Usaha depot air di Jayapura bisa menjual 5.000 liter air per hari

jayapura
Usaha depot air di Waena, Jayapura, Papua. -Jubi/Theo Kelen.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pengusaha depot air di Jayapura, Papua berhasil menjual 5.000 liter air dalam sehari. Syamsul, pengusaha itu, mengaku tertarik membuka usaha depot air karena air kebutuhan primer masyarakat.

“Sehingga prospek bisnisnya sangat bagus,” katanya kepada Jubi, Jumat (08/01/2021).

Menurut Syamsul, peluang bisnis air galon ke depan tetap bagus, karena setiap orang selalu membutuhkan air minum.

Keuntungan lain berbisnis air mineral, kata Syamsul, dengan modal air per hari 1 tangki berkapasitas 5.000 liter, ia juga bisa menjual 5.000 liter. Artinya modal air 10 liter juga dapat 10 liter.

Hal itu berbeda dari air oxy yang juga ia jual. Air oxy dengan modal 10 liter, setelah diolah hanya bisa mendapatkan 4 liter.

BACA JUGA: BBPOM di Jayapura rutin uji mutu air minum kemasan dan isi ulang

Loading...
;

Syamsul memulai usaha depot air enam tahun lalu. Sebelumnya ia sudah melakukan berbagai usaha. Ia pernah berjualan bahan bangunan, sembako, dan terakhir berjualan pakan ternak. Namun kemudian ia hentikan karena menurutnya persaingan semakin ketat dan kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan.

“Saya ini wirausahawan, jadi usaha banyak, tapi semua sudah berhenti, terakhir sebelum bisnis depot air berjualan makanan ayam, saya kena asma, jadi saya beralih ke air karena air kan steril,” ujarnya.

Ia membuka bisnis depot air pada 2015 dengan modal Rp175 juta. Dana Rp100 juta digunakan untuk menyewa tempat selama tiga tahun. Kemudian Rp75 juta untuk membeli mesin dan tangki penampungkan air.

Ia menjual air mineral seharga Rp7 ribu dan air oxy Rp12 ribu. Harga tersebut sudah termasuk ongkos jemput dan antar. Dari situ ia memperoleh penghasilan per hari Rp1 juta hingga Rp1,2 juta.

“Di sini kebanyakan antar, yang kami layani daerah Perumnas 1, Perumnas 2, dan kompleks Korem di Jayapura, paling laku itu air mineral karena harganya terjangkau dan mungkin mereka cocok dengan air mineral, kalau oxy rasanya agak pahit, tapi kalau sudah terbiasa tidak masalah,” ujarnya.

Usaha depot air Syamsul memakai air PDAM dan air Cycloop di Jayapura yang dibelinya dengan harga Rp300 ribu untuk kapasitas 6.000 liter.

Syamsul berharap Pemerintah Kota Jayapura memberikan dukungan bantuan modal untuk memperluas usahanya.

“Kami pengusaha rata-rata kekurangan modal, kalau bisa pemerintah kasih modal untuk perluas usaha kita karena usaha air ini tiap minggu kan ganti saringan,” ujarnya.

Pengusaha depot lainnya, Diah Afitri menjual air mineral dengan harga Rp5 ribu per galon dan sehari berhasil menjual 2.000 liter air.

“Saya jual air mineral saja karena saya belum bisa beli alat oxy yang sekitar Rp20 juta, saya kalau ada rejeki mau oxy, walaupun harganya Rp10 ribu separuh dari ini, tapi kualitasnya bagus, orang lebih banyak mencari itu,” ujarnya.

Diah tertarik membuka usaha depot air sehingga berani memulai dengan modal kredit di bank. Ia mengeluarkan modal awal untuk membuka usaha sebesar Rp50 juta.

“Saya tertarik karena air selalu dibutuhkan dan pasti, walaupun namanya rejeki itu hasilnya nggak selalu sama, air minum ini kebutuhan pokoklah dan saya tertariknya di situ,” ujarnya.

Dia mengatakan pendapatan tidak menentu karena masih dalam masa Covid-19. Usaha yang dijalankan Diah memakai air PDAM dan air Cycloop di Jayapura yang dibeli dengan harga Rp227.500 ribu untuk kapasitas 5.200 liter.

“Dulu rata-rata Rp700 ribu sehari, kadang pernah sampai Rp1 juta, tapi sekarang Rp500 ribu, kadang Rp400 ribu, kalau air PDAM tidak mengalir kita bisa tiga kali beli air dalam seminggu,” ujarnya.

Zakarias Banangga, pelanggan yang tinggal di Abepura, Kota Jayapura membeli tiga galon air mineral dalam seminggu.

“Kita kalau ada uang baru beli oxy, tapi paling sering itu air mineral, saya kalau sendiri seminggu tiga kali beli, tapi teman-teman sering datang bisa empat kali beli,” katanya.

Terkadang Zakarias mengkonsumsi air sumur karena tak memiliki uang untuk membeli air mineral. Ia tak merasa khawatir meminum air sumur karena dimasak terlebih dahulu.

“Paling tanggal tualah di atas tanggal 20 kita sudah tidak punya apa-apa, terus belum ada kiriman dari orangtua, ya kita minum air sumur,” ujar mahasiswa asal Merauke tersebut. (Theo Kelen)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top