Follow our news chanel

Previous
Next

Untuk Papua yang bebas dan setara, suara perempuan Papua dalam kolaborasi “Tonawi Mana”

Seni Rupa Papua
“Haruskah bertopeng selamanya”? karya Blandina Yeimo dalam pameran seni rupa “Tonawi Mana” yang digelar oleh kelompok Udeido – Jubi/dokumen Udeido

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Bagian kedua (selesai)

Tonawi Mana, para tetua (suku) Mee ini adalah para bijaksana yang selalu bersuara bila terjadi sebuah pertikaian atau ketidakadilan. Mereka mampu mengetuk hati para pendengarnya serta memancing keluar semua suara-suara yang terbenam dan tak kuasa dikeluarkan pemiliknya atau setidaknya berbicara mewakili mereka. Bagi para Tonawi ini, kedamaian dapat diwujudkan dengan menyampaikan semua suara-suara yang tersimpan itu.

Suara seniman perempuan Papua diwakili oleh tiga pelukis muda perempuan asal Paniai, Deiyai dan Teluk Wondama: Blandina Yeimo, Betty Adii dan Ina Wossiry. Ketiganya adalah seniman lukis otodidak yang terlibat pada pameran daring kelompok seni rupa Udeido yang bertema ‘Tonawi Mana’, bersama para seniman Papua dan non Papua.

Pameran seni rupa itu menampilkan bermacam lukisan terkait Papua yang mengilustrasikan kekerasan, ketidakadilan, marginalisasi, eksploitasi alam, kematian, pembungkaman, dan kerinduan akan kebebasan. Ketiga pelukis muda perempuan Papua ini pun seperti menyampaikan pesan serupa yang mengiris kalbu: diskriminasi dan kekerasan terpaksa diterima sebagai bagian pahitnya kenyataan hidup sehari-hari. Sejumlah 36 karya seni visual oleh 21 seniman itu bisa disaksikan di situs udeido.com.

Topeng

Blandia Yeimo menyumbang karya lukisannya yang berjudul ‘Haruskah bertopeng selamanya?’. Karya itu berbicara lugas kepada yang menyaksikan, seakan berkata: ada senyuman yang terpaksa dibalik duka di wajah orang asli Papua. Duka ini diilustrasikan jelas lewat air mata dan guratan bekas cakaran tangan pada wajah yang ditutupi topeng yang tersenyum.

“Karya ini sesuai dengan gambaran yang muncul di pikiran saya saat itu. Inspirasinya dari kisah saya sendiri, (khususnya) karena saya berada di luar Papua . Dan saya tahu teman-teman yang lain juga kadang mengalami hal yang sama terkait rasisme,” demikian Blandina Yeimo bercerita kepada Jubi perihal karyanya lewat perbincangan daring akhir Juli lalu.

Loading...
;

Baca juga: Untuk Papua yang bebas dan setara, “Tonawi Mana” dalam kolaborasi seni rupa 

‘Haruskah Bertopeng Selamanya’ khusus ia buat untuk pameran Udeido. Menurut Yeimo judul lukisannya itu adalah ilustrasi dari sikap yang ia ambil dalam menghadapi perlakuan rasisme sehari-hari di kota Malang tempat ia menempuh kuliah Arsitektur.

“Contoh sederhananya ya di kampus, atau di lingkungan sekitar tempat saya tinggal.  Sering ada orang yang membuat candaan-candaan untuk menyinggung perbedaan saya. Dan sikap saya hanya bisa senyum, padahal di hati saya waktu kata seperti dilontarkan itu pastinya sakit. Tapi saya lebih memilih diam dan tersenyum,” ujar perempuan asal Paniai itu.

Tatimasi Piaum

Seni Rupa Papua
‘Tatimasi Piaum‘ karya Ina Wossiry dalam pameran seni rupa “Tonawi Mana” yang digelar oleh kelompok Udeido – Jubi/dokumen Udeido

Tak ada senyum dalam Tatimasi Piaum karya Ina Wossiry. Lukisan hitam putih itu menggambarkan kegetiran, kalau bukan gambaran kengerian. Mayat-mayat bergelimpangan bersama ternak, hewan peliharaan dan pohon-pohon yang ditebangi. Tak bersisa kecuali satu pohon yang jauh di kaki gunung.

“Tatimasi Piaum itu dari bahasa Wondama tempat asal keluarga saya, artinya ‘Kita ini semacam binatang/peliharaan’”, katanya kepada Jubi. Judul itu dia pilih karena teringat judul buku mantan tahanan politik Papua Filep Karma “Seakan Kitorang Setengah Binatang”.

Wossiry yang juga aktif menjadi pengurus dalam kelompok seni rupa Udeido ini membuat karyanya khusus untuk pameran tersebut. “Karya ini terinspirasi dari gerakan Black Lives Matter. Kemudian saya kaitkan dengan kondisi yang hampir sama terjadi di Papua. Perlakuan rasisme terhadap OAP seperti  kasus Obby Kogoya di Jogja, dan kasus Asrama Kamasan di Surabaya, [juga kasus kekerasan] seperti Wasior berdarah, [dan] eksploitasi besar-besaran sumber daya alam di Papua,” kata Wossiry.

Melihat lukisan Wossiry kita bagai dibawa ke peristiwa Wasior berdarah 13 Juni 2003. Kasus kematian akibat penyisiran (bahkan laporan KONTRAS menyebut sebagai penyerbuan) terhadap masyarakat Wasior oleh aparat gabungan TNI/Polri pasca kematian lima orang anggota Brimob yang bertugas menjaga Logpond CV Vatika Papuana Perkasa di Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama.

Mama

Seni Rupa Papua
‘Perjuanganmu menumbuhkanku’ karya Betty Adii dalam pameran seni rupa “Tonawi Mana” yang digelar oleh kelompok Udeido – Jubi/dokumen Udeido

Perjuangan Mama mama Papua membesarkan anak-anaknya, anak-anak yang kemudian dipaksa berakhir diujung moncong senapan, menjadi perhatian Betty Adii. Melalui “Perjuanganmu menumbuhkanku”, karya lukisnya itu mengambil inspirasi dari beberapa kasus penembakan yang baru terjadi di Papua. “Insipirasinya muncul sebagai respon saya terhadap beberapa kasus penembakan yang terjadi baru-baru ini terhadap beberapa anak di Timika, Nduga dan Paniai,” ungkap Adii kepada Jubi.

Betty Adii menyoroti kondisi keluarga korban terutama para Mama yang menuntut keadilan bagi anak-anaknya,” hal ini membuat saya terdorong untuk memvisualisasikan perjuangan Mama mama ini (untuk anak-anaknya) sehingga terciptalah karya,” kata perempuan asal Deiyai yang sedang menempuh pendidikan Bahasa Inggris di Yogyakarta ini.

‘Perjuanganmu menumbuhkanku’ adalah lukisan yang hidup, penuh warna. Sosok Mama yang dilukis Adii tampak kokoh dengan sorot mata yang sangat tajam namun seperti berkaca-kaca. Dari mata perempuan itu kita bisa langsung melihat sorot luka, ditambah ilustrasi kepala tengkorak kecil yang keluar seperti nafas dari mulutnya. Sekilas sosok perempuan kokoh ini mirip dalam lukisan “self-portrait” Frida Kahlo, pelukis terkenal asal Mexico.

Suara “ketonawian” pelukis perempuan Papua

Suara-suara Blandina Yeimo, Ina Wossiry dan Betty Adi dalam karya mereka, dan karya para seniman lainnya, seakan ingin menegaskan bahwa Tonawi Mana bukan “milik” lelaki saja. Berakar kepada kebudayaan dan tradisi Suku Mee, peran Tonawi sebagai ‘pelantang bagi yang tak mampu bersuara’ secara tradisional diidentikkan dengan laki-laki.

Kini, perempuan suku Mee seperti Blandina Yeimo dan Betty Adii menjelaskan perihal keikutsertaan seniman perempuan dalam pameran seni rupa bertajuk “Tonawi Mana”. “Memang dulu anggapan orang Tonawi Mana ini hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Tapi ini kan ada dua kata: Tonawi dan Mana. Menurut saya hal ini juga bisa berlaku pada zamannya. Kalau perempuan tidak bisa dipanggil Tonawi, yang penting mereka masih punya Mana atau hak untuk bersuara. Di zaman sekarang ini, siapa saja boleh bersuara,” kata Blandina Yeimo.

Sementara Betty Adii, yang memang meniatkan karya-karyanya untuk menyuarakan isu perempuan dalam memperjuangkan haknya, menegaskan bahwa para tetua bijaksana “Tonawi Mana” itu juga lahir dari rahim perempuan.

Baca juga: Ditulis 9 tahun, buku sejarah Mambesak bisa menjadi cikal bakal Mambesakologi

“Kembali lagi pada pesan yang ingin saya sampaikan dalam pameran kali ini. Bukankah para tetua bijaksana ini juga lahir dari rahim seorang perempuan? Maka dari itu, saya ikut serta dalam pameran kali ini karena saya merasa bahwa perempuan juga memegang andil besar dalam memperjuangkan haknya melawan ketidakadilan,” tegasnya.

Tema pameran ‘Tonawi Mana’ diambil dari gagasan Andreas Takimai, seniman lukis anggota kelompok Udeido yang juga berasal dari suku Mee. Dari hasil diskusi bersama sesama rekan di Udeido perihal ide tema yang menyangkut ‘sosok orang bijak’,  Takimai yang kebetulan juga sedang mendalami perihal Tonawi, jadi terdorong untuk mengusulkan tema itu, sekaligus melihat kembali makna yang tersingkap di dalam kata ‘tonawi’ itu.

“Pertama, saya ingin membuat garis batas dulu, bahwa apa yang saya ungkapkan adalah hasil dari perenungan dari yang saya pelajari selama ini. Dan pendapat ini [mungkin] akan bertolak belakang dengan wacana yang beredar di dalam kehidupan suku Mee. Apalagi bila dihubungkan dengan pemahaman umum bahwa orang bijak itu (Tonawi) dianggap “selalu” patriarkis. [Padahal] Tonawi pun disematkan kepada laki-laki yang memiliki kewibawaan dengan kemampuan tertentu,” ungkap Takimai kepada Jubi Senin (4/8/2020) lalu.

Menurut Takimai kata Tonawi adalah kata yang bersifat ekuivokasi, yaitu satu kata yang memiliki banyak arti. “Pertama, diartikan sebagai bijak, kedua, dapat diartikan sebagai [orang yang punya] kemampuan lebih, dan [ketiga] juga diartikan sebagai seseorang yang memiliki banyak kekayaan,” kata dia.

Baca juga: Papuan Voices gelar Festival Film Mini tentang masyarakat adat dan SDA Papua

Dalam hal tema pameran tersebut, Takimai mengaku ingin mendudukkan Tonawi pada makna orang-orang yang memiliki kemampuan lebih. “Saya melihat rekan perupa perempuan juga memiliki itu. Kemampuan merealisasikan kegelisahan hati mereka melalui goresan tangan, yakni lukisan. Mereka memiliki kemampuan yang tidak biasanya dari orang-orang pada umumnya. Disinilah letak [makna] tonawinya,” tegas Takimai.

Bagi Andreas Takimai pameran ini sangat penting karena pesan “Tonawi” sebetulnya sangat luas melampaui batas-batas perbedaan tanpa pandang bulu. “Semua seniman yang terlibat ikut merasakan tangisan orang Papua sebagai sesame, melalui potensi ketonawiyannya. Entah laki-laki maupun perempuan, hitam maupun putih semuanya terlibat di sana. Semua yang menyadari pentingnya kemanusiaan ada di dalam pameran ini,” ujarnya.

Pameran “Tonawi Mana” sudah berlangsung dari 15 Juli hingga 17 Agustus 2020. Ada 36 karya seni rupa oleh 21 seniman, yaitu: Betty Adii, Blandina Yeimo, Ina Wossiry, Ignatius Dicky Takndare, Nelson Natkime, Yanto Gombo,Whens Tebai, Michael Yan Devis, Moelyono, Syam Terrajana, Albertus Vembriyanto, Andreas Wahjoe, Bayu Widodo, Ervancehavefun, Fitri DK, Taring Padi, Ipeh Nur, Pikonane, Prihatmoko Moki, Setu Legi, Ucup Baik, dan satu karya visual puisi dari sastrawan Papua Alex Giay.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top