk rasa kecam rasisme, cara memenjarakan aktivis Papua

Ilustrasi persidangan salah satu Tapol Papua di Kaltim beberapa waktu lalu - Jubi. Dok
Papua No. 1 News Portal | Jubi

 

Makassar, Jubi – Penasihat Hukum atau PH tujuh tahanan politik (Tapol) Papua di Balikpapan, Kalimantan Timur menyatakan demonstrasi mengecam ujaran rasisme di Kota Jayapura pada Agustus 2019 lalu, merupakan salah satu cara yang dipakai pihak-pihak tertentu untuk memenjarakan para aktivis Papua.

Pernyataan itu disampaikan Emanuel Gobay, satu di antara penasihat hukum para terdakwa kepada Jubi melalui panggilan teleponnya, Selasa (2/6/2020).

Unjuk rasa kecam rasisme, cara memenjarakan aktivis Papua 1 i Papua

Menurut Emanuel Gobay, patut diduga tujuh Tapol itu telah menjadi target sejak awal. Unjuk rasa mengecam ujaran rasisme di Kota Jayapura yang meluas  menjadi rusuh pada 29 Agustus 2020, dijadikan pintu masuk atau cara memenjarakan para aktivis United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Buchtar Tabuni, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Aliansi Mahasis Papua (AMP).

Katanya, sejak awal penanganan kasus pasal makar dan beberapa pasal lain yang didakwakan dilarang para kliennya, terkesan dipaksakan.

Selain itu, tuntutan lima tahun penjara dan 17 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap dua terdakwa, yakni Irwanus Uropmabin dan Buchtar Tabuni tidak sesuai fakta persidangan.

“Kalau bicara tentang target, itu jelas mulai terlihat saat Tito Karnavian menjadi Kapolri. Dia menyebutkan KNPB, ULMWP dan AMP merupakan aktor dibalik demonstrasi menolak ujaran rasisme di Papua. Nah, ada di antara tujuh tapol ini yang secara organisasi terkait dengan KNPB, ULMWP dan AMP,” kata Emanuel Gobay.

Loading...
;

Katanya, dalam penanganan perkara para Tapol itu, kepolisian dan kejaksaan menyalahgunakan pasal makar. Misalnya JPU yang dalam tuntutannya tidak berdasarkan fakta persidangan.

“Sangat memalukan dalam konteks institusi lembaga tinggi Yudisial apabila nanti putusan [majelis hakim Pengadilan nantinya] justru menguatkan tuntutan JPU,” ujarnya.

Emanuel Gobay mengatakan, jika nanti majelis hakim memutus perkara tersebut sesuai tuntutan JPU yang tak tidak mendasar, itu menandakan praktek pasal makar terhadap orang asli Papua terjadi secara sistematik.

“Mulai dari pengadilan, jaksa hingga kepolisian dan kami khawatir ke depan ini akan terus terjadi,” ucapnya.

Terkait tuntutan lima tahun penjara dan 17 tahun penjara terhadap terdakwa Irwanus Uropmabin dan Buchtar Tabuni, PH menyatakan akan melakukan pembelaan atau pledoi berdasarkan keterangan saksi ahli, saksi fakta dab terdakwa sendiri.

“[Tuntutan dan dakwaan JPU] ini tidak ada indikasi sama sekali yang mengarah pada dugaan tuduhan kepada terdakwa. Pasal makar yang dituduhkan dan undang-undang lain tidak terbukti dalam persidangan. Dakwaannya dipaksakan dan dibuat-buat. Kami akan meminta sesuai fakta karena semua yang dituduhkan tidak terbukti,” katanya.

Sementara itu, anggota komisi bidang pemerintahan, politik, hukum dan HAM DPR Papua, Laurenzus Kadepa menilai tuntutan 17 tahun penjara terhadap Buchtar Tabuni dan lima tahun penjara untuk Irwanus Uropmabin tidak adil.

“Kalau begini, Jaksa sangat berlebihan. Saya minta JPU segera menarik atau mempertimbangkan tuntutan yang sangat tidak masuk akal,” kata Kadepa.

Menurutnya, pelaku ujaran rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur pada 16 Agustus lalu, hanya divonis lima bulan penjara.

Padahal katanya, ujaran rasisme di Surabaya itulah yang menyebabkan ribuan masyarakat menggelar unjuk rasa di berbagai daerah di Papua dan Papua Barat mengecam ujaran rasisme.

“Pelaku ujaran rasisme di Surabaya hanya divonis lima bulan penjara, sedangkan korban rasisme Papua dituntut lima tahun dan 17 tahun penjara oleh JPU dari Kejaksaan Tinggi Papua,” ucapnya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa