Untung lumayan dari berjualan madu

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

BOTOL sirup dan minuman berenergi berderet rapi. Isinya memang sudah tidak sama lagi dengan semula, tetapi khasiatnya boleh dicoba. 

Tidak jauh dari situ, Rofina Pekay duduk menunggui dagangannya. Dia sekaligus pemilik belasan botol berisikan madu, tersebut. Produk itu diperolehnya dari Wamena di Jayawijaya.

“Berjualan madu sangat menjanjikan. Hampir setiap hari ada yang membeli,” kata Pekay kepada Jubi, Sabtu (19/1/2019).

Pekay mematok harga Rp 50 ribu untuk sebotol kecil madu, dan Rp 250 ribu untuk sebotol besar. Pesanan untuk dagangan itu didatangkan sebulan sekali. Pekay memesan dengan kenalan, dan dibayar tunai setelah barang tiba di tangan.

“Agak mahal. Saya sekali pesan hanya mampu sebanyak 10 liter dengan harga Rp 2 juta,” ujarnya. 

Perempuan Papua, ini hanya sepekan sekali berjualan di Pasar Wamanggu. Kesehariannya dia lebih disibukkan sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten Merauke. Lantaran itu, dia banyak memercayakan kepada orang lain untuk menunggui dagangannya.

Loading...
;

“Saya hanya bisa menjaga jualan pada Sabtu karena tidak ada kegiatan di kantor (libur), sedangkan Senin-Jumat, ada yang saya percayakan menjaganya,” lanjut Pekay.

Tidak mudah bagi Pekay saat merintis bisnis penjualan madu. Dia mengaku pernah beberapa kali merugi lantaran ditipu penjual. Uang pemesanan madu sudah dilunasi, tetapi barang tidak kunjung datang. Itu sebabnya, dia memilih cara transaksi tunai dengan melunasi pesanan ketika sudah sampai di Merauke.

“Banyak kali telah ditipu, dan uang saya dibawa pergi sehingga sekarang menggunakan cara lain (bayar di tempat).”

Setelah pesanan tiba dan dilunasi, Pekay memindahkannya dalam beberapa wadah berupa botol sirup dan minuman berenergi. Pembeli madunya ialah masyarakat setempat hingga pengunjung dari luar Papua. Dia berkeinginan mengembangkan usaha dengan meningkatkan pemesanan, tetapi terbentur modal.

“Keuntungannya tidak seberapa, tetapi saya tetap pesan rutin sebulan sekali,” ujar Pekay.

Cangkang telur kasuari

Pekay menggelar madu bersama dagangan lain, seperti mainan, sayur hingga noken dan cangkang telur kasuari. Cangkang didatangkan dari Papua Nugini (PNG). Pembeli menggunakan cangkang tersebut sebagai bahan untuk suvenir. Mereka menghiasinya dengan lukisan bermotif khas Papua.

“Kadang saya titip uang (untuk membeli cangkang telur kasuari) ketika ada orang Indonesia akan ke PNG,” kata Pekay.

Sebentuk cangkang dibelinya seharga Rp 80 ribu, dan dijual kembali seharga Rp 150 ribu. Pekay bisa memesan hingga sebanyak 20 cangkang. Pasokan cangkang kadang baru diperoleh sebulan setelah pemesan karena harus dicari di hutan.  

“Cangkang telur kasuari awet, dan tak mudah rusak meskipun lama disimpan,” kata Pekay.

Seorang pedagang mengaku kagum dengan ketekunan Pekay dalam berbisnis. Kalau dia mau, tidak perlu bersusah-payah berjualan di pasar karena sudah memiliki pendapatan tetap setiap bulan sebagai ASN.

“Gajinya pasti sudah cukup memenuhi kebutuhan hidup setiap hari, tetapi dia masih menyempatkan waktu untuk berjualan,” kata Kasmawati. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top